Tampilkan postingan dengan label catatan sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan sepakbola. Tampilkan semua postingan

Logika Teror, Logika Bola

14 Agustus 2009 | Label: | 0 komentar |

Oleh A.A. Ariwibowo

"JANGAN biarkan dia hidup. Bunuh dan bunuh!", demikian teriakan membahana di atmosfer bola dari para pendukung satu kesebelasan untuk menghabisi dan menamatkan riwayat musuh bebuyutannya.

Bunuh satu orang, dan buatlah seribu orang ketakutan. Ini logika teror, karena di sana termuat momen kematian dan kekerasan.

Daulat membunuh lawan - dalam sepak bola - tampil sebagai pengejawantahan perang. Dideskripsikan bahwa sebelas orang bersenjatakan pedang plus tameng digambarkan sebagai skuad petarung. Lawan menghadang, bayarannya kontan, "Serang dan serang. Lesakkan bola ke gawang lawan".

Darah sebelas orang tersirap, masing-masing kesebelasan siap saling beradu kuat. Ini logika bola, tersimpan momen "survival". Menurut filsuf Elias Canetti, bentuk paling rendah dari "survival" adalah membunuh.

Baik logika teror maupun logika teror merujuk kepada pedagogi perang yang berbunyi, jangan melihat musuh sebagai musuh pribadi melainkan musuh kolektif. Ada defisit jiwa dari manusia-manusia nihilistis baik dalam logika teror maupun dalam logika bola. Ada momen konfrontasi.

Teror membalut ledakan bom di Hotel JW Marrriott dan Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat pagi (17/7). Manchester United membatalkan jadwal turnya untuk bertemu dan berlaga dengan tim Indonesia All-Star di Jakarta, yang diagendakan berlangsung Senin (20/7).

Pecinta sepak bola Indonesia menelan pil kekecewaan. Terbentang tiga kata, "Selamat Tinggal Jakarta", seperti dikutip dari sebuah harian nasional. Logika teror, logika bola. 

Rencananya, Wayne Rooney dan kawan-kawan akan menginap di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, setelah menyelesaikan laga di Kuala Lumpur, Malaysia. Di Jakarta, bom meledak. Di Kuala Lumpur, Manajer Setan Merah Alex Ferguson menggelar jumpa pers. "Mengejutkan bagi kami semua. Kami baru menerima berita itu saat kami mendarat (di Kuala Lumpur)," katanya. Ujung-ujungnya, MU membatalkan kunjungan ke Jakarta.

Sebuah gambar melukiskan kekecewaan manajer asal Skotlandia itu. Satu tangannya menyangga kepala dan menutup mata. Warta tubuh yang melukiskan kekecewaan. Malang tak kuasa ditolak, duka tak kuasa direnggut. Perwakilan Pro Events di Indonesia, John Merritt menambahkan, manajemen MU membatalkan laga di Indonesia, karena alasan keamanan.

Setali tiga uang, CEO United, David Gill menyebutkan, "Keputusan sudah dibuat tim dan itu sudah mempertimbangkan banyak hal, terutama keselamatan pemain dan tim keseluruhan." Ketika menjawab logika teror, Ferguson dan Merritt bersama Gill, sama-sama memberi makna humaniora.

Dalam buku berjudul Memahami Negativitas, Diskursus tentang Massa, Teror dan Trauma, staf pengajar STF Drijarkara, F. Budi Hardiman menulis, kekerasan adalah penegasan-apa adanya, sementara rasionalitas adalah penegasan-diri dengan jalan putar. Diibaratkan bahwa seekor anjing yang jinak adalah nista dan rendah di hadapan anjing-anjing liar di rimba raya.

Logika teror merayakan kematian. Logika bola menziarahi kehidupan. Logika teror melahirkan manusia nihilistis, karena memeluk ketiadaan dan kehampaan. Logika bola memanggungkan manusia yang menghidupi pengharapan.

Baik logika teror maupun logika bola memandang Dunia menjadi tidak ramah (unheimlich). Meski dalam kematian (logika teror) dan dalam kekalahan (logika bola), manusia mendapati dirinya sunyi. Kebebasan manusia menjadi kebebasan menuju kematian (Freiheit-zum-Tode).

Logika bola, dapat diterjemahkan" dalam kehidupan remaja sebagai kesediaan mendengarkan sesama remaja yang sedang merasakan kesunyian. Warta romantisnya: Ketika dirimu sedang mengalami sakit hati, jangan coba menyembunyikannya.

Sebaliknya, gunakan kesempatan untuk mencurahkan perasaanmu kepada orang lain. Berada bersama orang lain ketika sedang menderita kerapkali dapat menghibur diri dan menyehatkan gizi jiwa.

Logika teror, memilih jalan bunuh diri sebagai akhir dari pengharapan. Menurut sosiolog Emile Durkheim, bunuh diri anomik menyeret seseorang kepada pandangan hidup yang seolah-olah kosong.

Padahal, ziarah hidup gegap gempita dengan keriangan dan kecerahan seperti matahari yang terbit dari Timur dan terbenam dari Barat. Sementara, bunuh diri egoistik menyeret individu ke dalam jurang kesepian yang menekan.

Logika remaja, mengamini kredo bahwa jangan bersedia menjadi korban rasa bete orang lain. Remaja yang merasa bete cenderung bersikap negatif, cepat bereaksi dan suka bertengkar. Rasa bete memunculkan sikap sinis, mengucapkan hal-hal menyakitkan dan menyalahkan orang lain.

Logika teror, logika bola dan logika remaja mengerucut kepada satu hukum manusia, "suasana hati yang buruk menipu hati kita semua. Begitu mengenali kekuatan suasana hati yang menipu itu, maka diri ini bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Semua orang bersikap aneh ketika suasana hatinya sedang buruk".

Ketiga logika itu menunjuk kepada "sang survivor". Nah, dalam buku Leviathan, filsuf Thomas Hobbes menulis bahwa setiap orang adalah pelaku potensial sekaligus korban potensial dari sebuah kekerasan. (antara)
Read More...

Mencontreng Utopia dalam Liga Champions

09 April 2009 | Label: | 0 komentar |

Oleh A.A. Ariwibowo

KETIKA
"jalan buntu" (impasse) menerobos leg pertama perempat final Liga Champions, empat klub saling beradu dan saling berbagi skor. FC Porto mengirim sinyal bahaya kepada Manchester United dengan berbagi skor 2-2, sedangkan Arsenal membuka tabir optimisme setelah melakoni laga imbang 1-1 menghadapi Villareal.

Mereka mencontreng di bilik kepastian dan ketidakpastian yang membalut utopia. Yang tersisa upaya menyalip di tikungan dengan menyusun arsitektur kepercayaan diri untuk menapaki laga selanjutnya. Keempatnya telah menyita bahagia bercampur kecewa saat merajut ketekunan berlatih dan kesungguhan bertanding di setiap laga.

MU, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal yang kini memuncaki klasemen Liga Inggris mendapat amuk dari dua klub Liga Spanyol (Barcelona dan Villareal), satu dari Liga Portugal (FC Porto) dan satu dari Liga Jerman (Bayern Munich). Klub-klub itu bersenandung di tengah dunia yang tengah dirundung krisis. Siapa mengeroyok siapa; siapa mengoyak siapa?

Jawabnya, Liga Champions menebar aroma perseteruan meski tidak saling mensetankan. Yang kalah mengakui yang menang. Yang menang bersuka, sedangkan yang kalah berduka.

Kalau saja delapan klub itu diibaratkan sebagai balerina, maka ada atraksi menari di atas ujung kaki (pointe). Baik kemenangan maupun kekalahan seperti asap dupa magis di altar persembahan.

Pada Selasa (7/4) waktu setempat, MU sebagai juara bertahan ditantang FC Porto di Stadion Old Trafford. Arsenal dijajal Villareal di Stadion El Madrigal. Pada Rabu (8/4) waktu setempat, Barcelona diuji Bayern Munich di Camp Nou. Dan duel duo raksasa Liga Inggris, Liverpool melawan Chelsea yang digelar di stadion Anfield. Aksiomanya, publik hanya menunggu, karena publik mengetahui apa yang ditunggu.

"Pada babak pertama, Porto bermain lebih baik. Tapi, di babak kedua kami memperbaiki diri dan lebih banyak menguasai permainan. Hanya, kemasukan gol (dari Mariano, Red) dengan cara seperti itu, kami seharusnya mencegahnya. Itu gol yang amat buruk dan menyakitkan kebobolan dengan cara seperti itu," kata manajer MU Alex Ferguson kepada ITV1.

"Dalam dua hari ini, kami menghadapi situasi berat. Kami kurang konsentrasi. Kami sempat unggul 2-1 dengan pertandingan tersisa empat atau lima menit," tambahnya.

Sedangkan, manajer Arsene Wenger angkat topi kepada semangat juang anak asuhannya. Manajer Arsenal itu menyatakan, "Tim ini telah menunjukkan bahwa mereka memiliki mental sangat kuat dan ketika mereka menghadapi rintangan, pemain-pemain muda ini selalu menemukan jawabannya. Kami tim yang sangat muda, tapi mampu fokus."

Inilah sebentuk demokrasi yang menjanjikan (democracy to-come) tiupan sangkakala harapan di tengah jalan buntu krisis. Penonton siap bersorak setelah jantung mereka berdetak. Inilah "mysterium tremendum" (misteri yang menggetarkan) dari empat laga Liga Champions untuk mengisi dahaga dunia akan atraksi menawan di oase kompetisi bola.

Ini belum cukup, karena ada predikat top scorer yang melegenda dalam lintas sejarah sebagai para pencetak gol terbanyak. Dilekatkan sebagai pengingat bagi publik bahwa - meminjam istilah pemikir postmodern Jacques Derrida - setiap yang Lain adalah yang sepenuhnya Lain (tout autre est tout autre).

Di kubu Villareal terukir nama Joseba Llorente yang telah melesakkan empat gol, sementara di kubu Gunnners ada Thierry Henry yang menyarangkan 35 gol. Manchester United (Ruud van Nistelrooy dengan 35 gol), Porto (Mario Jardel dengan 19 gol), Liverpool (Steven Gerrard dengan 19 gol), Chelsea (Didier Drogba dengan 21 gol), Barcelona (Rivaldo 22 gol), Bayern (Giovane Elber 21).

Yang lain bukan mengarah sebatas adu banyak, tetapi menyasar kepada adu strategi. Bukankah setiap jalan buntu ada hitung-hitungannya. Setiap momen keputusan (decision), menurut filsuf Karl Scmitt dan Kierkegaard, mengarah kepada momen keterputusan radikal dengan segala kalkulasi.

Ini warta dekonstruksi yang diamanatkan leg pertama delapan besar Liga Champions setelah menyambangi deretan top scorer.

Masa lalu adalah hantu. Delapan klub itu berjajar kemudian belajar mengenai pengalaman padang gurun. Mereka menanti penuh harap pengalaman akan yang Tak-mungkin. Bisa jadi Yang-Lain "yang akan datang". Delapan klub hanya bisa berkata lirih, "Ya, datanglah, datanglah dan datanglah".

Villareal tidak terkalahkan dalan 15 laga di Eropa dan sekali kalah dalam 27 laga kandang. Klub ini punya segudang pengalaman meladeni klub sekelas MU dan Arsenal. Sementara, Arsenal telah tampil 200 laga di kancah Eropa. The Gunners menoreh kemenangan 98 kali, imbang 51 dan 50 kali kalah. Pemain belakang Kolo Toure punya kenangan indah dengan mencetak gol ke gawang Villareal pada semi-final 2006.

MU mencatat 21 laga tidak terkalahkan di ajang Eropa. Laga terakhir melawan Inter Milan, kini menoreh asa untuk memperpanjang gelar 22 kali. Kekalahan terakhir melawan AC Milan di semi-final 2007. Duabelas tahun lalu, United menekuk Porto 4-0 dalam kompetisi yang sama.

Salah satu pencetak golnya yakni Ryan Giggs yang kini juga masuk dalam skuad United melawan klub asal Portugal itu. Kosok balik dengan Porto yang mencecap 11 kali kalah dari 12 laga yang digelar di Inggris. Klub ini mencetak 34 gol.

Apa yang menohok perhatian, yang mencontreng pilihan dari pertemuan Liverpool dan Chelsea? Kedua tim telah lima kali bertemu di Liga Champions. Pertemuan kedua tim menjanjikan persaingan ketat.

Sejak 2004/2005 sampai 2007/2008, Liverpool dan Chelsea digariskan selalu bersua di setiap edisi Liga Champions. Dalam rekor pertemuan Eropa, Liverpool meraih dua kali menang, imbang empat kali, sedangkan Chelsea menang dua kali.

Menjelang pertandingan Barcelona melawan Bayern Munich, predikat yang dipautkan misalnya "reuni" Guradiola versus Klinsmann, dan duel dua bintang. Di Barca, ada meteor Lionel Messi, sedangkan di Bayern, ada Franck Ribery.

Ketika masih aktif membela klubnya masing-masing, Guardiola, waktu itu gelandang bertahan Barca, menghadapi Bayern Munich yang diperkuat striker Juergen Klinsmann di semifinal Piala UEFA 1995-1996. Pada leg pertama du Munich, kedua tim berbagi seri 2-2. Pasukan asal Jerman itu akhirnya lolos ke final seusai menang 2-1 di Nou Camp.

Menjelang duel Liverpool-Chelsea, dan Barcelona-Bayern Munich, filsuf Prancis Blaise Pascal mengatakan, masa lampau dan masa kini semata-mata sarana manusia.

Dan orang modern menarik garis refleksi ketika menembus jalan buntu ketidakpastian dengan memproklamasikan etika penyembuhan (terapeutik) bahwa segala kekurangan hendaknya disingkirkan dengan mengandalkan pengendalian diri serba rasional, bukan mengandalkan kebetulan-kebetulan.

Laga leg pertama perempat final Liga Champions "mengekor" kepada pernyataan pemikir Thomas More dan Francis Bacon yang berpendapat bahwa mengetahui berarti menguasai. Inikah proyeksi tidak terbatas dari kemungkinan yang tidak terbatas pula? Inikah utopia manusia modern. *


Read More...

Sisyphus dan Alan Shearer

05 April 2009 | Label: | 0 komentar |

Oleh A.A. Ariwibowo

BERPERAN sebagai domba yang hilang kemudian menemukan oase di padang gurun laga bola, sosok Alan Shearer menembus dan menebus salah satu dogma di altar kehidupan, yakni tampil sebagai aktor yang merajut sejarah dalam ziarah dunia (homo actor mundi).

Bukan revolusi yang menjebol kemapanan, bukan pula opera sabun yang mendaulat publik untuk bercengeng ria di tengah teater kehidupan, mantan striker itu bersikap perkasa bermodalkan evolusi tanpa ledakan emosi. Mengapa?

Silakan memungut mosaik makna dari kisah legendaris "The Myth of Sisyphus" karya filsuf dan sastrawan Albert Camus.

Dikisahkan bahwa Autolycus, salah seorang pemimpin para maling, mencuri ternak tetangganya. Dengan menggunakan akal bulus, ia mengubah wujud ternak curiannya itu. Sisyphus tidak kekurangan akal. Tokoh sentral kisah itu memberi tanda khusus di bagian bawah kuku kaki ternak miliknya. Kelihaian dibalas kelihaian.

Bermodal keberanian plus kelihaian, Sisyphus mengubah wujud dewa Maut yang berakibat orang-orang tidak mati. Baru sesudah Ares memulihkan bentuk Dewa Maut, kematian menyambangi manusia. Di desa Hades, Sisyphus dihukum dengan diperintahkan untuk mendorong sebongkah batu besar ke puncak bukit.

Begitu batu didorong sampai di tempat, batu itu menggelinding ke bawah lagi. Begitu seterusnya dan seterusnya. Sisyphus harus memulainya dari awal, dan tidak ada penyelesaian final. Opera bernuansa tragika.

Dan Shearer seakan memerankan sosok Sisyphus. Pria Irlandia itu berteriak lantang di tengah padang rumput bebukitan laga Liga Primer, "Maknailah hidup dengan pikiran. Proklamasikan bahwa pikiran adalah penyangkalan kapasitas manusia dalam menghadapi rona kehidupan."

Mantan striker yang telah mencetak 206 gol dalam 404 penampilan bagi skuad Newcastle itu menggenapi ungkapan: menarilah dulu, kemudian berpikirlah kemudian (could dance first and think afterwards). Kalau penampilan The Magpies terus kedodoran, ia seakan berdiam diri dengan menolak terlibat di klub kota kelahirannya itu.

Kini publik Gallowgate mendengar legenda Sisyphus bernuansa kontemporer bahwa Shearer menebas kutuk dewa dengan bersedia menjadi pelatih The Toon sejak Rabu (1/4) hingga akhir musim kompetisi menggantikan Joe Kinnear, "gaffer" sebelumnya yang tidak dapat melatih karena menjalani operasi jantung dua bulan lalu. Dengan mengerek panji harapan, ia memutus drama absurd kehidupan.

"Seperti layaknya ribuan orang di Newcastle, saya merasa sedih dan tidak menginginkan klub ini terus terperosok lebih dalam. Saya akan bekerja bersama dengan para staf untuk coba mencegahnya," kata Shearer kepada radio BBC.

"Ini saatnya bagi para pemain untuk menyelamatkan klub ini. Situasinya memang sulit. Dan saya percaya penuh bahwa masih ada harapan," katanya.

Sementara Managing Director Derek Llambias menyatakan dalam laman klub Newcastle United bahwa publik Newcastle membuka hati bagi kedatangan Shearer. "Baik klub maupun kota tengah dilanda keprihatinan. Kesediaan dia (Shearer) memantik harapan," katanya.

Kalau Camus mempersoalkan apakah hidup masih cukup berarti dijalani, maka mantan pemain timnas Inggris yang kini telah berusia 38 tahun itu melakukan loncatan maut (salto mortal), dari pemahaman rasional menuju kengerian atau ketakutan (dread) yang mencekam seluruh diri.

Bukankah filsuf dan teolog Paul Tillich menyatakan manusia senantiasa berhadapan dengan masalah-masalah yang tidak dapat sepenuhnya dipecahkan dengan logika rasional. Untuk itu diperlukan keberanian luar biasa dalam mengalami dan menjalaninya. Dan Shearer tampil sebagai murid dari filsuf Jerman itu.

Shearer yang telah membela klub kotanya selama 10 tahun itu, sebelum gantung sepatu pada 2006, menghadapi ujian perdana ketika Newcastle berhadapan dengan Chelsea di stadion St James Park pada Sabtu waktu setempat (4/4). Inilah seni kehidupan (commedia dell`arte) bagi Shearer.

Dalam meniti musim kompetisi 2007/2008, The Magpies berada di peringkat ke-12. Prestasi yang dicapai klub itu, yakni empat kali juara Liga Primer (1904-1905, 1906-1907, 1908-1909, 1926-1927), juara Charity/Community Shield (1909), enam kali juara Piala FA (1910, 1924, 1932, 1951, 1952, 1955).

Ketika menghadapi laga melawan Chelsea, sampai-sampai Shearer menyandang predikat sebagai Sang Penyelamat (Messiah). "Kita dapat membayangkan atmosfer yang berkembang di laga itu. Alan Shearer tampil seakan sebagai Penyelamat. Ia menyihir para fans dan para pemain," kata gelandang Chelsea Frank Lampard kepada Sky Sport News.

"Kami harus melawan atmosfer yang berkembang di St James Park. Kami akan berjuang menjadi empat besar dengan hasil laga melawan mereka," katanya.

Untuk sementara, iklim di klasemen Liga Primer tidak berpihak kepada pemuncak Manchester United. Pasukan asuhan Sir Alex Ferguson itu baru saja mengalami dua luka akibat dua hasil jeblok beruntun. Nah, mampu tidaknya Shearer sebagai manajer terpulang kepada kecermatan membaca kemudian meramu racikan strategi di lapangan.

Rasanya belumlah cukup mengandalkan karisma semata di tengah kerasnya perburuan gelar Liga Primer. Chelsea di bawah pelatih jempolan Guus Hiddink terus tampil bak banteng ketaton.

Shearer yang menimba makna dari legenda Sisyphus menghadapi pekerjaan rumah ekstra berat, yakni membongkar hegemoni dan monopoli pemaknaan kekuasaan untuk menafsir perjalanan kehidupan. Ini dekonstruksi gaya Alan Shearer. *
Read More...

Menyimak Bintang Berbagi Pengalaman

17 Maret 2009 | Label: | 0 komentar |

Catatan Ringan
Ian Situmorang

STEVE McMahon, mantan bintang sepak bola Inggris, hadir di Jakarta. Ia berbagi ilmu tentang pengelolaan klub agar mampu mandiri. Mengelola klub harus profesional dan tidak boleh berharap bantuan dana dari pemerintah.

Pemain yang dulu berjaya di Liverpool itu tidak sendirian. Mantan bintang Birmingham, Paul Masefield, juga turut sharing pengalaman. Kedua mantan bintang lapangan hijau itu kini adalah komentator sepak bola di ESPN dan Star Sports.

McMahon dan Masefield sangat cekatan bicara tentang bagaimana peran pelatih. Membangun hubungan antarpemain, begitu juga dengan tim pelatih yang tak boleh kaku. Ia juga paham bagaimana melestarikan relasi pemilik klub dengan pelaksana harian.

Pada prinsipnya, komunikasi dan komitmen sangat penting dalam membangun kebersamaan. Tidaklah mungkin sebuah klub berhasil bila hubungan internal di tim tidak harmonis dan memiliki tujuan yang sama.

Dari sisi manajemen, ada satu pembicara lain. Dia adalah John Nordmann, yang mendalami bagaimana mengomersilkan klub sehingga meraih untung. Seolah setiap sudut klub itu adalah bagian yang dapat diolah menjadi mesin uang.

Jika ada tiga pembicara dari Inggris, tentu perlu ada penyeimbang. Sebagai tuan rumah, kita memiliki seorang tokoh muda bernama Syauqi Soeratno. Pengalaman mengelola klub dan melihat realitas sepak bola di Indonesia menjadi topik bahasannya.

Keempat pembicara ini mengungkapkan pengalaman dalam seminar setengah hari pada Jumat (7/3). Acara ini digagas BOLA, yang berulang tahun ke-25, sebagai sumbangsih bagi kemajuan persepakbolaan nasional.

Mitra kerja kami adalah Profitable Group Company, yang bermarkas di Singapura. Sebagai penopang dana pelaksanaan, kami dibantu Djarum Super, yang citranya sudah melekat dengan aktivitas sepak bola negeri ini.

Acaranya berlangsung cukup meriah di hotel Santika Premier Jakarta dipandu Fauzan Zaman. Peserta dari kalangan pengelola klub dan pengurus sepak bola nasional. Sayang, beberapa tokoh sentral di PSSI kurang tertarik mendengar dan belajar dari ahlinya.

Apa pun hasil dari seminar setengah hari itu, menurut saya harus dikembalikan kepada siapa yang membutuhkan. Siapa pun yang bicara dan betapa hebatnya materi yang diungkap, jika telinga dan hati tidak dibuka, hasilnya tetap akan sia-sia.

***
Bob Hippy, seorang tokoh sepak bola Indonesia, hadir dari awal sampai akhir. Pria yang tidak suka menonjolkan diri tapi terus berbuat lewat pembinaan anak-anak belia itu mengaku sangat suka dengan kehadiran pembicara dari luar negeri. ”Kita perlu menimba ilmu mereka,” katanya.

Hanya saja Bob berharap para ahli dari luar sebaiknya terlebih dulu melakukan penelitian. Menurutnya, masalah yang dihadapi persepakbolaan Indonesia sangat spesifik. Jika yang dibicarakan hal-hal umum, disebutkan kurang klop dengan realitas.

Benny Dollo, pelatih tim nasional kita, mengakui cerita Steve sangat menarik. Sentuhan pelatih dalam membangkitkan semangat pemain, terutama di ruang ganti, sangat besar artinya. Namun, Benny mengakui ada beberapa poin yang tidak cocok dengan kondisi di Indonesia seperti di Inggris.

Pemaparan Steve dan Paul bahkan John berhasil membuka pemikiran orang-orang yang terlibat di sepak bola. Secara terperinci, Steve menjelaskan bagaimana menyusun rencana strategi jangka pendek dan panjang. Begitu juga dengan cara membangun hubungan harmonis di ruang ganti.

Seorang pelatih menurut Steve harus membuat list apa yang harus dikerjakan setiap hari. Tidak hanya secara garis besar seperti mengikat kontrak pemain, tapi mesti detail dalam latihan hingga persiapan menjelang pertandingan.

Tanggung jawab terbesar dalam urusan hasil akhir pertandingan ada di pundak pelatih. Karena itu, ia harus bertindak sebagai bos dengan mempersiapkan segala sesuatu, termasuk memilih tim pendukung. Urusan teknik sepenuhnya menjadi wewenangnya. Pemilik klub sekali pun tak boleh intervensi.

Steve menegaskan bahwa sebuah kemenangan diawali dari persiapan. Jika semua persiapan berjalan baik, maka pelatih tinggal menentukan siapa yang akan diturunkan. Kalah atau menang adalah cerita berbeda, yang penting segala proses dilalui dengan serius.

Dalam benak John, potensi bisnis sepak bola di Indonesia sangat besar dengan jumlah penduduk banyak. Hanya saja, sejauh ini penanganannya masih belum serius dan tidak profesional. Harus ada terobosan manajerial modern.

Melihat dari luar memang kadang menyesatkan bila belum memahami problem di dalam. Boleh jadi ketiga tamu tadi bicara pengelolaan sepak bola ideal dari kacamata Inggris. Faktanya di Indonesia hal itu masih sangat asing.

Syauqi mencoba berbicara melalui fakta. Banyak persoalan yang aneh di dalam negeri, tapi itulah kenyataan. Umur manajemen sepakbola Indonesia umumnya hanya berlaku selama satu tahun.

Semua tahu itu tidak baik. Klub akan rugi jika mengontrak pemain untuk masa satu tahun. Membuat program jangka panjang juga tidak mungkin karena sistem pendanaan klub umumnya bersumber dari APBD yang harus habis dalam setahun.

Sepak bola Indonesia memang unik. Tapi, setidaknya kita sudah menggelar alat pembanding. Pilih yang ideal atau tetap hidup dalam ketidakpastian?

ian@bolanews.com
Read More...

Visi Ronny dan Khayal PSSI

03 Maret 2009 | Label: | 0 komentar |

MUNGKIN akan terdengar klise, tapi pasti akan begini jawaban Ronny Pattinasarany jika dimintai komentar ihwal rencana PSSI mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia: "Harusnya PSSI berkonsentrasi pada pembinaan pemain muda daripada buang-buang uang untuk kampanye menjadi tuan rumah Piala Dunia."

Ronny memang sudah wafat September kemarin dan kita tak mungkin bisa mendengar pendapatnya lagi. Tapi, dengan melihat perhatian dan fokusnya pada pembinaan pemain muda, saya cukup yakin kalau seperti itulah kira-kira pendapat Ronny jika ia masih hidup dan dimintai komentar soal pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia.

Ada satu peristiwa yang mungkin belum banyak diketahui publik. Peristiwa ini cukup bisa menggambarkan bagaimana dan di mana letak perhatian Ronny dalam perkembangan sepakbola Indonesia.

Seperti dituliskan oleh Arifin Panigoro dalam kata pengantar untuk biografi Ronny yang baru terbit, Dan, Saya Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini...., ia mengundang Ronny untuk bertukar pendapat, terutama terkait isu pencalonan Arifin sebagai calon ketua umum PSSI. Ketika itu, sangat banyak orang yang berharap Arifin bisa menjadi orang nomor satu di PSSI, baik dari klub hingga wartawan.

Alih-alih mendukung, Ronny secara tegas menolak rencana Arifin untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI. Penolakan itu dinyatakan oleh Ronny bahkan sebelum diskusi keduanya dimulai. Sembari berjabat tangan, Ronny menyatakan penolakannya tanpa tedeng aling-aling.

"Saya ingin Bapak berperan penting dalam pembinaan sepakbola usia dini," ungkap Ronny di awal pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Arifin.

Pendek kata, Ronny bisa meyakinkan Arifin agar memanfaatkan kekuatan dananya tidak untuk penggalangan dukungan pencalonan Ketua Umum PSSI, melainkan untuk digunakan dalam menciptakan kompetisi pemain-pemain muda yang mandeg.

Dari situlah kiprah Arifin --melalui Medco Group/Medco Foundation-- dalam pembinaan pemain muda dimulai. Ronny sendiri turun tangan langsung dalam penyelenggaraan Liga Medco. Itu berlangsung sampai akhir hayat Ronny. Beberapa hari sebelum kepergian terakhirnya ke Ghuangzhou untuk berobat, Ronny masih sempat sibuk mengurusi Liga Medco d Yogyakarta. Alumni pemain-pemain Liga Medco inilah yang menjadi tulang punggung Tim Nasional U-16 hingga U-18. Kiprah Ronny di Liga Medco ini melengkapi catatan andil Ronny dalam mendirikan ASIOP, sekolah sepakbola yang banyak menelurkan pemain-pemain muda berbakat Indonesia.

Dengan kata-kata yang metaforis, Arifin Panigoro mengenang: "Selama Liga Medco digelar, saya seperti melihat Ronny bermain di lapangan hijau sebagai kapten tim nasional Indonesia."

Memang, sudah banyak orang yang berteriak-teriak agar pembinaan pemain muda dan penyelenggaraan kompetisi pemain yunior secara berjenjang dan konsisten sebagai perhatian utama. Tapi, dalam soal itu, Ronny bukan cuma bicara, tapi melakukannya dengan segenap ikhtiar yang ia mampu.

Pengalamannya mengarungi persaingan pemain yang ketat di masa kecil di Makasar, kerasnya persaingan di Lapangan Karebosi yang legendaris itu, tampaknya membekas dengan kuat dalam pikiran Ronny. Ia mengalami pahit getirnya berlatih sepakbola secara alami tanpa bimbingan pelatih yang memenuhi standar serta tanpa kompetisi khusus pemain yunior.

Ronny bukan hanya tidak ingin pengalaman itu kembali terulang, tapi ia juga sangat paham: bakat mutiara sekali pun tak bakal berarti tanpa bimbingan pelatih yang bisa mengenalkan pemain muda pada sistem permainan moderen dan talenta yang cemerlang sekali pun musykil menjadi berlian yang kemilau tanpa diasah melalui kompetisi yang bermutu baik.

Membangun sistem pembinaan dan kompetisi pemain muda itulah yang menjadi visi Ronny, legenda yang pernah dijuluki "Beckenbauer-nya Asia" sewaktu membela Asia All-Star di penghujung 1970-an. Sekali lagi, itulah visi seorang Ronny, bukan khayal seorang Ronny.

Beda antara visi dan khayalan terletak pada kemampuannya memahami realitas. Visi bersandar pada realitas yang dari sana disusun rencana-rencana untuk mengubah realitas agar menjadi lebih baik, sementara khayal tak dibatasi oleh realitas, sepahit atau semanis apa pun realitas yang dihadapi.

Orang miskin yang tak mau bekerja keras bisa saja berkhayal menjadi seorang miyuner. Tapi, orang miskin yang tahu caranya mengubah nasib, pasti tidak akan berkhayal menjadi milyuner, melainkan akan berpikir bagaimana caranya bisa membuat usaha sekecil apa pun, lantas menyusun ikhtiar dalam mendapatkan modal usaha, sesedikit apa pun modal itu, yang dari sana dimulailah pertarungan hidup untuk mengubah nasib.

Kita adalah si miskin, kaum paria, dalam belantika sepakbola, nyaris dalam segala aspeknya. Dan, bagi Ronny, upaya untuk mengubah nasib itu tidak dengan cara menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Sekaya apa pun sebuah negara, FIFA mustahil memilih sebuah negara sebagai tuan rumah Piala Dunia jika negara itu sendiri tak punya kemampuan manajemen yang baik dalam kompetisi lokal.

Sehebat apa pun sebuah negara menyiapkan infrastruktur, FIFA pasti akan berpikir ulang memilih sebuah negara sebagai tuan rumah Piala Dunia jika negara itu tak punya prestasi apa-apa bahkan hanya untuk di kawasannya sendiri. Jepang dan Korea Selatan bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bukan cuma karena kemampuannya menyiapkan infrastruktur, tapi karena keduanya punya prestasi di atas rata-rata dan konsisten untuk kawasan Asia.

Berkhayal memang nikmat. Para tahanan di penjara yang tak punya kegiatan apa-apa pasti tahu kegunaan berkhayal sebagai perintang waktu. Jika tak percaya, bertanyalah pada yang pernah dipenjara, jangan tanyakan pada Ronny Pattinasarany. **
Read More...

Totalitas Total Football

| Label: | 0 komentar |

TOTAL Football bagi saya adalah sistem permainan sepakbola yang paling menarik. Tetapi memahami Total Football ternyata tidak segampang yang saya duga. Berulangkali membaca berbagai literatur dan artikel sepakbola, susah menemukan penjelasan mengapa dan bagaimana Total Football muncul. Hanya dengan memahami mengapa dan bagaimana, kita bisa memahami esensi sesuatu.

Yang standar tentu saja kita tahu bahwa sistem ini pertama kali muncul di Belanda dengan permainan bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.

Penjelasan paling memuaskan malah bukan saya dapat dari orang Belanda, melainkan seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda".

Orang Belanda sendiri sampai terkagum-kagum dan mengatakan, ''Ah, jadi begitukah cara berpikir kami.'' Banyak pemain bola Belanda seperti tersadarkan pada sosok yang berada di dalam kaca ketika mereka bercermin.

Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.

Berlebihan? Mungkin. Namun penjelasannya sungguh masuk akal.

Kita semua tahu ukuran lapangan sepakbola lebih kurang sama di mana-mana, sehingga ruang permainan selalu sebenarnya sama. Tapi orang Belanda sadar bahwa ruang juga adalah persoalan abstrak di dalam kepala. Membesar dan mengecilnya ruang tergantung pada cara mengeksploitasinya.

Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.

Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya.

Misalnya, begitu pemain Belanda menguasai bola maka mereka akan membuat lapangan seluas mungkin. Pemain bergerak ke setiap jengkal ruang yang tersedia. Di benak lawan lapangan akan tampak begitu lebar.

Atau, begitu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan. Bisa satu bisa dua, bahkan tiga. Tekanan harus dilakukan secepat mungkin bahkan ketika bola masih ada di jantung pertahanan lawan. Lawan terjepit dalam benak bahwa lapangan begitu sempit.

Memperlebar atau mempersempit ruangan di benak lawan tentu bukan barang mudah. Harus ada kemampuan untuk mencari ruangan. Pergerakan yang kompak. Cara mengumpan bola yang eksploitatif atas ruang yang tersedia, entah melengkung, lurus, melambung, dll. Pendeknya dibutuhkan pemahaman geometri ruangan yang tidak sederhana.

Persoalannya adalah, mengapa hal ini tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya? Dan mengapa orang Belanda yang bisa melakukannya?

Jawabnya, menurut buku itu, didapat dari kondisi alam Belanda.

Bangsa Belanda secara intrinsik bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan ataupun pemanfaatannya). Kondisi alam memaksa mereka demikian. Lima puluh persen tanahnya berada di bawah permukaan laut. Sementara sisanya terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang berjubel.

Terus menerus bangsa ini melakukan reklamasi untuk memperluas daratan. Dengan sadar persoalan tanah mereka atur dengan sangat disiplin dan ketat. Eksistensi bangsa ini tergantung bagaimana mereka merawat tanah yang tak seberapa mereka punya. Kanal, selokan air, bendungan kecil dan besar, teratur rapi membelah setiap jengkal tanah yang mereka punya.

Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi.

Namun seberapa pun mereka mencoba, seberapa pun disiplinnya, tanah tidak akan pernah cukup tersedia.

Lalu apa yang dilakukan?

Jawabnya ada di daya khayal, di benak, di alam abstraksi. Di samping secara fisik mereka mencoba memperluas wilayah darat mereka, mereka juga menciptakan ruang yang luas dialam khayal mereka.

Kalau Anda kebetulan datang ke Eropa, bandingkanlah tata kota Belanda dengan negara lain. Kita akan segera sadar bahwa Belanda memang lebih sempit tapi tata kotanya dibuat sedemikian rupa rapi, sehingga terasa sangat longgar. Dibanding negara manapun di dunia, tata kota di Belanda adalah yang paling kompak di dunia.

Arsitektur bangunannya, baik yang tua maupun modern, terasa sangat inovatif, dengan sudut yang sering tidak normal, bentuk bangunan yang tidak umum, aneh, tetapi kesannya selalu sama—longgar dan lapang. Karena semua lekuk ketidaknormalan adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ruang tambahan di alam khayal tadi.

Bahkan benak juga dilonggarkan untuk urusan norma sosial. Kalau etika Protestan semarak di Belanda di awal kelahirannya, sangatlah bisa dimengerti. Mereka secara instingtif akan memberontak terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengukung. Dalam kasus kelahiran Protestan tentu saja pemberontakan atas kungkungan ajaran Katolik saat itu.

Proses itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita tahu norma sosial Belanda adalah yang paling longgar di Eropa. Kelonggaran yang tetap diatur. Misalnya, mainlah ke Vondell Park di Amsterdam, bolehlah Anda menghisap ganja atau mariyuana dengan santai. Padahal di negara lain sembunyi-sembunyi pun Anda tidak boleh.

Jejak-jejak spatial neurotic ini bisa kita temukan dengan mudah di karya-karya seni mereka bahkan di kehidupan politik, tetapi kembali ke persoalan sepakbola, mentalitas pemain sepakbola juga sama persis. Ketika mereka turun ke lapangan, benak mereka selalu bermain-main dengan keinginan untuk menciptakan ruangan selonggar mungkin, lalu mengeksploitasinya.

Ketika Rinus Michel membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971, Eropa tersadarkan sebuah sistem baru yang mulai sempurna telah lahir. Sistem yang lahir dari psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya. Dan ketika Michel membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 lahirlah istilah Total Football.

Total Football sendiri sebenarnya meminjam penamaannya dari gerakan sosial yang digagas para arsitek-filosof terkemuka Belanda sekitar tahun 1970-an. Sebuah gerakan bernama Total. Memahami kehidupan perkotaan secara menyeluruh: mengatur urbanisasi, lingkungan, dan pemanfaatan energi dalam satu totalitas. Agar ruang yang tersedia di Belanda bisa termanfaatkan secara maksimal. Dan sepakbola adalah sebuah hiburan bagian dari pendekatan yang menyeluruh itu. Totalitas. Namanya: Total Football. **
Read More...

Mama Mia!

23 Januari 2009 | Label: | 0 komentar |

Catatan sepakbola Dion DB Putra

"Jika aku meninggal di lapangan karena cedera, aku minta di peti matiku dimasukkan sebuah bola. Jadi, aku bisa mati dengan puas dan sambil tersenyum."

--- Marta Vieira da Silva --

ZURICH 12 Januari tak sekadar pesta bagi Swiss. Zurich 12 Januari 2009 memanggungkan seorang perempuan muda yang patut dikenang dunia. Dia lahir dari lapangan sepakbola. Namanya Marta Vieira da Silva. Marta kembali terpilih menjadi wanita pemain sepakbola terbaik tahun 2008 versi Badan Sepakbola Dunia (FIFA). Tahun ketiga Marta menggenggam dunia. Mama Mia!

Dalam pemilihan pemain terbaik FIFA 2008, Marta yang baru bergabung dengan Los Angeles Sol -- klub profesional Liga Sepakbola Wanita Amerika Serikat -- mendapat poin tertinggi yaitu 1.002 poin. Si pirang asal Jerman, Birgit Prinz yang juga pernah meraih gelar pemain terbaik FIFA sebanyak tiga kali, berada di urutan kedua dengan 328 poin. Cristiane dari Brasil di posisi ketiga (275 poin) disusul Nadine Angerer dari Jerman (198) dan Kelly Smith asal Inggris (150).

Prestasi Marta istimewa. Pemain asal Brasil itu berdiri sejajar dengan kaum Adam yang mendominasi jagat sepakbola. Namanya tak kalah harum dibanding si 'gigi kelinci' Ronaldo dan sang maestro dari Perancis, Zinedine Zidane. Mereka sama meraih hattrick predikat terbaik. Tiga tahun berturut-turut.

Persaingan pemain terbaik wanita mungkin tidak seketat pria. Namun, keberhasilan Marta terasa istimewa karena dia melewati perjuangan yang sangat berat. Dia meraih gelar bergengsi tersebut dalam saat usia masih sangat muda yaitu 22 tahun.

Marta membangun karier profesional dengan susah payah di Santa Cruz, kampung halamannya. Globalisasi bola mengantarnya ke Eropa. Marta tak menyia-nyiakan kesempatan emas sejak bergabung bersama klub Swedia, Umea IK. Marta sungguh haus gol. Selama di Umea tahun 2004-2008, ia mengoleksi 111 gol dari 103 penampilan dan membawa Umea menjuarai Liga Sepakbola Wanita Swedia.

Tahun 2006 dan 2007 dia terpilih sebagai pemain terbaik dunia dan top skorer Piala Dunia Wanita 2007. Anda tahu gajinya di klub Umea? Sebulan dia dibayar sekitar Rp 515 juta! Jumlah yang membuat banyak orang terkesima.

Pesona Marta tak kalah membius dalam balutan kostum tim nasional Brasil. Sejak membela tim Samba tahun 2002, ia telah menyumbangkan 47 gol dalam 45 kali pertandingan bersama Selecao dan ikut membawa Brasil meraih medali perak Olimpiade Beijing 2008. Dunia mengenal Marta sebagai striker yang dingin di kotak penalti. Bukan cuma pemikir dan motivator bagi tim, dia juga eksekutor sejati. Sentuhannya 90 persen berubah menjadi gol.

***
SUKSES Marta Vieira da Silva merupakan buah dari perlawanan terhadap struktur sosial yang diskriminatif. Berbeda dengan Mia Hamm (AS) dan Birgit Prinz (Jerman), Marta lahir dan dibesarkan di Brasilia yang memandang bola dengan seluruh pesonanya sebagai dunia kaum pria.

"You are a woman, Marta!" Demikian hardikan Dona Tereza Vieira de Sá setiap kali melihat putri mungilnya, Marta Vieira bermain bola bersama bocah pria di jalanan. "Kamu itu perempuan, Marta. Tempatmu bukan di lapangan bola!" Kata- kata itu bergaung hampir saban hari di rumah mereka yang sempit dan kumuh di Dois Riachos, Alagoas, Brasil.

Teriakan "You Are A Woman" adalah judul buku biografi Marta da Silva karya penulis Brasil, Diego Graciano. Dalam buku tersebut Graciano menulis perjuangan Marta hingga meraih impian masa kecilnya sebagai sebagai ratu sepakbola sejagat. Ratu dari Brasilia. Dan, Marta punya kelas tersendiri. Jauh berbeda dengan Milene Domingues yang kesohor karena menikahi Ronaldo lalu bercerai gara-gara perselingkuhan.

Marta pantas mendapatkan segala yang terbaik saat ini karena dia melewati onak dan duri. Jatuh dan bangun menuju puncak prestasi. Tidak hanya latihan teknis mengolah si kulit bundar, perjuangan Marta justru lebih berat melawan tatanan nilai dalam lingkungan sosialnya.

Lahir di kawasan Dois Riachos, Alagoas, Brasil 19 Februari 1986, Marta tergila-gila pada sepakbola sejak bocah. Tapi dia ditentang oleh keluarga. "Ibu, keluarga, tetangga, teman-temanku tak ada yang mendukung," demikian Marta.

Sang bunda, Dona Tereza tak menampik pengakuan Marta tersebut. "Saya larang dia bermimpi jadi pemain bola, sebab itu hal yang tidak mungkin terjadi. Saya juga takut ia menderita cedera," kata Dona.

Apa jawaban Marta? Dona selalu ingat kata-kata spontan putrinya, "Jika aku meninggal di lapangan karena cedera, aku minta di peti matiku dimasukkan sebuah bola. Jadi, aku bisa mati dengan puas dan sambil tersenyum."

Tekad Marta tak pernah padam. Pada umur 12 tahun, Marta bergabung dengan klub lokal, CSA. Dia merupakan satu-satunya perempuan di klub itu. Ini memancing kemarahan sang kakak, Jose. Dalam review buku biografinya, Jose mengakui dulu ia kerap memukuli adiknya yang bengal itu.

"Orang sering mengejek, adik perempuanmu bermain dengan anak laki-laki. Saya menjemputnya dari lapangan bola. Membawa ke rumah, memukulinya. Tapi ia kabur dan kembali ke lapangan bola," kata Jose.

Pergaulan dan kebiasaan bertarung dengan kaum lelaki mengasah kemampuan Marta. Pada usia 14 tahun, ia melakukan perjalanan tiga hari tiga malam dengan bus untuk bergabung dengan klub impiannya di Kota Rio de Janeiro, Vasco Da Gama. Adalah Helena Pacheco yang merekrut Marta masuk ke klub itu. Bagi Marta, Helena Pacheco yang sempat menangani timnas Brasil merupakan orang paling berjasa baginya. Pacheco mengantar Marta menuju kejayaan.

Di Vasco Da Gama, karier Marta melesat. Keluarga menyerah. Prestasi bersama Vasco menarik perhatian Umea IK. Tahun 2004, Marta terbang ke Swedia. Swedia jatuh hati. Mereka memberinya julukan unik, Marta Sepupu Pele. Sebuah ilustrasi betapa kepiawaian Marta bisa disandingkan dengan Pele. "Saya yakin akan lebih banyak wanita tertarik dengan bola. Kita sedang menatap masa depan yang lebih baik," kata Marta pada malam penganugerahan di Zurich 12 Januari lalu.

Marta da Silva mestinya sebuah rangsangan. Rangsangan bagi kaum perempuan sejagat untuk berjibaku, bersaing secara sehat dengan kaum pria dalam lapangan hidup manapun. Oh, Mama Mia! Hai para "Ratu" dunia. Jangan pernah menyerah!*
Read More...

Antara Ronaldo, Messi dan Torres

15 Januari 2009 | Label: | 0 komentar |

Oleh A.A. Ariwibowo

"KITA adalah angkatan yang tak bisa mereka didik, karena kita memahami lebih baik", (We are the class, they couldn`t teach, `cause we know better!). Nukilan tembang ini dicopot dari tembang berjudul "Born in the 50`s" yang dilantunkan oleh grup band The Police.

Lagu itu menyasar kepada perjuangan unjuk gigi bagi proklamasi bahwa jangan pernah tampil sebagai generasi yang sok menindas, apalagi memainkan gaya kepemimpinan bisik-bisik di kegelapan, kemudian merebut mikropon untuk berkoar sebagai jagoan yang mendadak turun dari langit.

Kalau ada kisah bidadari dari kahyangan, maka ini bukan kisah pangeran dari jagat entah berantah. Ini bukan pula adu terampil main pat-gulipat bahwa sepiring uang datang begitu saja tanpa menunjukkan prestasi. Karena, murid kritis mengajukan pertanyaan menyelidik serba menggelitik nalar, "Ketrampilan anda apa? Jualan utama anda apa kepada publik?"

Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Fernando Torres tampil ke jagat sepakbola sebagai tiga sekawan yang menyingkirkan kebekuan dari segala apa yang bernuansa serba normal, serba biasa-biasa saja. Ketiganya mengepalkan tinju ke udara seraya berucap kata, "Ini tinju kami, mana tinjumu."

Mengapa? Karena ketiganya memiliki nyali untuk mencungkil mentalitas "nonsense" yang berkomplot demi kejayaan kelompok sendiri. Langkah awalnya: libas ideologi empat L (Lu lagi, Lu Lagi).

Bukan lantaran pemain Machester United, Cristiano Ronaldo, menyabet penghargaan pemain terbaik dunia FIFA 2008, maka pemain asal Portugal itu mencekoki Messi dan Torres dengan ideologi pembebasan dari mentalitas pasif, cepat puas diri dan tidak kritis. Ketiganya tampil sebagai sosok yang aktif, tidak berpuas diri dan kritis.

Baik Ronaldo, Messi dan Torres sama-sama mendemonstrasikan kepada dunia bahwa mengobarkan revolusi terhadap masyarakat berdimensi satu (one dimensional society) bukan sebatas slogan "berubah dan berubah". Apalagi, kalau ada embel-embel ambisi akan guyuran uang (pecuniary culture).

Filsuf John Dewey menulis, "Kita sedang hidup dalam kultur uang. Kultur dan ritusnya menentukan pertumbuhan dan keruntuhan suatu lembaga dan ia menguasai nasib setiap individu."

Dan Karl Marx menulis, "Karena uang, kesetiaan dapat diubah menjadi khianat, cinta menjadi benci, benci dapat menjadi cinta; budak dijadikan tuan, tuan menjadi budak; kebodohan menjadi kepandaian, kepandaian menjadi kebodohan."

Keterasingan karena iming-iming uang tidak membawa manusia kepada kemanusiaan yang paripurna. Meski Ronaldo, Messi dan Torres perlu uang, tetapi ketiganya ingin melakoni kemanusiaan sebagai pribadi yang membumikan keutamaan-keutamaan aristokrat sejati.

Pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson punya jurusnya. "Kami semua bangga dia menerima penghargaan tertinggi itu. Kami pikir, dia banyak berutang kepada MU karena kesuksesannya tersebut," kata Ferguson.

Ronaldo mengamini bahwa dia banyak berutang kepada MU, termasuk kepada Ferguson, dalam kemajuan kariernya. "Benar, Ferguson punya peran penting dalam karierku. Ini musim yang indah bagiku dan bagi klubku. Sang pelatih sangat penting bagiku, karena aku belajar banyak darinya," kata Ronaldo.

Selain lihai menggiring bola, menggocek pemain belakang lawan, melepaskan tembakan ke gawang, publik cukup merasakan getar sihirnya akan aksi teatrikal, utamanya di daerah pertahanan lawan.

Pemain sayap berjuluk CR7 ini dianugerahi kecepatan, kekuatan dan kemampuan luar biasa dalam menerobos lini pertahanan lawan. Inilah daya pembebasan dari CR7 bagi generasi jaman ini.

Kalau Beckham punya kejelian mengumpan bola, maka Ronaldo lebih mengandalkan kemampuan untuk merobek konsentrasi lawan dengan segudang aksi warna-warni di lapangan. Beckham punya energi, sementara Ronaldo beraksi sebagai pemain sirkus. Begitu ibaratnya bagi CR7.

Meski Ronaldo dijuluki punya kepribadian eksibisionis, tetapi ia merayu publik Old Trafford agar bersedia bertepuk tangan atas aksi lapangan yang aduhai. Ronaldo membuktikan dirinya sebagai salah satu mesin gol skuad "Setan Merah". Pemain kelahiran Madeira ini kini tengah dibidik oleh Real Madrid dengan segepok uang. Kekritisan versus godaan uang.

Fragmen menarik juga menerpa Lionel Messi. Kini ia banyak mendulang decak kagum publik, karena penampilannya banyak dibandingkan dengan Diego Maradona semasa muda. Pemain berusia 21 tahun ini punya kemampuan mengontrol bola dan melepaskan diri dari kawalan pemain lawan untuk memotivasi sesama rekan tim guna meneror pertahanan seteru. Ini makin sempurna karena Messi punya kecepatan.

Lahir di Rosario, Santa Fe di Argentina pada 24 Juni 1987, Messi bergabung ke Barcelona sejak usia 13 tahun.

Dengan cepat, bintangnya bersinar sebagai pemain muda berbakat. Pelatih Fank Rijkaard memberi kesempatan memulai debutnya di tingkat senior saat menjalani laga persahabatan melawan Porto pada November 2003 pada usia 16 tahun.

Ia menjalani laga perdana bersama timnas Argentina pada pertandingan persahabatan melawan Hungaria pada Agustus 2005. Ini mengingatkan torehan sejarah ketika Maradona turun bertanding pada usia 16 tahun. Messi membawa Argentina merebut medali emas dalam ajang Olimpiade tahun lalu. Ia telah mengoleksi sebanyak 11 gol di Liga Primera pada musim kompetisi ini. Di Liga Champions, ia mencetak lima gol.

Sebuah potret perjuangan dari Messi yang mengingatkan publik akan makna dari semangat tidak cepat berpuas diri, tetapi terus mencari dan mencari untuk menemukan sejatinya dari laga sepakbola.

Imajinasi serupa terpapar dalam diri Fernando Torres. Pemain Liverpool yang dijuluki El Nino ini hijrah dari Atletico Madrid ke Anfield pada 2007 dengan bayaran sekitar 20 juta poundsterling. Sebagai pencetak gol, publik menyebut penampilannya mirip Ian Rush dan Kenny Dalglish.

Pemain Spanyol ini punya mata elang dalam membidik mangsa. Utamanya, pemain belakang yang lengah, karena bayarannya kelewat mahal yakni gol. Hebatnya, ia membuktikan diri sebagai pemain yang mampu bertahan di tengah persaingan keras sepakbola Inggris.

Ia mampu melesakkan 24 gol ketika mengawali musim kompetisinya di Liga Primer bersama Liverpool. Prestasi ini menoreh catatan tersendiri di buku besar sejarah sepakbola Inggris sebagai striker dari luar Inggris yang tampil subur. Hebatnya lagi, ia mencetak gol kemenangan bagi negaranya saat melawan Jerman di final Piala Eropa 2008.

Refleksi apa yang dapat dipungut publik dari perjuangan tiga besar dalam pemilihan Pemain Terbaik Dunia FIFA 2008 ini? Dalam pemungutan suara, Cristiano Ronaldo (Portugal) mendulang 935 poin, Lionel Messi (Argentina) 678 poin, Fernando Torres (Spanyol) 203 poin.

Poin terpenting dan terutama yakni ketiganya mengeksplorasi imajinasi untuk terbebas dari segala kungkungan sistem. Boleh dibilang, ketiganya melahirkan imperatif sejarah: janganlah mengulangi "industrial genocide".

Maksudnya, membebaskan diri dari pola berpikir totaliter, pola berpikir yang menghakimi seluruh jaman dengan memproklamirkan diri, sebagai kelompok atau individu yang paling benar. Padahal, dunia itu ibarat telur di ujung tanduk. (antara)
Read More...