Tampilkan postingan dengan label Euro 2008. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Euro 2008. Tampilkan semua postingan

Makhluk Seksi di Euro 2008

02 Juli 2008 | Label: | 0 komentar |

EURO 2008 tak hanya mempertontonkan sepakbola. Tapi, penonton sendiri bisa menjadi tontonan menarik. Mereka memiliki banyak gaya dan cara untuk mengekspresikan dukungannya kepada tim kebanggannya.

Di antara ribuan penonton itu, penonton wanita selalu memberi nuansa tersendiri. Banyak yang sengaja berdandan seksi, sehingga begitu menarik perhatian.

Pemandangan lain yang tak kalah menariknya adalah women and girlfriends (WAG) atau istri dan pacar para pemain sepakbola. Mereka memberi nuansa lain dalam gelar sepakbola akbar di Eropa tersebut.

Sampai-sampai, kamera televisi selalu berusaha menyorot mereka. Demikian juga media cetak berusaha mengulasnya. Bahkan, media menimang-nimang siapa yang terseksi dan tercantik di antara para istri atau pacar pemain.

Sebanyak 235 surat kabar di Jerman membuat analisa tersebut. Dan, pacar Bastian Schweinsteiger, Sarah Brandtner, ditempatkan di urutan pertama dari WAG pemain bola terseksi dan tercantik.

Berturut-turut di bawahnya adalah Conny Lehmann (Istri Jens Lehmann), Sylvie van der Vaart (istri Rafael van der Vaart), Alena Seredova (istri Gianluigi Buffon), Marta Cecchetto, (pacar Luca Toni).

Tak hanya itu, di Austria sempat diadakan sepakbola telanjang. Pemainnya para wanita pegawai bank dan aktris film porno. Mereka melakukan pertandingan sepakbola di pantai, hanya mengenakan G-string. Akibatnya, permainan mereka menyedot banyak penonton.

Sepakbola eksebisi sekaligus selingan itu mengadu tim Jerman dan Austria. Hasil tak penting. Permainan mereka juga sangat buruk. Namun, aksi mereka yang telanjang (topless) menyita banyak perhatian. Tubuh mereka hanya tertutup oleh cat warna seragam Jerman dan Austria. (HPR)

http://bolaeropa.kompas.com/read/xml/2008/07/01/04301270/makhluk.seksi.di.euro.2008

Read More...

Spanyol Bergetar oleh Tawa

| Label: , | 0 komentar |

MADRID, SENIN - Priiiiit....! Begitu wasit Roberto Rosetti asal Italia meniup peluit panjang, seluruh negeri Spanyol seolah berrgetar oleh teriakan dan tawa. Jutaan rakyat negeri itu langsung memenuhi jalan-jalan dan alun-alun di setiap kota untuk merayakan kemenangan Spanyol 1--0 atas Jerman di final Euro 2008.

Seperti hujan yang turun di kemarau panjang selama 44 tahun. Warga Spanyol menyambutnya begitu riang. Euforia itu begitu meledak. Maklum, ini gelar internasional pertama Spanyol setelah menunggu 44 tahun. Mereka terakhir juara turnamen yang sama pada 1964.

Maka, meledak pula tawa dan teriakan mereka di seantero negeri. Klakson mobil pun terus dibunyikan seperti masa kampanye. Terompet ditiup. Dan segala yang bisa menimbulkan suara ditabuh demi merayakan kebahagiaan itu. Suara memekakkan bergema di mana-mana, tapi begitu membahagiakan.

"Que viva Espana! Que viva Espana! Que viva Espana!" demikian teriakan yang sering terdengar nyaring dari lelaki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa, bahkan sampai orang-orang tua.

Di Kota Madrid, ribuan orang sejak awal sudah berkumpul di Plaza Colon. Mereka menyaksikan pertandingan itu lewat layar lebar. Begitu Spanyol memastikan kemenangan, mereka langsung bersorak bersama dan berpesta sepuasnya.

Jalan Paseo de Recoletos pun penuh sesak oleh manusia. Polisi dibuat sibuk mengatur kemacetan lalu-lintas. Jalan itu menuju Plaza Cibeles tempat suporter Real Madrid berkumpul dan merayakan pesta.

"Sudah bertahun-tahun kami tak mampu juara, bahkan kesulitan masuk perempat final. Sekarang, kami memenangkan Piala Eropa. Saya hampir tak mempercayainya," kata Dani, seorang mahasiswa berumur 19 tahun yang datang bersama beberapa temannya.

"Kami tim terbaik. Sekarang, kami siap menjuarai Piala Dunia," ujar Joaquin, peria berumur 48 yang datang ke Madrid dari Salamanca bersama keluarganya. Mereka ingin merayakan kemenangan itu di Madrid, karena memang paling meriah.

"Kami bermain bagus. Kompak dan sangat konsentrasi," tambahnya. Dia juga menyebut Iker Casillas, Cesc Fabregas, dan Fernando Torres sebagai pemain terbaik.

Diperkirakan, Spanyol akan larut dalam kebahagiaan itu. Mereka rela berlelah-lelah, bahkan banyak yang mengatakan keesok harinya seharusnya semua aktivitas diliburkan. Perayaan akan semakin ramai ketika rakyat menyambut kehadiran Iker Casillas dkk pulang ke Spanyol nanti. (AP/HPR)

http://bolaeropa.kompas.com/read/xml/2008/06/30/04445381/spanyol.bergetar.oleh.teriakan.dan.tawa

Read More...

Euro 2008 Bersih dari Doping

| Label: | 0 komentar |

VIENNA, SELASA - Panitia Piala Eropa 2008 boleh berlega hati. Mereka sukses menggelar turnamen dan berhak mendapat pujian dari para kepala negara peserta. Lebih melegakan lagi karena tidak ada indikasi apa pun mengenai pemain yang melakukan doping.

Selama kejuaraan berlangsung, agensi antidoping dunia atau WADA telah memeriksa 300 materi untuk dicek di laboratorium Vienna/Seibersdorf dan Lausanne. Direktur laboratorium Vienna/Seibersdorf, Gunter Gmeiner menyatakan, dari jumlah itu tak satu pun yang memperlihatkan kejanggalan.

"Apa yang menarik dari Euro kali ini adalah pemeriksaan (antidoping) tingkat tinggi," kata Gmeiner, Selasa (1/7) waktu setempat.

Untuk pertama kalinya, WADA memeriksa darah dan urine dari para pemain peserta Euro 2008. Pemeriksaan itu juga meliputi uji otomatis dengan menyuntikkan erythropoietin (EPO).

Selama turnamen berlangsung, WADA mengetes sampel darah dan urine dari sepuluh pemain di setiap tim. Jumlah tim semuanya ada 16. Pengambilan dan pengetesan sampel dilakukan pada setiap babak pertandingan kecuali partai final. Di babak puncak, WADA hanya mengambil dua sampel pemain dari setiap tim. Hasil pemeriksaan di partai final itu belum dimasukkan dalam kesimpulan WADA tadi karena pengetesannya belum selesai*
Read More...

Indonesia, Tirulah Spanyol dan Turki

| Label: , , , | 0 komentar |

Postur pemain sepakbola yang tinggi besar, tidak menjamin kesuksesan. Kesebelasan yang terpuruk di pertandingan awal, bukan berarti kehancuran. Kesuksesan Spanyol menjuarai Euro 2008 adalah bukti bahwa sepakbola bukan sekadar fisik, melainkan teknik dan kekompakan. Kehebatan Turki untuk bangkit dari kekalahan pertama, adalah bukti bahwa semangat pantang menyerah bisa menjadi kekuatan yang mematikan. Lantas apa hubungan kiprah kesebelasan Spanyol dan Turki bagi Indonesia?

Tinggi badan beberapa bintang Spanyol ternyata tidak berbeda jauh dengan pemain tim nasional Indonesia. Tengok saja, pemain terbaik Euro 2008 Xavi Hernandez dan top skor Euro 2008 David Villa cuma setinggi 170 sentimeter, sama dengan dengan Ponaryo Astaman 170 dan Bambang Pamungkas. Pemain dunia lain yang berpostur rata-rata pemain Indonesia masih banyak, sebut saja Fabio Cannavaro , Carlos Tevez dan Roberto Carlos. Mudah-mudahan fakta ini menjadi pelecut bagi seluruh pemain Indonesia agar tidak minder jika berhadapan dengan kesebelasan yang memiliki postur tubuh tinggi.

Spanyol juga bukanlah negara yang solid. Latar belakang pendirian negara berbentuk kerajaan ini penuh dengan darah. Orang Catalan pernah mengalami penindasan yang dilakukan Jenderal Franco di masa lalu. Akibatnya hingga sekarang, orang Catalan menganggap dirinya bukan orang Spanyol. Jangan heran kalau setiap pertandingan klub asal Catalan Barcelona melawan klub ibukota Spanyol, Real Madrid, selalu berlangsung panas dan bahkan dikait-kaitkan dengan dendam masa lalu. Selain orang Catalan, etnis Basque juga menolak disebut bagian dari Spanyol. Hingga kini ada gerakan separatis Euskadi Ta Azkatasuna/ETA(Tanah Air dan Kebebasan Basque) yang terus berjuang untuk memerdekakan Basque. Klub yang berasal dari Basque adalah Athletic Bilbao.

Hebatnya, selama Piala Eropa 2008 berlangsung, seluruh rakyat Spanyol bersatu. Tengoklah kerjasama Xavi Hernandez dari Catalan bekerja sama dengan Fernando Torres berasal dari Madrid, yang berhasil menghasilkan gol kemenangan Spanyol dalam pertandingan final. Ya, persatuan dan kekompakan menjadi salah satu kunci kesuksesan Spanyol meraih gelar yang sudah dinanti sejak 44 tahun. Apa yang dialami Spanyol ini hampir dengan situasi di Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis. Rasanya, soal persatuan dan kesatuan Indonesia sedikit lebih baik dari Spanyol. Piala Asia 2007 lalu menunjukkan bahwa hampir seluruh rakyat Indonesia berada di belakang pemain tim nasionalnya.

Sementara itu, tidak ada yang mengira Turki lolos ke semifinal sejak dikalahkan Portugal. "Selama berkarier, saya tak pernah mengatakan menyerah dalam pertandingan. Berapa pun skor yang terjadi. Saya adalah orang yang tak pernah kehilangan harapan. Saya sering melihat banyak kejadian-kejadian dramatis dalam akhir-akhir pertandingan. Itulah keindahan sepakbola," kata-kata itulah yang selalu ditanamkan pelatih Fatih Terim kepada para pemainnya. Hasilnya, pemain Turki selalu tak ada yang mengira Turki menang melawan Swiss, semuanya mengira pertandingan berakhir 1-1. Beberapa detik jelang wasit meniup peluit, Arda Turan mengubah keadaan menjadi 2-1. Melawan Ceko, Nihat dkk sudah ketinggalan 2-0, tapi mampu berbalik menang 3-2. Dan yang paling dramatis terjadi ketika Turki melawan Kroasia di perempat final. Satu menit menjelang pertandingan berakhir, gawang Rustu dibobol Ivan Klasnic. Lagi-lagi, Turki mampu membalas lewat Semih Senturk, hingga akhirnya menang adu penalti.

Semangat pantang menyerah Turki ini, mirip dengan semangat bangsa Indonesia ketika berjuang meraih kemerdekaan atau lebih dikenal dengan Semangat 1945. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan keringat, darah, dan airmata, bukan hadiah. Kalau cuma mengandalkan senjata yang dimiliki, sudah pasti para pejuang Indonesia dulu tidak akan mampu menandingi para penjajah. Tapi, karena Semangat 1945, Indonesia mampu mengusir penjajah, seperti yang diperlihatkan Arek-arek Suroboyo ketika melawan tentara NICA. Mudah-mudahan, Semangat 1945 akan selalu berada di darah setiap pemain Indonesia ketika berada di lapangan.

Tentu saja, bukan seperti membalikkan telapak tangan untuk menyamai Spanyol dan Turki. Postur tubuh yang tidak memadai, kalau tidak didukung teknik bermain yang baik tentu saja bohong besar. Semangat yang menyal-nyala pun membutuhkan teknik dasar bermain bola yang memadai. Postur pemain Indonesia hampir sama dengan pemain Spanyol, semangat tidak jauh berbeda dengan Turki. Yang bagaikan langit dan bumi tentu saja soal skil. Itu tidak masalah, karena skil bisa dilatih. Jadi, Indonesia bisa dong berbicara di pentas dunia? Au...ah...gelap (ROY)

http://bolaeropa.kompas.com/read/xml/2008/07/02/06125178/indonesia.tirulah.spanyol.dan.turki
Read More...

Tergulingnya Raksasa Tradisional

01 Juli 2008 | Label: , | 0 komentar |

Oleh Sindhunata

Kembang api bersemburat indah di langit Stadion Vienna. Michael Ballack terduduk lesu tak berdaya. Wajahnya murung menyelimuti duka. Bekas darah masih tersisa di pelipisnya. Darah yang seakan sia-sia tertumpah karena akhirnya dalam pertandingan final itu dia kalah. Matanya menerawang jauh, memandang aneka bunga-bunga api, yang bertaburan di angkasa untuk menghormati sang juara. Ia melihat kapten lawan, Iker Casillas, mengangkat tinggi-tinggi piala juara. Alangkah bahagianya andaikan ia yang juga kapten boleh mengangkat piala itu.

”Kami sudah sampai di final, tapi kami kalah. Tentu kami kecewa luar biasa,” kata Ballack. Ballack adalah seorang lelaki yang kuat. Tapi ia pernah berkata, ”Dalam hal bola, seorang lelaki juga bisa menangis.” Malam itu tidak hanya dia yang menangis. Orang-orang Jerman juga menangis bersamanya.

Ballack adalah tumpuan utama kesebelasan Jerman. Menurut Franz Beckenbauer, Ballack-lah yang membedakan Jerman dari Spanyol. Spanyol memang tim hebat. ”Tapi mereka tidak mempunyai chef di lapangan. Ya, Spanyol tidak memiliki kapten yang tangguh,” kata Beckenbauer.

Waktu Jerman melawan Portugal, Ballack menunjukkan, dia adalah chef yang sesungguhnya. ”Ballack seakan hendak mengatakan, siapa hendak mengalahkan Jerman, dia harus terlebih dahulu mengalahkan saya,” kata Beckenbauer lagi.

Beckenbauer berharap agar Ballack bisa memahkotai prestasinya dengan menjadi juara di Vienna. Ternyata Ballack tampil bukan sebagai calon juara. Sama sekali tak tampak ia adalah chef lapangan tengah. Malah sering kali ia hanya marah-marah.

Di malam final itu, Jerman di bawah Ballack memang tak pantas menjadi juara. Komentator sepak bola Jerman sendiri pun mengakui, Jerman belum masak menjadi juara. Komentator-komentator luar mengkritik, Jerman selayaknya kalah.

”Jerman telah melempar handuk. Jerman jauh di bawah Spanyol. Jerman seperti kesebelasan anak-anak sekolah yang harus bermain melawan kesebelasan bernama Spanyol,” kata Giovanne Elber, mantan pemain Stuttgart yang sekarang menjadi komentator televisi di Brasil.

Jerman adalah langganan juara. Itu karena mereka mempunyai keutamaan-keutamaan dasar sepak bola yang tradisional, seperti mentalitas yang kuat, disiplin yang tinggi, pantang menyerah. Belum lagi mereka terkenal mempunyai fisik yang kuat. Semuanya itu ternyata tidak cukup, ketika mereka harus menghadapi Spanyol yang bermain dengan begitu modern dan dengan intelegensi dan teknik yang tinggi. Belum lagi, Spanyol menunjukkan sepak bola bukan lagi permainan individu, tapi permainan tim. Memang Spanyol telah meninggalkan gaya permainan matadornya yang individual dan beralih ke permainan yang mengandalkan kekompakan tim.

Perubahan ini terkait dengan sejarah sport di Spanyol sendiri. Di bawah diktator Franco, individualitas amatlah dipentingkan. Tak mengherankan bila dalam kurun selanjutnya, Spanyol berjaya dalam olahraga individual, seperti tenis, formula 1, dan balap sepeda. Baru akhir- akhir ini Spanyol juga berjaya di bidang olahraga beregu, seperti bola tangan, basket, dan hoki.

”Perubahan itu terjadi sebagai akibat dari sebuah modernisasi masyarakat,” kata pelatih basket Spanyol, Pepu Hernandez. Perubahan itu juga merambat ke sepak bola. Tim Spanyol di bawah Luis Aragones jelas memperlihatkan, sepak bola modern hanya bisa dimainkan dalam kebersamaan.

Pengabdian kepada tim inilah yang membuat sepak bola Spanyol menjadi indah. Mereka bermain dengan passing pendek dan jeli. Tempo permainan juga berubah-ubah, cepat, lambat, dan kemudian jadi cepat lagi. Mereka seakan memainkan sepak bola Brasil yang lambat, tapi indah, sekaligus memadukannya dengan kecepatan yang dituntut sepak bola modern.

Sergio Ramos dan kawan-kawannya bermain tegas dan lugas. Tapi, tak ada kesan kekerasan militerisme dalam setiap gerak mereka. Malah mereka menampakkan suatu romantisme sepak bola yang indah. Betapa eloknya passing Xavi. Dengan permainan demikian, Jerman yang mengandalkan keutamaan sepak bola klasik ternyata dibuat kalang kabut tak karu-karuan.

Sepak bola adalah cermin dari dinamika masyarakat. Dari sepak bola Spanyol kita boleh menarik refleksi untuk kehidupan bermasyarakat kita. Dalam abad modern ini tak cukuplah bila kita membangun diri dengan berpegang pada keutamaan lama, yang berasal dari nilai-nilai klasik dan tradisional kita.

Kita masih harus terus mencari intelegensi, trik, teknik, dan taktik baru, yang mungkin tak ada sambungannya sama sekali dengan keutamaan dan nilai-nilai lama kita. Dan, itu harus kita cari bukan secara individual, tapi dalam kebersamaan. Hanya dengan demikian kita akan menjadi seperti Spanyol modern yang sanggup menggulingkan raksasa tradisional Jerman.*
Read More...

Bintang Muda yang Bersinar di Euro 2008

| Label: | 0 komentar |

SEBAGIAN besar pelatih tim peserta Piala Eropa 2008 yakin bahwa pemain muda mampu memberikan tontonan sepakbola modern yang tak kalah menarik dibanding para seniornya. Tenaga mereka sangat dibutuhkan dalam taktik sepakbola menyerang tanpa henti plus kecepatan dalam mengalirkan bola.

Dari sebagian pemain muda itu, beberapa di antaranya begitu bersinar di Swiss-Austria. Kompas.com telah memilih pemain muda usia, 20 hingga 23 tahun, yang bermain apik di timnya. Berikut profil singkat mereka.

Alberto Aquilani
Gelandang Italia yang musim lalu membela AS Roma ini sedang jadi buah bibir di Juventus. Mengutip perkataan kiper Gianluigi Buffon, Aquilani "bisa menjadi salah satu pemain terbaik dunia". Usianya baru 23 tahun dan ia pintar dalam memberikan umpan, sekaligus kuat dalam mengeksekusi bola mati. Penampilan menawannya terlihat saat Italia menang 3-1 pada laga persahabatan lawan Belgia.

Arda Turan
Pemain yang kini membela klub Galatasaray ini berjasa ketika menyelamatkan Turki dari eliminasi fase grup berkat golnya di injury-time lawan Swiss. Ia mengulangi kembali gol itu saat melawan Republik Ceko di perempat final dan membuka satu dari tiga gol Turki waktu itu. Turki akhirnya menang 3-2 berkat gol Nihat Kahveci. Arda yang baru berumur 21 tahun itu dianggap pemain masa depan yang cemerlang. Dia kini jadi incaran Juventus dan Arsenal.

David Silva
Pemain berusia 22 tahun ini menjadi bagian dalam lini tengah Spanyol. Ia pandai mencari posisi dan cepat dalam melakukan penetrasi ke jantung pertahanan lawan. Saat Tim Matador diserang, ia pun cepat turun ke lapangan belakang. Satu lagi, pemain Valencia ini juga jago dalam memberikan assist terutama umpan-umpan silang mematikan.

Igor Akinfeev
Penjaga gawang Rusia ini tampil apik selama turnamen. Usianya baru 18 tahun ketika dipanggil ke timnas pertama kali pada 2004. Kini umurnya 22 tahun. Selama enam pertandingan kualifikasi Euro yang diikutinya, dia hanya kebobolan sekali. Emosinya terkendali dan dia pun bagus dalam antisipasi bola di depan gawang.

Ivan Rakitic
Namanya mungkin tenggelam jika striker Eduardo jadi ikut ke Swiss-Austria. Rakitic toh membuktikan bahwa dia memang layak membela Kroasia dan tampil bagus saat mengalahkan Jerman di pertandingan kedua. Di perempat final ia memang gagal melakukan penalti lawan Turki, tapi setidaknya Inter Milan membuat namanya melambung setelah scudetto Serie-A itu memberikan tawaran main kepadanya.

Giorgio Chiellini
Tugasnya berat: menggantikan peran Fabio Cannavaro di lini pertahanan Italia. Ia bisa berperan ganda, sebagai bek tengah atau bek kiri. Pemain berusia 23 tahun ini mampu meredam serangan Fernando Torres saat Italia lawan Spanyol di perempat final.

Joao Moutinho
Moutinho menjalani debutnya sebagai pemain profesional sejak usia 18 tahun. Kini, tiga tahun kemudian, dia menjelma sebagai gelandang yang punya kemampuan bagus dalam menyerang maupun bertahan. Itu pula sebabnya, pelatih Luiz Felipe Scolari lebih memilihnya daripada Maniche yang tampil menawan di Euro 2004.

Luka Modric
Tawaran senilai 16 juta poundsterling dari Tottenham Hotspur sudah cukup menunjukkan penampilan ciamiknya. Playmaker Kroasia ini memiliki gerakan cepat dan passing bola yang akurat. Itulah yang membuatnya menjadi bagian penting saat menyingkirkan Inggris dari Euro 2008. Pemain berumur 22 tahun juga berperan besar membawa Kroasia ke perempat final Euro 2008.

Sebetulnya masih ada bintang muda lain seperti Karim Benzema dan Mario Gomez. Namun, penampilan kurang mengesankan dari kedua striker tersebut membuat keduanya tercoret dari daftar kami.*
Read More...

Tim Terburuk Euro 2008

| Label: , | 0 komentar |

Kompas.com memilih sebelas pemain inti dan lima pemain cadangan yang masuk daftar tim terburuk Euro 2008 di Swiss dan Austria. Mereka dipilih berdasarkan kesalahan atau kegagalan yang dilakukan yang mengakibatkan kesebelasan yang dibelanya mendapatkan hasil buruk. Pemain yang terpilih adalah:

Kiper: Antonio Nikopolidis (Yunani)

Kiper ini adalah salah satu pahlawan Yunani ketika menjadi juara tahun 2004. Kemampuan dan kematangannya di bawah mistar tidak perlu diragukan. Sayang, di Euro 2008 ini pemain berusia 37 tahun membuat kesalahan fatal. Entah apa yang membuatnya keluar meninggalkan sarangnya mengejar bola yang masih bisa dihalau bek Yunani. Nikopolidis pun kalah cepat dengan kapten Rusia Sergei Semak yang langsung mengirim umpan kepada Konstantin Zyryanov yang tanpa kesulitan menceploskan bola ke gawang kosong. Yunani kalah 1-0 dan tersingkir dari Euro 2008.

Bek Kanan:Pawel Golanski (Polandia)

Secara mengejutkan pelatih Jerman Joachim Loew tidak memasang Lukas Podolski sebagai striker, tetapi sebagai gelandang sayap kiri. Eksperimen Loew membuahkan hasil karena Podolski berhasil mencetak dua gol. Keberhasilan eksperimen ini adalah lemahnya bek kanan Polandia Pawel Golanski dalam menjaga Podolski.

Bek Kiri: Eric Abidal (Prancis)
Menjadi eksperimen di partai menentukan melawan Italia membuatnya canggung. Abidal yang biasa menjadi bek kiri dipasang menjadi bek tengah. Hasilnya, pemain Barcelona itu menekel striker Italia Luca Toni dari belakang di dalam kotak penalti. Italia mendapat penalti, Prancis mendapat kartu merah. Hasilnym kemudian sudah bisa ditebak, Italia menang, Prancis pun angkat koper

Bek Tengah: Petter Hansson (Swedia)
Awalnya pemain Rennes ini membuat pujian karena mampu mencetak sebuah gol ketika Swedia menundukkan juara bertahan Yunani 2-0. Kesalahan fatal yang dilakukannya adalah lengah mengawal striker Spanyol David Villa di menit-menit akhir. Swedia pun akhirnya kalah 1-2. Performa Hasson semakin memburuk saat menghadapi Rusia karena tidak mampu menahan striker Roman Pavlyuchenko

Bek Tengah: David Rozehnal (Ceko)
Kesalahan fatal yang dilakukan pemain Newcastle ini adalah gagal memasang jebakan offside ketika Turki sedang melakukan serangan balik. Nihat akhirnya lolos untuk menjebol gawang Petr Cech. Ceko yang sempat unggul 2-0 akhirnya harus kalah 3-2 serta gagal lolos ke perempat final.

Gelandang: Valon Behrami (Swiss)
Sebagai pemain berpengalaman dan bermain bersama Lazio di Serie A Italia, Valon Behrami adalah harapan bagi Swiss. Sayangnya, sukses Behrami tidak tertular di Euro 2008.

Gelandang: Fredrik Ljunberg (Swedia)
Dipercaya menjadi kapten menggantikan Olof Melberg justru membuat penampilan Ljunberg tidak lepas. Aksi individu yang sering diperagakannya di Liga Inggris sama sekali tidak terlihat sepanjang turnamen Euro 2008. Ljunberg gagal memimpin rekan-rekannya tampil lebih baik

Gelandang: Andreas Ivanschitz (Austria)
Sebagai kapten dan playmaker Andreas Ivanschitz diharapkan dapat mengangkat moral kesebelasan Austri saat berjumpa Jerman dalam partai hidup mati memperebutkan tiket ke perempat final. Tapi, apa yang dilakukannya di lapangan justru membuat Austria meradang. Tekel yang dilakukannya terhadap Philip Lahm menghasilkan tendangan bebas yang dengan sempurna dieksekusi Michael Ballack. Austria kalah dari Jerman dan gagal melaju ke perempat final.

Gelandang:Franck Ribery (Prancis)
Disebut-sebut akan menjadi pengganti Zinedine Zidane, faktanya Ribery gagal mengangkat permainan tim Prancis. Dia senasib dengan rekan setimnya di Bayern Muenchen. Sama-sama bersinar di klub, tetapi melempem sepanjang Euro 2008.

Penyerang: Adrian Mutu (Rumania)
Mengapa Mutu? Striker Fiorentina itu gagal mengeksekusi penalti ketika melawan Italia. Tendangannya berhasil diblok Gianluigi Buffon. Padahal, Mutu adalah spesialis bola-bola mati, namun mungkin hari itu adalah hari paling sial dalam hidup Mutu. Kalau Mutu berhasil, Rumania yang mendampingi Belanda lolos ke perempat final.

Penyerang: Luca Toni (Italia)
Datang dengan predikat sebagai top skor Bundesliga, Luca Toni diprediksi akan menjadi salah satu bintang Euro 2008.Nyatanya, tidak satu gol pun yang bisa dicetak striker berjuluk "Tonigol" tersebut. Mandulnya Toni menjadi salah satu penyebab Italia gagal ke semifinal

Cadangan:
Petr Cech (Ceko)
Lilian Thuram (Prancis)
Marco Materazzi (Italia)
Angelos Basinas (Yunani)
Mario Gomez (Jerman)

Pelatih: Raymond Domenech (Prancis)

Sejak awal Domenech telah mengambil keputusan yang aneh dengan tidak memanggil striker Juventus David Trezeguet dalam skuad Prancis. Keanehan yang berikutnya adalah tetap menurunkan pemain-pemain yang sudah uzur menjadi pemain inti. Puncaknya adalah ketika Prancis harus memenangkan pertandingan melawan Italia agar lolos ke perempat final. Eric Abidal yang biasa bermain sebagai bek kiri digeser ke bek tengah mengambil posisi Thuram. Penempatan Abidal sebagai bek tengah boleh dibilang sebagai eksperimen alias coba-coba. Sebab, Domenech belum pernah menempatkan bek Barcelona itu sebagai centre back. Di klubnya pun, Abidal adalah seorang bek kiri murni. Abidal akhirnya gagal mengantisipasi umpang Pirlo kepada Toni di menit ke-25. Mantan bek Lyon itupun terpaksa mengganjal Toni dari belakang yang membuatnya diusir wasit dan Prancis diganjar hukuman penalti. Bermain 10 orang dan ketinggalan 1-0, Prancis bisa apa? Bukannya mampu membalas, malahan gawang Coupet kembali dibobol Danielle De Rossi. Eksperimen Domenech mengantarkan Prancis ke kuburan.

Pola:4-4-2
Kapten:Andreas Ivanschitz (Austria)
Read More...

Sepatu Besar yang Akhiri Penantian

30 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

TERNYATA akhir dari penantian panjang selama 44 tahun itu ada di tangan dingin Luis Aragones. Meski sempat kontroversial di awal kariernya sebagai pelatih timnas Spanyol pada 2004, dia akhirnya membuktikan kemampuannya. Pelatih yang dijuluki Zapatones (Sepatu Besar) itu telah menancapkan sejarah besar dalam sepakbola Spanyol.

El Sabio de Hortaleza. Itu adalah julukan lainnya untuk Aragones, yang artinya Orang Bijak dari Hortaleza. Hortaleza adalah tempat kelahirannya pada 28 Juli 1938. Tepat kurang sebulan dia berulang tahun untuk ke-70 kalinya, dia membuat sejarah besar.

Menjuarai Piala Eropa 2008 ibarat anugerah terindah yang pernah dimiliki Spanyol dalam 44 tahun terakhir ini. Sejak juara turnamen yang sama di Piala Eropa 1964, Spanyol selalu belepotan di pentas internasional, baik Piala Eropa maupun Piala Dunia. Padahal di kompetisi liga dalam negeri, sepakbola Spanyol menunjukkan tontonan dan permainan yang baik.

Seolah, prestasi di liga tak berbanding lurus dengan prestasi tim nasionalnya. Mereka hanya masuk final di pentas internasional tiga kali, di Piala Eropa 1964, 1982, dan 2008. Hanya pada 1964 dan 2008 ini mereka juara. Selebihnya, Spanyol selalu kesulitan berkompetisi di pentas internasional, hingga kata Spanyol diidentikkan dengan kegagalan.

Semakin banyak gagal, semakin sulit pula buat Spanyol untuk bangkit. Mental juara mereka sulit terbangun. Tapi, Aragones mampu melakukannya. Kepada para pemain dia mengatakan, "Kalian adalah tim yang bisa mengalahkan siapa saja. Mental kami sudah kuat dalam beberapa tahun ini. Kami belajar banyak dari Piala Dunia 2006, dan kini sudah mengambil hikmahnya. Saya katakan kepada pemain, untuk memainkan sepakbola yang baik, mereka harus bersaing dan tahu bagaimana bekerja keras. Dan, mereka telah banyak belajar."

Kemampuannya membangkitkan semangat dan mental tim, juga membangun kekompakan adalah kunci kesuksesan Aragones. "Suasana dalam tim amat menentukan. Saya memperlakukan pemain sama dan setara. Semua punya peran besar. Jika ada yang main dan dicadangkan, itu lebih karena strategi," katanya.

Itu salah satu kelebihannya. Sayang, dia enggan memperpanjang kontrak. Padahal, dua tahun lagi Spanyol akan menghadapi Piala Dunia 2010. Namun, keputusannya harus dihormati dan jikapun meninggalkan timnas Spanyol, dia telah meninggalkan warisan sangat berharga.

Bukan hanya gelar Piala Eropa kedua kalinya. Sukses itu juga membangkitkan rasa percaya diri sepakbola Spanyol. Lebih jauh lagi, sukses itu bisa semakin membaurkan perbedaan seluuruh warga Spanyol, tak peduli apakah mereka Spanyol, Catalonia, atau Basque.

Bagi Aragones, ini juga sukses terbesarnya. Sebagai pemain, dia pernah meraih gelar El Pichichi atau top skorer Divisi Primera La Liga pada 1970. Dia juga termasuk striker tajam. Dia pernah memperkuat 8 klub berbeda. Dari 265 penampilannya di Divisi Primera, dia mencetak 123 gol dalam kariernya. Salah satu kelebihannya adalah mencetak gol dari bola mati. Itu pula dia disebut si Sepatu Besar.

Mengawali karier pelatih di bekas klubnya Atletico Madrid pada 1974-1980. Kemampuannya dianggap bagus. Dia juga mampu membangun kebersamaan dalam tim dan memiliki pendekatan yang bijak. Sebab itu, dia juga dijuluki Orang Bijak dari Hortaleza.

Namun, dia pernah memunculkan kontroversi besar. Kepada Antonio Reyes, dia mengatakan kata-kata rasial yang ditujukan kepada Thierry Henry. "Katakan kepada negro sialan itu (Henry, Red) bahwa kamu jauh lebih baik darinya. Katakan bahwa kata-kata itu dari saya. Kamu harus yakin lebih baik dari negro sialan itu," ujarnya.

Ucapan rasial itu akhirnya membuatnya didenda UEFA sebesar 70.000 dolar AS. Jika melakukan hal sama, dia akan dikenai hukuman lebih berat.

Tapi, Aragones meminta maaf dan akhirnya menyesali kekeliruannya. Dia kembali menjadi orang bijak yang membangun Tim Matador dengan keteduhan, tapi mampu melahirkan tim yang cemerlang dan siap mengalahkan siapa saja.

Dan, akhirnya dia mempersembahkan hadiah terbesar buat bangsa Spanyol: trofi Henri Delaunay, simbol jawara Piala Eropa. Gelar yang menjadi sejarah indah, sekaligus mengembalikan mentalitas dan kehormatan sepakbola Spanyol.

Adios amigo. Gracias senor! (HPR)



Read More...

Aragones Menemukan Sistem Baru

| Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, JUMAT - Meski agak terlambat, pelatih Spanyol, Luis Aragones, merasa menemukan sistem baru yang mujarab. Dan, sistem itu akan dipertahankan kala melawan Jerman di final Euro, Minggu atau Senin (30/6) dini hari.

"Ketika Fernando Torres dan David Villa bermain, kami hanya memiliki sedikit masalah untuk mendominasi lini tengah. Ketika Cesc Fabregas turun lapangan, kami memegang kendali permainan," kata Luis Aragones.

David Villa cedera pada menit ke-33. Aragones melakukan percobaan. Dia tak mengganti Villa dengan striker lain, tapi dengan Cesc Fabregas yang sebenarnya seorang gelandang menyerang. Artinya, sejak itu Spanyol hanya bermain dengan satu striker. Ternyata, taktik itu memberi pengaruh yang kuat. Spanyol menjadi menguasai pertandingan lebih banyak, dan akhirnya lahirlah gol pertama sampai menang 3-0.


"Rasanya akan lebih baik bagi kami untuk bermain dengan satu striker daripada dengan dua striker. Sebab, kami mampu mengontrol pertandingan dan bisa melakukan tekanan lebih kencang ke pertahanan lawan," jelas Aragones.

Gelandang Spanyol, Xavi Hernandez dan Andres Iniesta memang cenderung stylist. Mereka punya kemampuan mengatur permainan dan umpan yang baik. Sedangkan Fabregas tak hanya bisa mengatur permainan, tapi juga punya agresivitas tinggi. Kehadirannya membuat permainan Spanyol jadi lebih dinamis.

"Kami memulai permainan dengan umpan-umpan pendek. Ini rupanya tak terlalu membuat masalah buat Rusia dan mereka membalas dengan umpan-umpan panjang yang langsung ke jantung pertahanan kami. Tapi, begitu kami mampu menguasai permainan, kemudian saya berpikir bahwa ini menjadi kunci kesuksesan kami di Euro 2008. Melakukan hal itu di semifinal amat sulit," terangnya.

Aragones juga memuji timnya yang telah menunjukkan semangat dan permainan berkualitas. Sehingga, Spanyol berhasil lolos ke final Euro 2008, pengalaman pertama sejak 24 tahun lalu.

"Tim ini punya mental kemenangan. Mereka belajar banyak dari kegagalan kami di Piala Dunia terakhir. Mereka tahu, tak hanya dibutuhkan permainan bagus untuk memenangkan pertandingan, tapi juga tahu bagaimana berkompetisi," ujar Aragones.

"Para pemain kami sudah begitu matang. Cesc Fabregas dan pemain lainnya memiliki pengalaman seperti pemain yang sudah berumur 28 tahun. Padahal, mereka baru berumur 21 dan 22 tahun. Saya kira, tim ini juga bisa berprestasi di Piala Dunia," tambahnya.

Aragones melanjutkan, meski pihaknya bahagia atas kemenangan lawan Rusia di semifinal, tapi mereka segera terfokus pada partai final lawan Jerman. Sebab, itu merupakan pertandingan terakhir dan menentukan.

"Saya bahagia, tapi tak mau menunjukkannya. Saya lebih bahagia lagi melihat tim kami karena mereka telah melakukan apa saja dan berhak menjadi juara. Tapi, masih ada satu tahap lagi yang harus kami lewati," jelasnya.

"Jerman adalah Jerman. Mereka selalu punya keinginan dan mental juara lawan siapa saja. Mari kita lihat apakah mereka akan memberi kesempatan kepada kami untuk mengembangkan permainan. Tapi, akan sangat sulit bagi tim mana pun yang melawan kami. Terutama jika kami mampu tampil lebih beringas. Secara fisik, Jerman lebih kuat. Tapi, kami bermain dengan langkah yang cermat yang akan membuat lawan kelelahan sendiri," ujarnya. (AP/HPR)



Read More...

Luis Aragones memuji pemainnya

| Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN - Luis Aragones tak henti-hentinya memuji para pemain Spanyol usai mereka menjuarai Piala Eropa 2008. Tampil dengan permainan terbaiknya di partai final, Senin (30/6) dini hari WIB, El Matador sukses menyeruduk Der Panzer Jerman dengan skor 1-0.

Alhasil, mimpi Spanyol sepanjang 44 tahun akhir terwujud. Sepakbola menyerang dan permainan indah dari kaki ke kaki racikan Aragones menjadi penentu keberhasilan La Furia Roja untuk mengulangi kesuksesan tahun 1964.

Tak pelak, Aragones sangat bangga dan puas. Masih diliputi eforia, pelatih berusia 69 tahun itu mengatakan bahwa Spanyol yang telah menunjukkan permainan terbaiknya tersebut akan sulit ditaklukkan oleh tim mana pun.

"Kemenangan ini untuk semua pemain karena mereka selalu punya kepercayaan untuk melakukannya. Itulah mengapa mereka akhirnya bisa menjadi juara turnamen ini. Kami memiliki skuad yang luar biasa. Karena itu, jika terus menunjukkan permainan terbaiknya maka tak ada yang bisa mengalahkan kami," tegas Aragones usai pertandingan.

Memang, sepanjang putaran final Piala Eropa 2008 ini performa Spanyol sangat stabil. Mereka selalu bisa mencetak gol dan menjadi pemenang. Hanya ketika lawan Italia di babak perempat final mereka tak bisa membobol gawang lawan, sehingga pemenang ditentukan lewat adu penalti.

Sayang, Aragones tak bisa melanjutkan kegembiraannya bersama Spanyol lantaran setelah ini dia akan mencari tantangan bersama klub Turki. Karena itu, Aragones mengatakan bahwa dia tak mungkin bertahan.

"Saya punya kewajiban untuk diam dan tenang. Saya akan merayakan kesuksesan ini? Saya hanya akan bergabung dengan para pemain," jelas Aragones yang membantah jika dia akan menerima tawaran perpanjangan kontrak.

"Tidak, tak ada kemungkinan saya bertahan," pungkasnya. (GL/LOU)



Read More...

Loew: Spanyol Pantas Juara

| Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN - Pelatih Jerman, Joachim Loew, kecewa karena timnya gagal menjadi juara Piala Eropa 2008 karena ditaklukkan Spanyol 0-1 di babak final, Senin (30/6) dini hari WIB. Namun, dia dengan besar hati mengakui bahwa sepakbola menyerang yang diperagakan Spanyol pantas menjadi pemenang.

Dalam pertandingan di Stadion Ernst Happel itu, Spanyol mendominasi pertandingan. La Furia Roja berhasil menciptakan sejumlah peluang emas namun hanya satu gol yang tercipta dari kaki Fernando Torres pada menit ke-32.

Namun, Loew tak mau menyalahkan performa Michael Ballack dkk. Dia tetap memberikan pujian bagi Der Panzer dan menghargai semua kerja keras tim selama hampir sebulan bertarung di Austria-Swiss.

"Saya harus membayar tim ini dengan sebuah pujian yang tinggi karena mereka sudah menunjukkan permainan fantastis. Para pemain pasti kecewa, namun mereka tak usah terlalu sedih. Mereka harus tetap keluar dari lapangan dengan kepala tegak karena sudah bisa tampil di final merupakan sebuah prestasi," ungkap Loew usai pertandingan.

"Dalam pertandingan final ini, Spanyol memang lebih baik. Mereka juga mempunyai peluang-peluang bagus sehingga layak jadi pemenang," tambah Loew yang jadi asisten Juergen Klinsmann pada Piala Dunia 2006.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, juga memberikan pujian kepada usaha para pemain. Menurut wanita penggila bola yang selalu setia menyaksikan setiap pertandingan Jerman itu, Ballack dkk tak boleh larut dalam kesedihan karena masih ada kesempatan lain untuk membuktikan kehebatannya.

"Berada di final sudah merupakan sebuah kesuksesan besar. Kami telah berjuang keras, namun akhirnya tak bisa meraih hasil terbaik. Di Piala Dunia, kami meraih peringkat tiga dan di Piala Eropa jadi runner-up. Saya mengatakan kepada Ballack, kita tunggu sampai Piala Dunia Afrika Selatan 2010 untuk merayakan kesuksesan," ujar Merkel. (GL/LOU)

Read More...

Rahasia Sukses Spanyol

| Label: , , | 0 komentar |

SEBUAH kejutan, sekaligus fenomena besar ketika Spanyol menjuarai Piala Eropa 2008. Negeri yang selalu belepotan di kompetisi internasional ini, tiba-tiba tampil menawan. Selalu menang di semua pertandingan, termasuk mengalahkan Jerman 1-0 di final, Minggu atau Senin (30/6).

Banyak hal yang menjadi faktor kesuksesan itu. Salah satunya adalah faktor pelatih Luis Aragones. Dia punya keyakinan kuat atas konsepnya. Selain itu, dia juga dia juga pintar membangun suasana tim menjadi kondusif, kompak, dan punya kerja sama yang baik. Sejak awal dia menempatkan semua pemain sama dan setara. Tak ada istilah bintang dalam timnya. Itu yang memotivasi setiap pemain ingin menunjukkan yang terbaik.

Karena itu pula, dia berani mencoret Raul Gonzalez. Simbol sepakbola Real Madrid, dan mungkin Spanyol. Bertahun-tahun dia langganan timnas Spanyol, tapi Aragones berani mencoretnya. Bahkan ketika dia menunjukkan permainan bagus bersama Madrid di musim 2007-08, dia tetap tak memanggilnya.

Aragones seperti ingin membawa Spanyol ke era baru yang tak lagi ada penonjolan pemain dan lepas dari ketergantungan kepada Raul. Toh, Spanyol punya bakat yang kaya.

Kekompakan, itu kata yang sulit terjadi dalam diri tim Spanyol. Maklum, ada beberapa suku yang merasa setengah hati bermain dengan bendera Spanyol yang pernah melukai masa lalu mereka. Contohnya Catalonia dan Basque. Kedua wilayah itu malah punya lagu kebangsaan dan timnas sendiri.

Timnas kali ini masih ada Andres Iniesta, Carles Puyol, Xavi Hernandez yang dari Catalonia. Juga ada Xabi Allonso dari wilayah Basque. Saat lagu kebangsaan Spanyol dinyanyikan, mereka tak ikut bernyanyi. Beda dengan tim lain yang kompak dan antusias menyanyikan lagu kebangsaan.

Namun, itu soal lain. Sepakbola adalah lain hal pula. Kerinduan panjang, 44 tahun, tak menjuarai trofi internasional, membuat para pemain melupakan perbedaan politik. Mereka kemudian satu dalam ambisi, tujuan, semangat, dan cara bermain. Sehingga, Spanyol pun muncul sebagai tim yang kuat.

Secara materi, Spanyol juga sedang lengkap-lengkapnya. Ada Iker Casillas yang jago di bawah mistar. Di lini belakang ada Puyol dan Sergio Ramos yang begitu dominan. Di tengah, Spanyol kaya pemain yang mampu mengatur permainan, sekaligus menguasai bola dengan baik.

Dalam beberapa pertandingan, mereka selalu memiliki penguasaan bola yang lebih baik. Sehingga, mereka pun punya peluang mencetak gol lebih banyak. Memiliki striker tajam seperti David Villa dan Fernando Torres, serangan Spanyol menjadi begitu tajam dan sulit dihentikan tim mana pun. Rusia dihajar 4-1 dan 3-0. Yunani dikalahkan 2-1. Swedia dihentikan 2-0, lawan Italia seri 0-0 dan menang adu penalti. Terakhir, Jerman dikalahkan 1-0. Ini hasil yang menunjukkan produktivitas, sekaligus kekuatan bertahan. Spanyol paling banyak mencetak gol, 12 gol, dan hanya kemasukan 2 gol.

Dalam permainan, Spanyol juga jago meredam serangan lawan dan menekan balik. Saat lawan Jerman, mereka selalu menekan setiap pemain lawan menguasai bola. Sehingga, mereka tak sempat mengembangkan permainan. Michael Ballack dibuat kesulitan bergerak oleh Marcos Senna atau Xavi. Bastian Schweinsteiger juga diredam dinamismenya oleh jajaran lini tengahnya. Lukas Podolski juga dibatasi gerakannya. Sehingga, Jerman gagal mengembangkan permainan seperti saat mengalahkan Portugal 3-2.

Spanyol juga memiliki kemampuan bermain secara fleksibel. Begitu memasuki kompetisi, Spanyol memakai dua striker (Torres dan David Villa). Cedera David Villa saat lawan Rusia di semifinal, membuat Aragones memasukkan Cesc Fabregas. Spanyol pun hanya memakai satu striker dengan sistem 4-2-3-1 atau 4-5-1.

Hasilnya luar biasa. Spanyol yang tadinya ditahan 0-0, akhirnya mampu mendominasi permainan dan menghajar Rusia 2-0. Sistem itu kembali dipakai Aragones saat lawan Jerman dan ternyata manjur. Pertama, karena lini tengah tetap mampu menguasai permainan, kedua striker tunggal atas nama Fernando Torres bisa diandalkan menjebol gawang lawan. (HPR)



Read More...

Gol Terindah Selama Euro 2008

| Label: , , | 0 komentar |

PIALA EROPA 2008 menyisakan banyak cerita. Salah satu cerita yang mudah dikenang adalah gol-gol indah selama tiga pekan berlangsungnya turnamen empat tahunan itu. Inilah tiga gol terbaik Piala Eropa versi Kompas.com.

Wesley Sneijder
Gol kedua Belanda ini ke gawang Italia pada pertandingan perdana mereka di Grup C merupakan gol terbaik menurut kami. Gol itu tidak hanya lahir dari proses sepak bola modern, tapi juga tercipta berkat penguasaan teknik tinggi sang pemain. Wajar jika ada yang menyamakannya dengan gol Marco van Basten di final Euro 1988.
Gol itu lahir dari sentuhan satu-dua pemain tim Oranye. Bola dari lapangan tengah dioper menyilang oleh Giovanni Van Bronckhorst kepada Dirk Kuyt di sayap kanan. Kuyt kemudian memberikan bola setinggi pinggang ke arah Sneijder dan pemain Real Madrid itu langsung melayangkan tendangan first time dari sudut sempit. Kiper terbaik asal Italia, Gianluigi Bufon pun gagal menebak posisi bola yang meluncur deras tersebut.

Andrei Arshavin
Arshavin memberi roh bagi permainan Rusia. Setelah absen di dua pertandingan perdana Rusia akibat hukuman kartu merah di babak kualifikasi, pemain Zenit St Petersburg itu tampil mengesankan di partai terakhir fase grup lawan Swedia. Pertandingan itu menjadi penentu siapa yang bakal lolos ke perempat final. Dan, Arshavin menjadi arsitek terciptanya dua gol tim Beruang Merah. Setelah berperan penting dalam terciptanya gol pertama, pemain berusia 27 tahun itu mencipta gol kedua lewat sebuah serangan balik yang cepat di menit ke-50. Serangan tersebut berawal dari pergerakan bek kiri Yuri Zhirkov yang menusuk sisi kanan pertahanan Swedia. Zhirkov kemudian memberikan umpan matang kepada Arshavin yang langsung menendang ke gawang Andres Isaksson. Rusia akhirnya menang dan lolos ke perempat final.

Michael Ballack
Gol tunggal Michael Ballack ke gawang Austria di partai terakhir fase Grup B menjadi satu-satunya gol yang diciptakan lewat tendangan bebas di Euro kali ini. Gol itu pula yang menyelamatkan Jerman sehingga tim Panser lolos ke perempat final sebagai runner-up grup di bawah Kroasia. Setelah bermain buruk di babak pertama, Jerman menuai kesempatan mencetak gol di menit ke-49. Wasit Manuel Mejuto Gonzalez memberikan hadiah tendangan bebas karena bek Jerman, Philip Lahm dijatuhkan dekat kotak penalti tuan rumah. Ballack mengambil tendangan itu. Dengan kaki kanannya, sang kapten melepaskan tendangan keras ke sisi kiri gawang Austria. Kiper Jurgen Macho gagal menjangkaunya. (LHW)



Read More...

Statistik lengkap Euro 2008

| Label: , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN-Berikut ini statistik Euro 2008 setelah usai pertandingan final Spanyol melawan Jerman seperti dilaporkan dalam www.uefa.com, Senin waktu setempat

Total gol
77

Pencetak gol terbanyak: (4)
David Villa (Spanyol)

Paling banyak mencetak gol (12)
Spanyol

Paling sedikit mencetak gol (1)
Austria
Polandia
Romania
Yunani
Prancis

Paling banyak kemasukan gol (9)
Turki

Paling sedikit kemasukan gol (2)
Kroasia, Spanyol

Total tembakan (892)

Pemain banyak menembak (28)
Roman Pavlyuchenko (Rusia)

Kesebelasan paling banyak menembak (117)
Spanyol

Kesebelasan paling sedikit menembak (33)
Swedia
Romania

Pertandingan yang banyak melakukan tembakan (54)
Belanda v Rusia

Total penyelamatan (247)

Kiper paling banyak menyelamatkan (35)
Igor Akinfeeev (Rusia)

Paling banyak tendangan pojok (41)
Rusia

Paling sedikit tendangan pojok (9)
Romania

Total kesalahan (1.118)

Paling banyak melakukan kesalahan (114)
Spanyol

Paling sedikit melakukan kesalahan (45)
Yunani

Total kartu kuning (122)

Paling banyak kartu kuning (16)
Turki

Paling sedikit kartu kuning (3)
Swedia

Kartu merah dalam turnamen (3)
Volkan Demirel (Turki)
Bastian Schweinsteiger (Jerman)
Eric Abidal (Prancis)

Total offsides (17)
Portugal
Jerman

Paling sedikit offside (1)
Austria

(ANT/RTR/ROY)
Read More...

Xavi, Pemain Terbaik Euro 2008

| Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN - Gelandang Spanyol Xavi Hernandez menjadi pemain terbaik Euro 2008 versi UEFA. Pengumuman itu diumumkan pada Minggu malam (29/6) waktu setempat atau Senin (30/6) siang.

Keputusan UEFA memilih Xavi tersebut didasarkan pada permainan konsisten dari pemain Barcelona tersebut mulai dari pertandingan pertama sampai akhir. Pemain berusia 28 tahun itu selalu menjadi motor serangan tim Matador. Ia pula yang selalu mengatur ritme permainan Spanyol.

"Dia adalah Xavi yang mengatur tempo permainan tim," kata direktur teknis UEFA Andy Roxburgh.

Pengumuman UEFA ini memang agak mengejutkan sebab nama Xavi hampir tidak pernah disebut sebagai pemain terbaik. Namanya sama sekali tak pernah masih dalam daftar man of the match yang disusun UEFA dan panitia. Xavi lagi-lagi tak masuk dalam tangga sepuluh pemain terbaik UEFA meski empat temannya mendominasi daftar tersebut.

Sebagai pemain tengah, peran Xavi dalam tim sangat sentral. Ia kerap membuat gerakan dengan tangannya untuk mengatur pergerakan teman-teman satu tim. Bersama Andres Iniesta, playmaker tersebut bertugas membagi-bagikan bola kepada David Villa maupun Fernando Torres di depan. Itu sebabnya Kompas.com memasukkan namanya dalam daftar pemain tim terbaik turnamen ini.

Xavi memang hanya mencetak satu gol di turnamen ini yakni saat mengalahkan Rusia 3-0 di semifinal. Namun, umpannya kepada Fernando Torres di final akhirnya berbuah gol semata wayang yang mengantar Spanyol menjadi juara. Selamat, Xavi! (UEFA/LHW)



Read More...

Man of The Match Euro 2008

| Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN-Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) bersama panitia Euro 2008 mengeluarkan daftar pemain yang meraih man of the match dalam setiap pertandingan mulai dari penyisihan hingga pertandingan final.

Striker Spanyol David Villa, gelandang Rusia Andrei Arshavin dan gelandang Belanda Wesley merupakan pemain yang paling banyak meraih gelar ini, yakni sebanyak dua kali.


Berikut ini daftarnya:

Penyisihan grup

Tomas Ujfalusi (Ceko), pertandingan Swiss vs Ceko
Pepe (Portugal), pertandingan Portugal vs Turki
Stipe Pletikosa (Kroasia), Kroasia vs Austria
Lukas Podolski (Jerman), Jerman vs Polandia
Claude Makelele (Prancis), Prancis vs Rumania
Wesley Sneijder (Belanda) , Belanda vs Italia
David Villa (Spanyol), Spanyol vs Rusia
Zlatan Ibrahimovic (Swedia), Swedia vs Yunani
Cristiano Ronaldo (Portugal), Portugal vs Ceko
Arda Turan (Turki), Turki vs Swiss
Luka Modric (Kroasia), Kroasia vs Jerman
Roger Guerreiro (Polandia), Polandia vs Prancis
Andrea Pirlo (Italia), Italia vs Rumania
Wesley Sneijder (Belanda), Belanda vs Prancis
David Villa (Spanyol), Spanyol vs Swedia
Roman Pavlyuchenko (Rusia), Rusia vs Yunani
Hakan Yakin (Swiss), Swiss vs Portugal
Nihat Kahveci (Turki), Turki vs Ceko
Ivan Klasnic (Kroasia), Kroasia vs Polandia
Michael Ballack (Jerman), Jerman vs Austria
Robin van Persie (Belanda), Belanda vs Rumania
Daniele De Rossi (Italia), Italia vs Prancis
Xabi Alonso (Spanyol), Spanyol vs Yunani
Andrei Arshavin (Rusia), Rusia vs Swedia

Perempat final

Bastian Schweinsteiger (Jerman), Jerman vs Turki
Hamit Altintop (Turki), Turki vs Kroasia
Andrei Arshavin (Rusia), Rusia vs Belanda
Iker Casillas (Spanyol), Spanyol vs Italia

Semifinal

Philip Lahm (Jerman), Jerman vs Turki

Andres Iniesta (Spanyol), Spanyol vs Rusia

Final

Fernando Torres (Spanyol), Spanyol vs Jerman (UEFA.COM/ROY)

http://bolaeropa.kompas.com/read/xml/2008/06/30/09141431/peraih.man.of.the.match.euro.2008


Read More...

Tim Impian versi UEFA

| Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN - Federasi sepak bola Eropa atau UEFA telah memilih 23 pemain dalam "The Dream Team" pada Piala Eropa 2008. Seperti sudah diduga sebelumnya, pemain Spanyol mendominasi daftar pemain tersebut yakni dengan sembilan wakilnya.

Pemilihan pemain terbaik tersebut disusun oleh tim yang terdiri dari sembilan teknisi sepak bola berpengalaman yang memantau setiap pertandingan di Swiss-Austria. Mereka hanya memilih pemain-pemain dari tim yang lolos babak kualifikasi grup.

"Tim Euro 2008 kami ambil berdasarkan laporan teknis dari para ahli yang menjadi kolega kami. Tim ini dibentuk berdasarkan kemampuan individual dan bukan berdasarkan reputasi mereka," kata direktur teknis UEFA, Andy Roxburgh.

Selain pemain Spanyol tadi, tim tersebut juga memilih tiga pemain dari Jermain Germany, empat dari Rusia, masing-masing dua two dari Belanda dan Portugal, serta satu pemain dari Turki, Kroatia, dan Italia. Nama Cristiano Ronaldo dan Sergio Ramos sama sekali hilang dari daftar tersebut, demikian pula dengan Bastian Schweinsteiger. Sayangnya, UEFA tidak menunjuk siapa pelatih yang tepat untuk tim impian ini dan formasi pemain yang menjadi andalannya.

Berikut daftar pemain tim impian tersebut:
Kiper: Gianluigi Buffon (Italia), Iker Casillas (Spanyol), Edwin van der Sar (Belanda).
Belakang: Bosingwa (Portugal), Philipp Lahm (Jerman), Carlos Marchena (Spanyol), Pepe (Portugal), Carles Puyol (Spanyol), Yuri Zhirkov (Rusia)
Tengah: Hamit Alt?ntop (Turki), Luka Modric (Kroasia), Marcos Senna (Spanyol), Xavi Hernandez (Spanyol), Konstantin Zyryanov (Russia), Michael Ballack (Jerman), Cesc Fabregas (Spanyol), Andres Iniesta (Spanyol), Lukas Podolski (Jerman), Wesley Sneijder (Belanda)
Depan: Andrei Arshavin (Rusia), Roman Pavlyuchenko (Rusia), Fernando Torres (Spanyol), David Villa (Spanyol) (UEFA/LHW)
Read More...

Xavi Hernadez, Kejutan dari Catalan

| Label: , , | 0 komentar |

TIDAK ADA yang menyangka jika nama Xavier Hernandez Creus alias Xavi akhirnya menjadi pemain terbaik Piala Eropa 2008. Di lapangan, ia bermain tenang. Kadang bergerak cepat, sering pula melambat. Namun, berkat lima kali penampilannya bersama Spanyol, Xavi memberi roh permainan sekaligus mengawal kemenangan timnya di turnamen kali ini.

Pemain asal Catalan ini memang belum pernah menjadi man of the match selama lima penampilannya bersama tim Matador. Justru David Villa, Iker Casillas, Xabi Alonso, Marcos Senna, Andres Iniesta, dan Fernando Torres yang pernah mendapat trofi dari Carlsberg sebagai tanda penghargaan pemain terbaik di setiap pertandingan itu.

Pemilik postur tubuh setinggi 170 sentimeter tersebut juga masih kalah tinggi dibandingkan pemain lain, terutama tim Jerman. Namun, justru di situlah keunggulannya. Postur itulah yang membantunya mudah berkelit dari adangan musuh sekaligus menusuk pertahanan lawan.

Sebagai pengatur serangan, Xavi selalu mendapat tugas utama mengatur tempo permainan dan menyuplai bola kepada penyerang. Peran ini sudah sering ia jalankan saat membela El Barca. Di timnas, meski tidak bertindak sebagai kapten tim, pemain berusia 28 tahun itu adalah jenderal lapangan tengah. Ia selalu diapit oleh Andres Iniesta dan Marcos Senna. Kedua pemain ini juga bermain cemerlang di Euro 2008.

Tugas itu akhirnya dapat dituntaskan oleh gelandang Barcelona tersebut. Saat timnya diserang begitu rupa, ia mampu memperlambat gebrakan lawan. Itu yang dilakukannya saat menahan gempuran Jerman di awal babak pertama final, Minggu (29/6). Namun, begitu menguasai bola, Xavi tak segan "memerintah teman-temannya di lini depan untuk mencari posisi yang tepat. Dengan kedua tangannya, ia melambai-lambai agar pemain merapat. Setelah itu, barulah dia mengatur derasnya serangan.

Kadang ia sendirian menjadi playmaker, namun pernah juga ia menjadi salah satu dari dua playmaker yang diturunkan pelatih Luis Aragones. Itu tampak pada pertandingan melawan Rusia untuk kedua kalinya di partai semifinal. Xavi dipasangkan dengan Cesc Fabregas dan keduanya menjadi playmaker sekaligus menjadi jembatan sebelum Sergio Ramos menghentikan laju Andrei Arshavin.

Wajar jika tim seperti Italia khawatir akan pergerakan pemain bernomor punggung 8 tersebut. Ketika Spanyol dan Italia bertemu di perempat final, pelatih Azzurri Roberto Donadoni secara tegas menginstruksikan kepada Massimo Ambrosini dan Mauro Camoranesi untuk menutup posisi lapangan tengah. Tugas itu tak cukup berhasil sebab agresivitas Spanyol mampu mengalirkan bola ke pertahanan Italia. Pertandingan akhirnya berjalan imbang tanpa gol dan harus diselesaikan lewat adu penalti.

Selain jago soal meracik tusukan ke jantung lawan, Xavi juga dikenal garang dalam mengeksekusi bola mati. Jarak 10 meter dari garis terluar kotak penalti masih menjadi jarak yang membahayakan kiper mana pun jika Xavi dipasrahi tugas menembakkan si kulit bundar langsung ke arah gawang.

Xavi memang tak perlu mencetak gol sebab tugas itu lebih bertumpu pada pundak David Villa maupun Fernando Torres. Namun, satu golnya ke gawang Rusia di semifinal sudah cukup memberinya koleksi tujuh gol sepanjang 62 pertandingan yang dimainkannya bersama La Furia Roja sejak 2000. (LHW)



Read More...

Kekuatan Mental versus Teknik

| Label: , , | 0 komentar |

Dengan perkiraan bahwa Jerman maupun Spanyol akan sama-sama menerapkan formasi dasar 4-5-1, hampir bisa dipastikan pertarungan sengit dan keras bakal terjadi di lini tengah. Spanyol, yang tidak akan diperkuat striker David Villa karena cedera, bakal menampilkan gelandang-gelandang muda bertenaga segar dengan Cesc Fabregas sebagai motornya.

Dari segi gerakan perpindahan posisi atau permutasi, gelandang-gelandang Spanyol tampaknya lebih kompak. David Silva dan Andres Iniesta dengan mudah dan cepat bisa berganti posisi sayap, tanpa ada masalah adaptasi. Hadirnya Fabregas akan memberi kesempatan Xavi Hernandez untuk lebih maju ke depan.

Fabregas akan berduel langsung dengan kapten Jerman, Michael Ballack. Ballack, yang telah mengemas dua gol, menjadi kunci kekuatan lini tengah pasukan ”Panser”. Gelandang Chelsea itu selama ini mampu menjalankan pe- rannya sebagai komandan tim Panser dan beberapa kali menjadi penentu kemenangan timnya.

Ditunjang dengan ulahnya yang usil di jantung pertahanan lawan, pemain berusia 31 tahun itu bisa menjadi ancaman bagi penjaga gawang Spanyol, Iker Casillas. Dibandingkan dengan lini tengah Spanyol yang mobile dan lincah dalam penguasaan lapangan tengah lewat bola-bola pendek, gelandang Jerman memiliki kelebihan dalam menyerang lewat sayap.

Lukas Podolski, striker yang disulap Pelatih Joachim Loew menjadi gelandang kiri, sangat berbahaya dalam memberikan umpan-umpan silang ke mulut gawang. Begitu pula Bastian Schweinsteiger yang selalu bekerja keras dan menjadi momok bek-bek lawan. Sebagai gelandang, Podolski dan Schweinsteiger cukup produktif menyumbang gol: Podolski tiga gol dan Schweinsteiger dua gol.

Serangan sayap Spanyol selama ini lebih banyak dilakukan dua bek sayapnya, Joan Capdevilla di kiri dan Sergio Ramos di kanan. Saat dua bek sayap itu naik, gelandang Marcos Senna biasanya meng-cover posisi yang ditinggalkan dua bek sayap itu. Akan menarik melihat bek-bek Spanyol menahan gempuran Podolski, Ballack, Schweinsteiger, dan striker Miroslav Klose yang andal dalam bola-bola udara.

Klose sendiri masih lebih tajam daripada bomber Spanyol, Fernando Torres. Torres—yang begitu brilian bersama Liverpool di Liga Inggris—sejauh ini belum mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Saat berduet dengan David Villa, ia lebih banyak menjadi penyuplai ketimbang penuntas serangan. Namun, jika peran Torres macet, para gelandang Spanyol bisa menjadi penuntas gempuran.

Di bawah mistar, harus diakui kiper Spanyol, Iker Casillas, lebih stabil ketimbang kiper Jerman, Jens Lehmann. Casillas menjadi pahlawan Spanyol saat mereka memukul Italia lewat adu penalti 4-2. Sementara Lehmann beberapa kali memperlihatkan penampilan yang membuat cemas suporter Jerman.

Namun, di atas kalkulasi teknik di atas, tidak bisa dimungkiri sisi mental pemain Jerman lebih teruji daripada pemain Spanyol. Jerman dikenal dengan banyak julukan, mulai dari ”tim mesin diesel”, ”tim spesialis turnamen”, dan lain-lain. Namun, dari segi teknik permainan banyak kalangan lebih memuji Spanyol.

Partai final Senin dini hari nanti secara simplistik akan mempertandingkan: mental versus teknik. Mana yang unggul, kita tunggu saja. (Mh Samsul Hadi dari Vienna, Austria)
Read More...

Diakhiri Enrique Iglesias

| Label: | 0 komentar |

Vienna, Kompas - Setelah melewati 22 hari dengan memutar 30 partai, Piala Eropa 2008 akan ditutup dengan partai final Jerman versus Spanyol, yang diawali upacara penutupan selama 10 menit di Stadion Ernst-Happel, Vienna, Austria, Minggu (29/6) atau Senin dini hari WIB.

Panitia menyebutkan, seperti upacara pembukaan 7 Juni lalu, upacara penutupan digelar singkat karena mereka lebih memfokuskan diri pada pertandingan.

Dalam briefing kepada wartawan, Jumat (27/6), staf UEFA, Tomas Giordano, mengungkapkan bahwa upacara penutupan tersebut akan dimulai sekitar pukul 20.29 waktu setempat atau Senin pukul 01.29 WIB. Penyanyi Spanyol, Enrique Iglesias, akan melantunkan lagu resmi Piala Eropa 2008, Can You Hear Me

Upacara penutupan tersebut juga akan dimeriahkan 400 penari dari Sekolah Musik Vienna (Vienna Musical School). Setiap tim peserta Piala Eropa 2008 akan direpresentasikan lewat balon.

Lapangan bagus

Giordano memastikan bahwa lapangan Stadion Ernst-Happel yang akan digunakan untuk laga terakhir dalam kondisi bagus. Padahal, pada partai semifinal Rusia versus Spanyol, Kamis lalu, lapangan tersebut diguyur hujan deras.

”Kami memiliki tenaga ahli yang langsung mengecek kondisi lapangan setelah laga semifinal Kamis lalu. Meski hujan deras, kami sungguh puas dengan kondisi lapangan. Jadi, kami cukup yakin lapangan bakal dalam kondisi bagus,” ujar Giordano.

Dari pengamatan Kompas saat mengikuti sesi pemotretan Enrique Iglesias di pinggir lapangan, Jumat malam WIB, kondisi rumput Ernst-Happel terlihat mulus tanpa cacat. Tidak terlihat sedikit pun bagian rumput yang botak atau terkelupas. Juga tidak ada bagian lapangan yang tergenang air.

Pengamanan diperketat

Sementara itu, panitia juga menerapkan pengamanan yang diperketat untuk upacara penutupan dan partai final seiring dengan hadirnya beberapa tamu penting dari kalangan pejabat maupun selebriti.

Wartawan yang telah memiliki kartu akreditasi pun masih diharuskan melengkapi stiker khusus warna merah bertuliskan ”Final” untuk bisa masuk ke kompleks Stadion Ernst-Happel.

Beberapa tamu penting yang dijadwalkan hadir pada upacara penutupan dan partai final Piala Eropa 2008 tersebut antara lain Raja Spanyol Juan Carlos dan Ratu Sofia, Kanselir Jerman Angela Merkel, Pangeran Spanyol Felipe dan istrinya, Letizia, Perdana Menteri Spanyol Jose Luis Rodriguez Zapatero, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Henry Kissinger, serta beberapa pejabat tinggi sepak bola seperti Presiden FIFA Joseph Blatter dan Presiden UEFA Michel Platini.

Tiket ludes

Semua tiket final dilaporkan ludes terjual. Di sudut kota Vienna terlihat beberapa orang mengumumkan lewat tulisan bahwa dirinya membutuhkan tiket final. Menurut panitia, nilai jual tiket final Piala Eropa 2008 mencapai sekitar 4.000 euro (sekitar Rp 56 juta) untuk tiga lembar dalam bursa tiket di internet. (Mh Samsul Hadi dari Vienna, Austria)
Read More...