Tampilkan postingan dengan label Sejarah EURO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah EURO. Tampilkan semua postingan

Statistik lengkap Euro 2008

30 Juni 2008 | Label: , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN-Berikut ini statistik Euro 2008 setelah usai pertandingan final Spanyol melawan Jerman seperti dilaporkan dalam www.uefa.com, Senin waktu setempat

Total gol
77

Pencetak gol terbanyak: (4)
David Villa (Spanyol)

Paling banyak mencetak gol (12)
Spanyol

Paling sedikit mencetak gol (1)
Austria
Polandia
Romania
Yunani
Prancis

Paling banyak kemasukan gol (9)
Turki

Paling sedikit kemasukan gol (2)
Kroasia, Spanyol

Total tembakan (892)

Pemain banyak menembak (28)
Roman Pavlyuchenko (Rusia)

Kesebelasan paling banyak menembak (117)
Spanyol

Kesebelasan paling sedikit menembak (33)
Swedia
Romania

Pertandingan yang banyak melakukan tembakan (54)
Belanda v Rusia

Total penyelamatan (247)

Kiper paling banyak menyelamatkan (35)
Igor Akinfeeev (Rusia)

Paling banyak tendangan pojok (41)
Rusia

Paling sedikit tendangan pojok (9)
Romania

Total kesalahan (1.118)

Paling banyak melakukan kesalahan (114)
Spanyol

Paling sedikit melakukan kesalahan (45)
Yunani

Total kartu kuning (122)

Paling banyak kartu kuning (16)
Turki

Paling sedikit kartu kuning (3)
Swedia

Kartu merah dalam turnamen (3)
Volkan Demirel (Turki)
Bastian Schweinsteiger (Jerman)
Eric Abidal (Prancis)

Total offsides (17)
Portugal
Jerman

Paling sedikit offside (1)
Austria

(ANT/RTR/ROY)
Read More...

1968: Pergantian Nama

26 Juni 2008 | Label: | 0 komentar |

Piala Eropa 1968 dianggap sebagai turnamen yang pertama karena secara resmi menggunakan nama The European Championships dan menggantikan nama European Nations Cup. Turnamen ini juga menjadi monumental karena melibatkan peserta lebih banyak, yaitu 31 negara. Apalagi di dalammnya ikut nama-nama besar seperti juara dunia, runner-up dan juara ketiga Piala Dunia yaitu Inggris, Jerman Barat dan Portugal. Juga tim-tim dengan nama besar seperti Spanyol, Uni Soviet dan Italia.

Italia menjadi tuan rumah pertandingan semifinal dan final. Dalam semifinal pertama Italia harus menghadapi tim kuat blok timur, Uni Soviet di Napoli. Semnetara juara dunia Inggris menghadapi blok timur lainnya, Yugoslavia, di Florence.

Italia yang tampil dengan tim baru setelah disisihkan secara memalukan oleh Korea Utara di Piala Dunia 1966, tampil tanpa inspirasi. Dengan sejumlah pemain muda seperti penjaga gawang Dino Zoff, Italia bermain imbang 0-0 dengan Uni Soviet hingga perpanjangan waktu. Italia akhirnya memang lolos ke final, namun itu pun harus ditentukan melalui undian.

Sementara Inggris yang tampil dengan tim juara dunia 1966 tampil mengecewakan. Mereka dipermalukan Yugoslavia yang tampil dengan skuad muda. Inggris tersingkir setelah kalah 0-1.

Partai final mempertemukan tuan rumah Italia lawan Yugoslavia. Penonton membludak, mencapai 60 ribu orang. Pertandingan berlangsung ketat. Para pemain muda Yugoslavia mengejutkan tuan rumah Italia. Pertandingan pun hanya berakhir 1-1. Partai final harus diulang di Roma. Saat itu belum ada sistem perpanjangan waktu dan adu penalti. Di partai ulangan yang disaksikan 75 ribu penonton, tuan rumah menang 2-0.

(Tjahjo Sasongko)

1972: Awal Dominasi Jerman

Belgia ditunjuk sebgagai tuan rumah partai semifinal dan final Piala Eropa 1972. Peta kekuatan masih belum bergeser, namun Jerman Barat merupakan kekuatan yang sangat dominan. Menempati peringkat ketiga Piala Dunia 1970, tim Jerman diperkuat penjaga gawang Sepp Maier, pemain belakang Franz Beckenbauer dan Berti Vogts, pemain tengah Gunter Netzer serta ujung tombak Der Bomber, Gerd Mueller.

Dari 32 negara kontestan, empat negara lolos ke babak semifinal, yaitu Jerman Barat yang menghadapi Belgia serta Uni Soviet menghadapi sesama blok timur, Hungaria. Skenario berjalan mulus, Jerman Barat bertemu Uni Soviet di babak final.

Di hadapan 43.437 penonton dalam final di Brussels, Uni Soviet nyata-nyata bukan tandingan Jerman Barat. Permainan kolektif Asatiani dkk mampu diredam permaian kolektif yang lebih atraktif dan inspiratif dari anak-anak asuhan Helmut Schoen. Gerd Muller dkk mampu juara setelah menang 3-0. Sukses itu mengawali dominasi sepak bola Jerman di Piala Eropa.


(Tjahjo Sasongko)

1976: Cekoslovakia Kacau Skenario

Piala Dunia 1974 di Jerman Barat memperlihatkan perseteruan klasik antara tuan rumah dengan tim Belanda. Jerman Barat dengan nama-nama besar seperti Franz Beckenabeur, Gerd Muller, Netzer dan Rainer Bonhoff saat itu keluar sebagai juara. Meski sebenarnya mereka kalah pamor dengan runner-up Belanda yang tampil revolusioner dengan total football mereka. Nama-nama seperti Johan Cruyff, Johan Neeskens, Johnny Rep maupun Rene van der Kerkhof merupakan pemain idola pada masa itu.

Karena itulah orang mengharap akan terjadi ulangan final Piala Dunia 1974. Jerman Barat akan kembali menghadapi Belanda.

Skenario ini seperti berjalan mulus hingga memasuki babak semifinal. Belanda menghadapi Republik Cekoslowakia, sementara Jerman Barat menghadapi tuan rumah Yugolsvia.

Sayangnya, saat melawan Cekoslowakia, Belanda tanpa kekuatan penuh. Johan Neeskens dan Wim van Hanegem terkena kartu merah. Praktis Belanda hanya mampu bertahan untuk tidak kalah dan bermain imbang 1-1 dalam 90 menit. Dalam perpanjangan waktu, keuletan Belanda runtuh. Cekoslowakia menambah dua gol melalui Zdenek Nehoda dan Moder. Pupuslah skenario ulang final Piala Dunia 1974.

Sementara, Jerman Barat mampu lolos ke final dengan menyisihkan tuan rumah Yugoslavioa 4-3. Namun di babak final, Franz Beckenabuer tidak mampu menemukan lagi keberuntungan seperti di kandang sendiri pada 1974. Mereka dikalahkan Cekoslwakia melalui adu penalti setelah dalam waktu 120 menit kedua tim bermain imbang 2-2.


(Tjahjo Sasongko)

1980: Lebih Terpusat

Piala Eropa keenam tahun 1980 menjadi lebih besar. Terjadi perubahan sistem kejuaraan yang sangat signifikan. Bila hingga 1976 tuan rumah hanya menyelenggarakan pertandingan semifinal dan final dengan empat negara peserta, Italia menjadi tuan rumah dari delapan negara peserta. Putaran final pun menjadi lebih terpusat.

Partai ulang final Piala Dunia 1974 antara Jerman Barat dan Belanda akhirnya terjadi di Napoli dalam penyisihan Grup I. Meski Jerman Barat tidak lagi diperkuat Der Bomber Gerd Muller, mereka masih memiliki Klaus Allofs dan Horst Hrubesch. Allofs mencetak tiga gol ke gawang Belanda, sementara Tim Oranye hanya mampu membalas dua gol melalui Johnny Rep dan Willy van de Kerkhof.

Jerman Barat untuk kedua kalinya sukses menjuarai turnamen. Di babak final, Horst Hrubesch memborong dua gol Jerman Barat saat mengalahkan Belgia 2-0.


(Tjahjo Sasongko)

1984: Kebangkitan Perancis

Piala Eropa 1984 menjadi saksi kebangkitan kembali sepakbola Perancis yang sempat mati suri pascaera Raymond Kopa dan Just Fontaine pada akhir dekade 1950-an. Meski sempat tampil pada Piala Dunia 1978 dan 1982, Perancis masih dianggap sebagai kekuatan kelas dua di Eropa di bawah kekuatan lama seperti Jerman Barat dan Italia.

Tim perancis 1984 merupakan tim yang menjadi cikal bakal gaya bermain tim Les Bleus hingga saat ini. Mereka mengembangkan pola permainan yang menekankan pada kekuatan lapangan tengah. Saat itu Perancis menumpuk lima gelandang yaitu, latini, Giresse, Tigana, Genghini, Lacombe. Platini menjadi jenderal sekaligus eksekutor.

Nyaranya tim Perancis sejak awal menunjukkan tanda-tanda tidak tertandingi. Mereka mengalahkan Denmark, Belgia dan Yugsolavia di penyisihan grup tanpa pernah kebobolan. Mereka maju ke semifinal menghadapi Portugal sebagai runner-up Grup 2. Sementara Spanyol menjadi juara grup dan menghadapi Denmark.

Bagi Perancis, pertandingan semifinal lawan Portugal paling berat. Mereka harus bersusah-payah untuk mengalahkan Portugal 3-2 melalui perpanjangan waktu. Di final mereka harus menghadapi Spanyol yang sebelumnya mengalahkan Denmark 5-4 di semifinal lainnya melalui adu penalti.

Final lebih menjadi ajang pamer kekuatan Perancis. Michel Platini dkk terlalu kuat buat kubu Spanyol yang akhirnya harus bertekuk lutut 0-2.


(Tjahjo Sasongko)

1988: Belanda, Kesempurnaan Total Football

Jerman Barat ditunjuk sebagai tuan rumah untuk perhelatan kedelapan pada 1988, yang dimainkan dengan format serupa dengan 1984. Di bawah manajer Franz Beckenbauer, mereka berharap dapat mencetak sukses seperti saat mereka menyelenggarakan Piala Dunia 1974.

Jerbar tampil meyakinkan dalam kualifikasi Grup A. Mereka mencatat 2 kali menang, satu kali seri dan mengumpulkan nilai 5. Jerman unggul dalam selisih gol atas Italia yang keluar sebagai runner-up.

Namun, sebagai juara grup, Jerman Barat justru bertemu Belanda yang menjadi runner-up Grup B. Sang arsitek total football, Rinus Michel, kembali menangani timnas Belanda. Diunggulkan saat turnamen dimulai, Belanda kalah 0-1 dari Uni Soviet yang keluar sebagai juara grup.

Dalam semifinal di Hamburg, Belanda tidak mengulangi kesalahan seperti 1974. Permainan total football mereka terasa sudah sempurna. Mereka tanpa kesulitan unggul 2-1 atas tuan rumah Jerman Barat dan lolos ke babak final menghadapi Uni Soviet yang menyisihkan Italia di semifinal lainnya.

Final Piala Eropa 1988 merupakan partai yang pantas dikenang. Uni Soviet tampil dengan penjaga gawang utama Rinat Dessaev, namun Belanda lebih super dengan pemain-pemain seperti Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Ronald Koeman dan Marco van Basten. Di final yang dilangsungkan di Stadion Olimpiade Muenchen, Belanda unggul 2-0 melalui gol Ruud Gullit dan Van Basten.

(Tjahjo Sasongko)

1992: Kejutan dari Sang Pengganti

Turnamen kesembilan dilangsungkan di Swedia dalam situasi Eropa yang sudah berubah. Salah satu kekuatan utama blok timur, Uni Soviet, sudah bubar menjadi negara-negara independen (CIS).

Sementara Yugoslavia yang sedang dalam kondisi diboikot, tidak dapat tampil di ajang Piala Eropa ini. Padahal, sebelumnya mereka sudah memastikan lolos ke putaran final. UEFA ikut memboikot Yugoslavia. Sebagai gantinya di putaran final, UEFA menunjuk Denmark yang sebenarnya tidak lolos ke Swedia. Namun, karena di babak kualifikasi berada di bawah

1996: Football Comes Home

Pecahnya negara-negara Eropa Timur seperti Yugoslavia dan Cekoslovakia membuat peserta Piala Eropa 1996 membengkak menjadi 48 negara. Karena itulah jatah tim yang berhak maju ke putaran final ditambah menjadi 16 negara.

Inggris mendapat giliran menjadi penyelenggara. Merasa sebagai penemu sepak bola modern, Inggris memberi tajuk kejuaraan ini dengan "Football Comes Home" (sepakbola kembali ke tanah kelahiran). Sebuah klaim yang sering dianggap arogan.

Sayang Inggris kandas di babak semifinal. Adalah Jerman di bawah pimpinan pelatih Berti Vogts yang menjadi penghadang. Jerman kemudian keluar sebagai juara dengan mengalahkan Republik Ceko di babak final yang berlangsung dengan sistem sudden death.
Jika terjadi hasil imbang, maka akan dilaksanakan perpanjangan dengan sistem gol emas.
Artinya, siapa pun yang mencetak gol di masa perpanjangan, akan memenangkan pertandingan. Tak peduli apakah gol itu baru tercipta di menit pertama.
Jerman sebenarnya kesulitan menghadapi Republik Ceko yang baru terbentuk setelah pecah dari Slovakia. Bahkan, Rep. Ceko unggul lebih dulu lewat gol Patrick Berger. Namun, Oliver Bierhoff menyamakan kedudukan dan memaksa perpanjangan waktu.
Oliver Bierhoff pula yang mencetak gol emas saat perpanjangan waktu baru berlangsung lima menit. Gol yang benar-benar menyesakkan Rep. Ceko.


(Tjahjo Sasongko)

2000: Vive Les Blues!

Untuk pertama kalinya turnamen terbesar Eropa ini diselenggarakan di dua negara secara bersama-sama. Geografi Belanda dan Belgia yang berdampingan memungkinkan mereka menjadi tuan rumah bersama.

Namun, hanya Belanda yang lolos ke babak semifinal. Tim asuhan pelatih Frank Rijkaard ini tampil perkasa di perempat final dengan menghancurkan tim Yugoslavia 6-1. Sayang di babak semifinal mereka disingkirkan Italia melalui adu penalti, setelah bermain imbang 0-0 dalam 120 menit.

Sementara di semifinal lainnya, Perancis menyingkirkan Portugal 2-1 yang ditandai dengan kartu merah yang dikenakan buat pemain Portugal, Luis Figo.

Pertandingan final di stadion De Kuip, Rotterdam berlangsung menegangkan. Italia menampilkan permainan asli mereka, catenaccio yang sangat ketat dengan serangan balik secara sporadis. Mereka memetik hasilnya pada menit ke-54 lewat gol Marco Delvecchio.

Les Bleus yang dua tahun sebelumnya menjuarai Piala Dunia, tampil meyakinkan. Mereka terus menekan gawang Italia yang dijaga Francesco Toldo. Hasilnya, pada menit ke-90 Sylvain Wiltord mencetak gol bpenyama kedudukan, 1-1. Pada perpanjangan waktu, David Trezeguet mencetak gol emas yang mengantar Perancis meraih dua gelar juara, juara dunia dan Eropa!

(Tjahjo Sasongko)

2004: Kejutan Negeri Seribu Dewa

Yunani adalah kejutan terbesar Euro 2004 di Portugal. Negeri Seribu Dewa ini membuka turnamen dengan kemenangan atas tuan rumah Portugal dan menutupnya di final dengan kemenangan atas lawan yang sama. Namun, kemenangan yang terakhir menghasilkan gelar juara.

Yunani di bawah asuhan pelatih asal Jerman, Otto Rehhagel, memang samasekali tidak diperhitungkan. Bahkan meski telah menang atas Portugal di babak penyisihan grup dan mengalahkan Perancis 1-0 di perempat final, mereka masih tetap dianggap sebagai tim yang banyak diuntungkan dewi fortuna.

Di babak semifinal mereka meneruskan kejutan dengan mengalahkan Republik Ceko 1-0 melalui gol Dellas di babak perpanjangan waktu. Mereka kemudian maju ke final untuk kembali berhadapan dengan tuan rumah Portugal yang menyingkirkan Belanda 2-1 di babak semifinal.

Akhirnya, Yunani memastikan keperkasaan mereka di babak final. Di hadapan 62.685 penonton yang memadati Estadio De Luz, Lisbon, Yunani tampil dengan keyakinan diri tinggi. Meski lebih sering diserang, mereka akhirnya mengalahkan Cristiano Ronaldo dkk melalui gol Charisteas di menit ke-57. Seluruh rakyat Portugal pun menangis. Perlengkapan pesta yang telanjur dipersiapkan, menjadi sia-sia belaka.

(Tjahjo Sasongko)

http://bolaeropa.kompas.com/sejarah

Read More...

1964: Tumbangkan Juara Bertahan

| Label: | 0 komentar |

Nama European Nations Cup masih digunakan saat penyelenggaraan Piala Eropa ini pada 1964. Kali ini peserta bertambah menjadi 29 dari 33 negara anggota. Babak penyisihan dilangsungkan dengan sistem home and away dengan babak semifinal dan final mengambil tempat di Spanyol.

Setelah mengalahkan Hungaria 2-1 di semifinal, tuan rumah Spanyol lolos ke babak final. Mereka harus menghadapi juara bertahan Uni Soviet yang menyisihkan Denmark di semifinal lainnya dengan skor telak 3-0.

Dan di final yang berlangsung di stadion Chamatin, Madrid, tuan rumah Spanyol bermain kesetanan. Dalam pertandingan yang dipimpin wasit Holland dari Inggris ini, Spanyol menang tipis 2-1.

(Tjahjo Sasongko)

http://bolaeropa.kompas.com/sejarah


Read More...

1960: Perjuangan Sang Perintis

| Label: | 0 komentar |

Dalam hal kejuaraan antarnegara, Eropa sebenarnya tertinggal dibandingkan benua lain. Negara-negara Amerika selatan telah memulainya pada 1916, sementara negara-negara Asia dan Afrika juga telah melakukannya pada dekade 1950-an.

Keresahan inilah yang menghinggapi Henri Delaunay yang saat itu menjabat sebagai sekjen federasi sepakbola Perancis. Menyadari ketertinggalan ini, selama tahun-tahun 1950-an, Delaunay melobi pengurus sepak bola negara-negara Eropa untuk menyelenggarakan sebuah turnamen yang menjadi milik semua negara Eropa.

Saat itu memang sudah ada beberapa turnamen antarnegara meski masih bersifat regional. Negara-negara Britania Raya seperti Skotlandia, Inggris dan Irlandia telah menyelenggarakan sendiri turnamen sendiri untuk wilayahnya. Kemudian negara-negara Skandinavia memiliki Piala Nordic yang diperebutkan Denmark, Finlandia, Norwegia dan Swedia. Begitu pun negara-negara Eropa Tengah juga memiliki kejuaraan sendiri yang melibatkan Cekoslovakia, Hungaria, Italia dan Swiss.

Dengan kemampuan lobinya, Delaunay berhasil mengatasi rasa ego negara-negara tersebut. Meski dengan setengah hati, kejuaraan antarnegara Eropa pertama dengan nama resmi European Nations Cup dilangsungkan. Dikatakan setengah hati, karena dari 33 anggota UEFA, hanya 17 negara yang berperan serta. Negara-negara kuat pelanggan Piala Dunia seperti Jerman Barat, Inggris dan Italia menolak ikut serta.

Saat itu, negara-negara blok timur seperti Yugoslavia, Cekoslovakia dan Uni Soviet memang sangat kuat. Mereka menerapkan permainan sepak bola kolektif yang mengandalkan kekuatan fisik serta teknik yang tinggi. Tuan rumah Perancis yang berusaha membela kehormatan negara-negara blok barat tampil pincang tanpa pemain-pemain utama seperti Raymond Kopa dan top skorer Piala Dunia, Just Fontaine. Mereka akhirnya hanya menempati posisi keempat.

Dalam pertandingan final di Paris yang disaksikan 17.966 penonton, Uni Soviet menabalkan diri sebagai juara. Di final, Soviet yang mengandalkan ketangguhan penjaga gawang ajaib, Lev Yashin, berhasil mengalahkan Yugoslavia 2-1.

(Tjahjo Sasongko)

http://bolaeropa.kompas.com/sejarah
Read More...

Sejarah Piala Eropa

15 Juni 2008 | Label: , | 0 komentar |

1960
Uni Soviet dapat membusungkan dada sebagai tim yang kali pertama keluar sebagai juara Piala Eropa pada 1960, setelah mengalahkan Cekoslowakia 2-1 lewat perpanjangan waktu. Laga yang diadakan pada 10 Juli 1960 itu digelar di Paris dengan dihadiri 17.966 penonton. Soviet tampil sebagai kampiun berkat polesan pelatih Gavril Kathchalin. Kapten kesebelasan Igor Netto.

1964
Di tengah lantangnya dominasi Soviet waktu itu, Spanyol mampu unjuk gigi. Negeri yang waktu itu dipimpin oleh Jenderal Franco mengalahkan Soviet 2-1 dalam pertandingan yang digelar di Spanyol. Spanyol dilatih oleh Jose Villalonga/Miguel Munoz. Laga diadakan pada 21 Juni dengan disaksikan 79.115 penonton. Gol menentukan Spanyol dicetak oleh salah satu ikon negeri itu Marcellino lewat sundulan kepala enam menit menjelang pertandingan selesai.

1968
Tahun ini Italia juara setelah bermain imbang 1-1 melawan Yugoslavia dalam laga yang diadakan pada 8 Juni. Dua hari kemudian, Italia mencetak dua gol untuk mengusir pulang lawannya. "Azzuri" waktu itu dilatih oleh Ferrucio Valcareggi. Ban kapten dikenakan oleh Giacento Facchetti. Yugoslavia maju ke final setelah menang 1-0 atas Inggris.

1972
Tahun kebangkitan Jerman Barat yang waktu itu diperkuat oleh Sepp Maier, Franz Beckenbauer, dan Gerd 'Das Bomber' Muller. Tim Panzer mengaramkan Uni Soviet 3-0 dalam laga final yang dipentaskan di Brussel di tengah gemuruh 43.066 penonton. Helmut Schoen waktu itu jadi arsitek Jerman. Muller menyarangkan dua gol. Sebelum melaju ke final, Jerman menyingkirkan Belgia di semi-final, sementara Soviet menekuk Hungaria 1-0. Jerman mengukuhkan diri sebagai kekuatan sepakbola dunia waktu itu dengan menyabet gelar Piala Dunia 1974.

1976
Cekoslowakia bak meteor karena melesat kemudian menantang Jerman pada final yang digelar pada 20 Juni. Kedua tim bermain imbang 2-2. Lewat perpanjangan waktu, pelatih Vaclav Jezek membawa Cekoslowakia merebut gelar Piala Eropa lewat adu penalti 5-3. Laga diselenggarakan di Beograd di tengah 30.790 penonton.

1980
Ini kali pertama Piala Eropa diikuti oleh delapan tim, sebelumnya hanya empat tim. Kejutan terjadi karena Belgia masuk final, meski akhirnya harus mengakui keperkasaan Jerman 1-2 dalam laga yang ketat. Belgia menyingkirkan sejumlah negara yang telah malang melintang di arena sepakbola Eropa. Sebut saja, Italia yang menjadi tuan rumah dan Inggris. Dua gol yang disarangkan oleh Horst Hrubesch membungkam harapan pendukung Belgia. Tokoh di balik sukses Jerman yakni pelatih Jupp Derwall.

1984
Di hadapan publik Paris, Prancis menorehkan sejarah dalam lintas sejarah sepakbola Eropa dengan mengalahkan Spanyol 2-0 dalam laga final yang diselenggarakan pada 27 Juni. Prancis memupus Jerman Barat yang nota bene telah mendominasi kancah sepakbola di Eropa jaman itu. Sebelum menantang Spanyol, Prancis yang dilatih oleh Michel Hidalgo mampu menekuk Portugal di laga semi-final. Nama Michel Platini mulai mencuat dan mengundang decak kagum pecinta sepakbola dunia. Prancis juga diperkuat oleh gelandang Jean Tigana.

1988
Tahun ini nama Ruud Gullit mulai berkibar. Belanda tampil sebagai juara mengalahkan Uni Soviet 2-0 dalam laga final yang diadakan pada 25 Juni dengan disaksikan 62.770 penonton. Belanda di bawah pelatih Rinus Michel mengintroduksi total football. Publik yang menyaksikan laga final mendapat suguhan menawan dengan gol Marco van Basten. Dia melakukan tendangan voli yang membuat penjaga gawang Soviet Rinat Dasaev tampak terperangah. Soviet terus menggempur pertahanan Belanda. Kiper Belanda Hans van Breukelen membuat beberapa aksi penyelamatan, bahkan menghalau tendangan penalti yang dieksekusi oleh salah satu pemain depan Soviet. Panji Belanda begitu kokoh berkibar karena ditopang oleh sejumlah pemain berkualitas, misalnya van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard. Jerman Barat merasakan keampuhan dari trio Belanda itu di laga semi-final.

1992
Tahun ini Denmark mulai mendongeng kepada pubik dunia. Di bawah pelatih Richard Moeller-Nielsen, Jerman mengakui kehandalan pasukan Negeri Dongeng dengan skor 0-2. Dengan kapten kesebelasan Lars Olsen, publik Gothenburg tersentak karena Denmark di bawah kapten Lars Olsen mampu memotivasi rekan-rekannya untuk meredam laju "Tim Panzer" Jerman. "Seharusnya saya membangun sebuah dapur baru. Meski kami tampil di Swedia," kata Moeller-Nielsen. "Saya telah selesai membangun dapur itu. Saya telah menjadi dekorator profesional di sini." Tim asal negeri penulis dongeng anak-anak Hans Christian Andersen ini bertumpuk kepada dua pemain bersaudara Michael Laudrup dan Brian Laudrup. Keduanya memporakporandakan barisan pertahanan Belanda di semi-final. Tim total football mengakui bahwa Denmark sedang memasang dinamit ke segala lini pertahanan lawan. Penjaga gawang Peter Schmeichel mampu menahan tendangan penalti yang diambil oleh van Basten.

1996
Ini kali pertama Piala Eropa diikuti oleh 16 negara, yang sebelumnya delapan negara. Jerman di bawah pelatih Berti Vogts mengakhiri kerinduan publik untuk memboyong Piala Eropa. Jerman memupus harapan Ceko dengan skor 2-1. Nama Oliver Bierhoff mengukir nama sebagai pencetak gol emas bagi timnya dalam laga yang digelar di stadion Wembley, Inggris yang dihadiri 73.611 penonton. Pada tahun ini juga, Prancis mencatat tinta emas sejarah dengan melahirkan sejumlah pemain berkelas, yakni Zinedine Zidane dan Bixente Lizarazu. Empat tahun kemudian, Prancis dibaptis sebagai juara Piala Eropa.

2000
Ini tahun pemenuhan bagi Prancis di bawah asuhan pelatih Roger Lemere. Lahirnya generasi emas Prancis terus menebar bibit ketakutan kepada semua tim yang coba menantang di setiap laga. Italia kena batunya. Tim Azzuri kalah 1-2 dalam final yang diadakan di hadapan publik Rotterdam. Prancis memberi kepercayaan kepada Didier Deschamps sebagai kapten kesebelasan. Gol kemenangan Prancis dicetak oleh David Trezeguet setelah kedua tim menjalani perpanjangan waktu.

2004
Tampil sebagai tim underdog, Yunani di bawah asuhan pelatih Otto Rehhagel asal Jerman mampu membungkam Portugal dengan skor 1-0 di laga final yang digelar di Lisbon. Publik tuan rumah sontak terdiam dengan gol semata wayang yang dicetak oleh Angelos Charisteas. Luis Figo yang mengusung label sebagai generasi emas seakan mengalami mimpi buruk dengan kalah di hadapan publik sendiri. Kenangan manis dari negeri para filsuf ini tercatat saat memberi pelajaran kepada Republik Ceko yang saat itu diperkuat oleh sejumlah pemain muda. (*)


Keterangan tabel:
* setelah perpanjangan waktu
** pertandingan ulang
*** adu penalti
Read More...