Tampilkan postingan dengan label Marco van Basten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marco van Basten. Tampilkan semua postingan

Rusia: Belanda Sulit

21 Juni 2008 | Label: , , , , | 0 komentar |

Basel, Kompas - Tim Rusia mengakui, pertandingan melawan Belanda, Minggu dini hari WIB, akan lebih sulit ketimbang saat mereka harus menghadapi Swedia pada laga penentuan Grup D, Kamis (19/6) WIB lalu. Berbeda dengan Swedia yang cenderung monoton, susunan pemain Belanda lebih bervariasi dan lebih lentur menyesuaikan dengan gaya permainan lawan.

Dalam jumpa pers yang juga dihadiri Kompas, Jumat (20/6), Pelatih Rusia Guus Hiddink mengakui, Swedia mempunyai kecenderungan menetapkan susunan pemain awal yang sama. Kalaupun berbeda, pola permainannya sama. Ini membuat Rusia mudah menemukan kekuatan dan kelemahan mereka.

Adapun untuk menghadapi Belanda, situasinya berbeda. Sulit bagi Hiddink untuk menemukan titik lemah Oranye. "Tim Belanda secara taktik, teknik, dan fisik memang merupakan salah satu kesebelasan terkuat di dunia," ujar Hiddink.

Saat ditanya apakah timnya akan lebih bertahan melawan Belanda, Hiddink menegaskan, "Kalau Anda khawatir akan serangan lawan dan lantas bertahan, itu keliru. Kalau takut kebobolan, Anda harus menyerang terlebih dulu."

Kubu Rusia, kemarin pada pukul 18.00 waktu Swiss atau pukul 23.00 WIB, menjajal lapangan St Jakob Park, di Basel, Swiss. Guus Hiddink tercatat dalam sejarah sepak bola Rusia sebagai pelatih pertama yang membawa tim nasional mereka ke perempat final Euro, setelah pecahnya Uni Soviet.

Tak memikirkan lawan

Tim Belanda, pada Jumat (20/6) pukul 20.00 waktu setempat, menggelar latihan ringan di Stadion St Jakob Park, dengan 15 menit di antara total waktu latihan dilakukan terbuka di hadapan wartawan.

Pada pernyataan di markas tim Belanda di Lausanne, pekan lalu, striker "Oranye" Ruud van Nistelrooy menyatakan tak pernah memikirkan siapa lawan yang "dipilih" pada perempat final.

Ketika itu wartawan bertanya, siapa tim yang diinginkan Belanda, apakah Rusia atau Swedia (saat itu kedua tim masih sama-sama punya kans jadi peringkat kedua Grup D).

"Saya rasa kami menyiapkan semua pertandingan dengan pendekatan yang sama, yaitu lebih berkonsentrasi pada persiapan kami sendiri dan tidak pernah berpikir siapa yang akan kami hadapi. Bagaimana siasat kami menghadapi lawan, itu yang lebih penting," kata Nistelrooy.

Adapun Pelatih Belanda Marco van Basten mengungkapkan bahwa Belanda tak ingin kehilangan momentum positif saat ini. Sebagai sebuah tim, lanjut penyerang tim Belanda era 1980-an itu, kebersamaan di kubu Belanda tumbuh sangat positif.

"Ini perkembangan yang harus saya syukuri," kata Basten, yang mengaku puas atas penampilan timnya hingga saat ini. (Adi Prinantyo dari Basel, Swiss)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/02265170/rusia.belanda.sulit
Read More...

Pembuktian Dua Guru Satu Ilmu

| Label: , , , | 0 komentar |

BASEL, JUMAT - Sama-sama membangun tim dengan mengusung sepak bola menyerang- yang didasari total football yang mulai diperagakan Ajax Amsterdam pada tahun 1970-an-Guus Hiddink dan Marco van Basten akan membawa Rusia dan Belanda untuk membuktikan siapa yang terbaik dalam menerjemahkan ilmu mereka.

Paling tidak, sampai dengan babak perempat final ini, Hiddink dan Van Basten termasuk dua sosok pelatih yang amat disorot. Itu berkat prestasi fenomenal Rusia dan hasil spektakuler Belanda.

Rusia menggusur Yunani dan Swedia, sedangkan Belanda dengan sedikit demonstratif menggilas Italia, Perancis dan Romania di grup maut.

Kembali ke belakang, Hiddink dan Van Basten jelas datang dari generasi berbeda. Pada tahun 1988, Van Basten menjadi man of the match di partai puncak Piala Eropa di Jerman (Barat).

Lewat aksinya yang melesatkan tendangan first time meneruskan umpan Arnold Muhren, gawang Uni Soviet yang dikawal kiper terkenal Renat Dasayev kebobolan. Gol itu melengkapi kemenangan Belanda atas Uni Soviet di final, 2-0.

Tahun yang sama, tetapi sebulan sebelumnya, Mei 1988, Hiddink lebih dulu merajai kancah Eropa, tetapi di tingkat klub dengan membawa PSV Eindhoven memboyong dua gelar, juara Eredevisie Belanda dan Piala Champions dengan mengalahkan Benfica di final.

Salah satu pemain yang berada di balik keberhasilan PSV dan Hiddink saat itu adalah Ruud Gullit yang kemudian bergabung dengan Van Basten dan Frank Rijkaard di AC Milan. Trio Belanda inilah yang membesarkan AC Milan yang terkenal dengan julukan "The Dream Team".

Selama delapan tahun di Mi- lan, Van Basten akhirnya mengundurkan diri pada saat cedera engkel kakinya yang telah mendapatkan operasi lebih dari sekali tidak juga sembuh. Tahun 1995, ketika Van Basten (saat itu berusia 30 tahun) mengumumkan pengunduran diri dari sepak bola, Hiddink justru untuk pertama kali memulai kariernya sebagai pelatih nasional.

Adalah KNVB (PSSI-nya Belanda) yang memercayakan tim "Oranye" kepada Hiddink. Akan tetapi, prestasi Hiddink ber- sama Belanda tidak sehebat ketika dia menukangi PSV Eindhoven, yang berhasil meraih enam gelar Eredevisie.

Hiruk-pikuk sepak bola Eropa dan dunia pun seakan-akan ikut menenggelamkan kehebatan Van Basten sebagai seorang penyerang tengah yang pernah begitu digandrungi remaja penggila bola pada tahun 1990-an.

Dia tidak saja memiliki skill individu sebagai penyerang tengah yang nyaris sempurna, tetapi pribadinya yang simpatik ikut memberikan nilai tambah baginya. Itu sebabnya Van Basten saat itu menjadi sangat terkenal di kalangan remaja.

Tahun 2003, mendadak Van Basten mulai dikenang kembali. Lewat sentuhannya sebagai pelatih di tim kedua, Ajax Amsterdam, Van Basten memulai kariernya sebagai pelatih.

Duel kedua

Laga di Basel, 21 Juni 2008, ini adalah duel kedua antara Hiddink dan Van Basten sebagai pelatih. Di pertemuan pertama keduanya sebagai pelatih, skor imbang 1-1, ketika Van Basten bersama Belanda ditahan Hiddink dan Australia dalam partai uji coba di Rotterdam, dua tahun lalu.

Paling tidak, hanya akan ada satu pelatih Belanda di semifinal seusai duel malam ini. Jika merujuk pada prestasi sebagai pemain, Van Basten yang akan bertahan. Sebaliknya, kalau rekor sebagai pelatih dengan prestasi segudang yang menentukan, Hiddink yang pantas melaju bersama Rusia.

Sebagai pelatih, Hiddink sangat fenomenal mengukir prestasi dalam enam tahun terakhir, khususnya ketika menangani tim nasional. Itu di luar prestasinya bersama PSV, Valencia, Fenerbahce, dan Real Madrid.

Tahun 2002, lewat sentuhan magisnya, Hiddink menyulap tuan rumah Korea Selatan menjadi kekuatan penyeimbang sekaligus menakutkan bagi tim-tim yang lebih mapan dari Eropa dan Amerika Latin. Korsel dibawa sampai ke semifinal Piala Dunia.

Empat tahun kemudian, petualangan Hiddink melambungkan Australia di Piala Dunia 2006 di Jerman. Hanya karena penalti kontroversial dari Francesco Totti, Australia akhirnya tersingkir secara tragis di tangan Italia.

"Lucky Guus"-begitulah sebutan mantan Presiden Rusia Vladimir Putin terhadap Hiddink-kini bersama Rusia di delapan besar. Tinggal dua langkah lagi mereka sampai di final untuk pertama dalam 20 tahun. Akan tetapi, yang dihadapi Rusia adalah Belanda, tim yang juga tidak pernah bermain di partai puncak dalam kurun waktu yang sama.

"Saya membesarkan tim ini dengan lebih mengutamakan pembangunan kepercayaan diri pemain. Mereka bukanlah pemain besar, tetapi mereka mempunyai segalanya untuk menjadi besar. Itulah yang kini coba kami perlihatkan dalam kejuaraan ini," tegas Hiddink.

Rusia memang harus diwaspadai, namun mereka harus sadar bahwa Belanda di bawah Van Basten menjadi satu-satunya tim yang paling produktif dari tiga pertandingan awal.

Rusia boleh memainkan total football a la Moskwa untuk mengirim pulang juara bertahan Yunani dan menghancurkan Swedia. Tetapi, mereka harus sedikit tahu diri ketika menghadapi total football ala Amsterdam.

Satu hal yang harus disadari betul oleh Hiddink bahwa permainan terbuka dan menyerang ala Rusia sangat cocok bagi Van Basten dan Belanda untuk mengembangkan total football asli. (REUTERS/AFP/YES)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/02215856/pembuktian.dua.guru.satu.ilmu
Read More...

Belanda Tak Ingin Main-main

17 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Lausanne, Kompas - Belanda tak ingin main-main pada laga ketiga Grup C Piala Eropa 2008, melawan Romania di Stade de Suisse, Bern, Selasa (17/6) ini. Tim oranye sudah memastikan diri lolos ke perempat final dan bakal ditunggu runner-up Grup D, kemungkinan diraih Swedia atau Rusia. Sebaliknya Romania butuh kemenangan untuk merebut tiket delapan besar.

Keinginan untuk tetap tampil dalam kemampuan terbaik diungkapkan penyerang Ruud van Nistelrooy, dalam konferensi pers bersama Pelatih Marco van Basten, di Olympic Museum, Lausanne, Swiss, Senin.

"Kami ingin bisa meneruskan penampilan kami pada dua partai sebelumnya, yang benar-benar memuaskan penggemar. Saat ini tim Belanda sedang dalam momentum yang bagus dan kami tidak ingin kehilangan itu pada pertandingan besok (hari ini)," ujar striker Real Madrid itu.

Van Nistelrooy hadir dalam jumpa pers seusai mengikuti latihan tim Belanda di La Pontaise, di tengah cuaca mendung diselingi sesekali hujan rintik kota Lausanne.

Pada pukul 11.00, saat latihan digelar, suhu udara Lausanne berkisar 16 derajat Celsius, setara dengan cuaca di kota-kota besar lain di Swiss.

Menurut Nistelrooy, ia dan rekan satu tim berada dalam suasana emosi yang bagus sehingga dia optimistis Belanda bisa kembali meraih hasil maksimal.

"Kami ingin menyiapkan tiap pertandingan dengan keseriusan yang sama. Tanpa memikirkan siapa lawan dan apakah kami sudah lolos atau belum," ujarnya.

Diplomasi Van Basten

Marco van Basten menekankan hal senada, sewaktu ditanya apakah ia akan menurunkan tim lapis kedua melawan Romania. Menurut pelatih yang terkenal dengan gol indah ke gawang Uni Soviet pada final Piala Eropa 1988 itu, ia mempunyai skuad 23 pemain profesional, yang setiap saat siap menampilkan aksi terbaik.

"Mereka pemain-pemain bertaraf dunia dengan standar A. Kualitas mereka bagus. Singkatnya, saya akan menyiapkan laga besok dengan konsentrasi dan perhatian yang sama dengan dua partai sebelumnya. Dengan demikian, singkat kata, yang berlaga melawan Romania adalah formasi terbaik Belanda," kata Van Basten.

Meski demikian, pelatih berusia 43 tahun itu secara tersirat juga mengungkapkan akan merotasi beberapa pemain. Salah satunya adalah striker Ajax Amsterdam, Klaas Jan Huntelaar, menggantikan Van Nistelrooy.

Selain Jan Huntelaar, Van Basten masih memiliki Jan Vennegoor of Hesselink (Celtic), Robin van Persie (Arsenal), yang siap dimainkan sebagai penyerang tengah. Juga Dirk Kuyt (Liverpool), yang saat melawan Italia dan Perancis dipasang sebagai gelandang serang.

Ulangi performa kualifikasi
Adapun Romania, pada pukul 18.00 waktu Swiss, atau pukul 23.00 WIB, menjajal lapangan Stade de Suisse. Menghadapi partai harus menang melawan Belanda, Adrian Mutu dan kawan-kawan terpacu untuk mengulangi performa mereka di babak kualifikasi. Pada kali pertemuan, tim asuhan Victor Piturca unggul agregat gol 1-0. Saat bertemu di Rotterdam, Romania menahan imbang tuan rumah tanpa gol. Adapun ketika menjamu Belanda di Constanta, mereka menang 1-0.

Gol semata wayang Romania diciptakan Dorin Goian. Romania akhirnya kukuh sebagai juara Grup F kualifikasi, dengan Belanda menjadi runner-up.

Jadi, pertandingan Selasa ini menjadi yang ketiga bagi keduanya dalam 15 bulan terakhir. Andai Piturca sukses memandu pemainnya memenangi laga hari ini, mereka melenggang ke perempat final, apa pun hasil laga Italia versus Perancis.

Romania mengemas dua angka hasil seri 0-0 dengan Perancis, dan 1-1 saat melawan Italia.

Sejak awal, ketika mengetahui tim asuhannya berada di grup neraka bersama Belanda, Perancis, dan Italia, Piturca tak merasa gentar.

"Ini grup paling berat, tetapi sekaligus yang paling atraktif. Romania sudah membuktikan pernah beberapa kali menang melawan tim tangguh. Jika kami berada dalam kondisi psikis dan fisik terbaik, kami bisa lolos dari grup," kata eks pelatih Steaua Bucharest itu. (Adi Prinantyo, dari Lausanne, Swiss)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/17/01582170/belanda.tak.ingin.main-main

Read More...

Tangan Dingin Van Basten

16 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Kemenangan dua laga awal putaran final Piala Eropa 2008 tim "Oranye" Belanda mencuri perhatian dunia. Tidak tanggung-tanggung, tim yang mereka kalahkan adalah Italia (3-0) dan Perancis (4-1). Keduanya pernah menjadi juara dunia.

Adalah Marco van Basten (43), sosok pelatih di balik skuad Oranye. Ia merupakan "anak emas" yang terpilih menggantikan Pelatih Dick Advocaat pasca-Piala Eropa 2004. Sebelum menjadi pelatih, Van Basten pernah menjadi striker timnas Belanda yang sukses menjuarai Piala Eropa 1988 bersama Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Ronald Koeman. Jika Belanda menjuarai Piala Eropa 2008, ia orang pertama yang menggaet piala ini sebagai pemain dan pelatih.

Kiprahnya di sepak bola profesional dimulai ketika berusia 18 tahun, bergabung dengan Ajax Amsterdam. Namanya melambung setelah berhasil membawa Ajax menjuarai Liga Belanda tahun 1982, 1983, 1985, 1986, dan 1987. Bersama Ajax, ia juga meraih Piala Nasional 1983, Juara Winner Cup Eropa 1987, dan mendapat "Sepatu Emas" Eropa 1986. Tercatat dari 172 laga bersama Ajax, ia mengoleksi 151 gol.

Setahun berikutnya ia hijrah ke tim elite Italia, AC Milan. Setahun di sana ia sudah merasakan menjadi juara Serie A Liga Italia. Namanya kian bersinar karena pada tahun 1988 Van Basten membawa Belanda menjadi juara Piala Eropa pertama kali. Tahun itu ia pun terpilih menjadi pemain terbaik Eropa dan dunia.

Selanjutnya dua tahun berturut-turut-1989 dan 1990-ia membawa AC Milan menjadi juara Liga Champions, Piala Super Eropa, serta Piala Intercontinental. Bahkan, pada 1989 ia terpilih menjadi pemain terbaik Eropa untuk kedua kalinya. Gelar pemain terbaik Eropa dan dunia kembali diraihnya tahun 1992. Top scorer Serie A Liga Italia itu juga membawa timnya merebut kembali juara Serie A.

Tahun 1993 menjadi akil balik kariernya sebagai pemain. Meski AC Milan menjadi juara Serie A dan finalis Liga Champions, tahun itu ia terpaksa mengakhiri karier sebagai pemain. Saat final Liga Champions menghadapi klub Perancis, Marseille, pemain lawan, Basile Boli, melakukan tackling keras sehingga kakinya cedera parah. Tahun 1995, pada usia 28 tahun, ia memutuskan untuk gantung sepatu.

Tahun 2002, ia menjadi pelatih pengganti di klub asalnya, Ajax Amsterdam. Juli 2004, Federasi Sepak bola Kerajaan Belanda (KNVB) memilihnya menjadi pelatih tim nasional. Publik Belanda sempat meragukan kemampuannya sebagai pelatih. Keraguan itu perlahan sirna setelah dalam 15 laga berikutnya, Belanda menjadi tim yang tak terkalahkan.

Di bawah kepemimpinan Van Basten, publik Belanda bisa berharap menjuarai Piala Eropa 2008. Sesudah itu, dipastikan ia mengundurkan diri sebagai pelatih timnas dan akan melatih klub Ajax Amsterdam. (C Wahyu Haryo PS)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/15/0123032/tangan.dingin.van.basten.untuk.kejayaan .tim.oranye
Read More...

Belanda Punya "Hero" Baru

| Label: , , | 0 komentar |

Bern, Kompas - Boleh saja menobatkan Ruud van Nistelrooy, Wesley Sneijder, dan Giovanni van Bronckhorst sebagai pahlawan kemenangan Belanda, karena gol mereka yang membuat Italia tumbang 3-0. Akan tetapi, bintang yang tak kalah bersinar pada laga Senin (9/6) malam lalu di Stade de Suisse, Bern, adalah duet gelandang bertahan Orlando Engelaar dan Nigel de Jong.

Duet ini pilihan spekulatif pelatih Marco van Basten, setelah dua andalan mereka: Mark van Bommel (Bayern Muenchen) dan Clarence Seedorf (AC Milan), menolak bergabung dengan tim nasional. Dengan formasi 4-2-3-1, sesuai tactical line up yang diedarkan di kalangan wartawan, van Basten akhirnya memasang Engelaar-de Jong, di belakang trio gelandang serang: Dirk Kuyt, Rafael van der Vaart dan Wesley Sneijder.

Pilihan van Basten tak keliru. Dari pengamatan Kompas, duet ini sukses membendung awal serangan Italia, yang mayoritas dikoordinir Andrea Pirlo. Dengan demikian, tugas kuartet bertahan Andre Ooijer, Joris Mathijsen, Khalid Boulahrouz dan Giovanni van Bronckhosrt, tak terlalu berat. Para pemain bertahan tinggal memungkasi umpan-umpan panjang. Sedangkan umpan pendek dari kaki ke kaki, lebih dulu dihalau Engelaar dan de Jong.

Di luar dugaan
Keberadaan Engelaar dan de Jong tergolong di luar dugaan. Maklum, Engelaar masih hijau di tim oranye, karena baru tujuh kali tampil untuk tim nasional.De Jong pun bukan pilihan utama setelah tiadanya Bommel dan Seedorf, karena masih ada van Bronckhorst yang juga bisa ditampilkan sebagai gelandang bertahan, serta pemain AZ Alkmaar, Demy de Zeeuw.

Engelaar yang tinggi badannya mencapai 198 sentimeter, termasuk salah satu pemain tertinggi di Liga Belanda, efektif menghalau bola-bola lambung. Berpasangan dengan De Jong yang hanya 174 sentimeter, duet ini terlihat seperti maxi-mini.

Kemenangan pada laga perdana ini, diakui Dirk Kuyt, menghadirkan pesta kecil-kecilan di kamar ganti tim Belanda, usai laga tersebut. "Ada perayaan mendadak di ruang ganti pemain. Saya kira wajar, karena kami mengalahkan Italia, juara dunia tiga kali," kata Kuyt kepada sejumlah wartawan termasuk Kompas, usai pertandingan tersebut.

Namun, lanjut penyerang Liverpool itu, meski hasil maksimal itu layak disyukuri, itu baru hasil partai pertama. Masih ada dua laga berikut yang tak kalah pentingnya, yakni melawan Perancis dan Romania. "Malam ini memang penampilan hebat tim Belanda. Terutama dengan serangan balik yang brilian dan sukses menghasilkan gol kedua," kata Kuyt, yang juga berkontribusi dalam gol kedua dengan assist kepada Sneijder. (Adi Prinantyo, dari Bern Swiss)

Aksi 90 Menit Milik Belanda
Bern, Kompas - Setelah gagal tampil impresif di Piala Dunia, tim Belanda menghadirkan permainan menawan pada partai perdana mereka di Grup C Piala Dunia, Senin (9/6) malam di Stade de Suisse, Bern, Swiss. Tak tanggung-tanggung, dominasi tim Oranye sepanjang 90 menit pertandingan, menghadirkan kekalahan telak 0-3 bagi juara dunia tiga kali, Italia.

Meski kalah, tim "Azzurri" sebenarnya sempat beberapa kali membahayakan gawang Edwin van der Sar. Saat laga baru memasuki menit ketiga misalnya, pemain sayap muda, Antonio di Natale sudah mengoper bola umpan matang ke muka gawang. Namun bola yang ibarat tinggal "disantap" itu, gagal disambar Luca Toni.

Namun, setelah itu Belanda mulai menemukan irama permainan menyerang khas mereka, yang malam itu dipasang van Basten dalam formasi yang tergolong "langka" untuk Belanda: 4-2-3-1. Sesuai tactical line up yang diterima wartawan, di depan kuartet pertahanan Andre Ooijer, Khalid Boulahrouz, Joris Mathijsen dan Giovanni van Bronckhorst; van Basten memasang duet gelandang bertahan Orlando Engelaar dan Nigel de Jong.

Sedangkan tiga gelandang serang yang disiagakan di belakang striker tunggal Ruud van Nistelrooy, adalah Dirk Kuyt, Rafael van der Vaart, dan Wesley Sneijder. Formasi itu memungkinkan Belanda terus mengurung pertahanan Italia, yang memasang duet bek tengah Marco Materazzi dan Andrea Barzagli.

Belanda memperoleh kans pertama pada menit ke-10, lewat sepakan free kick Sneijder, yang mental oleh pagar betis pemain Italia, sebelum disambar van der Vaart lalu ditangkap Gianluigi Buffon. Setelah itu, peluang bertubi-tubi lahir buat tim Oranye.

Menit ke-17, variasi umpan Kuyt dan Nistelrooy membuat bola mengarah ke kotak penalti, namun bola keburu dihalau Buffon. Enam menit kemudian, giliran bola tendangan bebas Sneijder yang dibuang Materazzi.

Gol yang dinanti-nanti puluhan ribu suporter Belanda yang memenuhi dua pertiga kapasitas Stade de Suisse, yang berkapasitas 30.777 tempat duduk, lahir pada menit ke-25. Nistelrooy menyambar bola tendangan Sneijder, dalam posisi berbau offside. Meski demikian, wasit Peter Frojdfeldt tetap mengesahkan gol itu.

Tim "Azzurri" yang asyik menyerang setelah tertinggal satu gol, akhirnya lengah dalam bertahan. Lima menit kemudian, Belanda menghadirkan serangan balik, yang layak dianggap sebagai salah satu proses gol terindah selama Euro kali ini.

Van Bronckhorst yang menyusur sayap kiri, mengirim umpan lambung ke sayap kanan, di mana ada Kuyt. Tanpa didahului kontrol bola, Kuyt menyundul bola ke posisi Sneijder. Gelandang Real Madrid itu menyontek bola ke gawang, dan 2-0.

Keunggulan dua gol Belanda bertambah pada menit ke-78, lewat sundulan van Bronckhorst, dengan posisi Buffon yang sudah keluar dari sarangnya. Belanda bisa unggul 5-0, andai bola tendangan Ibrahim Afellay tidak membentur mistar, dan sepakan Robin van Persie tidak menyamping. (Adi Prinantyo, dari Bern, Swiss)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/11/02023810/belanda.punya.hero.baru
Read More...