Tampilkan postingan dengan label Joachim Loew. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Joachim Loew. Tampilkan semua postingan

Loew: Spanyol Pantas Juara

30 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN - Pelatih Jerman, Joachim Loew, kecewa karena timnya gagal menjadi juara Piala Eropa 2008 karena ditaklukkan Spanyol 0-1 di babak final, Senin (30/6) dini hari WIB. Namun, dia dengan besar hati mengakui bahwa sepakbola menyerang yang diperagakan Spanyol pantas menjadi pemenang.

Dalam pertandingan di Stadion Ernst Happel itu, Spanyol mendominasi pertandingan. La Furia Roja berhasil menciptakan sejumlah peluang emas namun hanya satu gol yang tercipta dari kaki Fernando Torres pada menit ke-32.

Namun, Loew tak mau menyalahkan performa Michael Ballack dkk. Dia tetap memberikan pujian bagi Der Panzer dan menghargai semua kerja keras tim selama hampir sebulan bertarung di Austria-Swiss.

"Saya harus membayar tim ini dengan sebuah pujian yang tinggi karena mereka sudah menunjukkan permainan fantastis. Para pemain pasti kecewa, namun mereka tak usah terlalu sedih. Mereka harus tetap keluar dari lapangan dengan kepala tegak karena sudah bisa tampil di final merupakan sebuah prestasi," ungkap Loew usai pertandingan.

"Dalam pertandingan final ini, Spanyol memang lebih baik. Mereka juga mempunyai peluang-peluang bagus sehingga layak jadi pemenang," tambah Loew yang jadi asisten Juergen Klinsmann pada Piala Dunia 2006.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, juga memberikan pujian kepada usaha para pemain. Menurut wanita penggila bola yang selalu setia menyaksikan setiap pertandingan Jerman itu, Ballack dkk tak boleh larut dalam kesedihan karena masih ada kesempatan lain untuk membuktikan kehebatannya.

"Berada di final sudah merupakan sebuah kesuksesan besar. Kami telah berjuang keras, namun akhirnya tak bisa meraih hasil terbaik. Di Piala Dunia, kami meraih peringkat tiga dan di Piala Eropa jadi runner-up. Saya mengatakan kepada Ballack, kita tunggu sampai Piala Dunia Afrika Selatan 2010 untuk merayakan kesuksesan," ujar Merkel. (GL/LOU)

Read More...

Jerman, Rebutlah Piala

| Label: , , | 0 komentar |

Judul di atas, mengutip tulisan di tabloid terbesar di Jerman, Bild. Sehari setelah Jerman menghentikan keajaiban Turki, 3-2, di Basel, Swiss, Bild membakar semangat Michael Ballack dan kawan-kawan untuk konsentrasi menghadapi partai final, antara Spanyol dan Rusia.

”Kini, kami boleh bermimpi. Jerman, rebutlah piala,” tulis Bild.

Sebetulnya, Bild tidak sepenuhnya menilai Jerman telah memberikan yang terbaik ketika menggulung Turki. Di bagian lain, Bild justru mengecam keras penampilan 90 menit Jerman.

”Jika kami masih bermain seperti melawan Turki, kesulitan besar akan kami hadapi ketika bertemu Rusia atau Spanyol yang bermain dengan kecepatan dan teknik yang tinggi,” lanjut Bild.

Lain lagi pernyataan ”Kaisar” Franz Beckenbauer. Mantan kapten yang membawa Jerman merebut gelar Piala Dunia tahun 1974 ini kecewa dengan penampilan Jerman, tetapi bangga tim kesayangannya masuk final.

Sedikit sekali terlihat pemain Jerman bergerak untuk merebut bola dari lawan, tetapi siapa yang peduli? Jerman kini sudah masuk final dan kita akan menyaksikan Jerman yang lain di final hari Minggu nanti,” kata Beckenbauer.

Beruntung

Harus diakui, Jerman berhasil mencuri keberuntungan Turki. Dibandingkan dengan empat pertandingan sebelumnya, maka penampilan Jerman dua malam lalu adalah yang terjelek. Turki memang bagus, tetapi Jerman seharusnya lebih hebat lagi.

Sebagai tim dengan reputasi besar, Jerman selama ini dikenal sebagai kesebelasan yang pantang menyerah, dan memiliki semangat juang sampai titik darah penghabisan. Itu sebabnya, tim -tim besar lainnya tidak pernah mau menghentikan tekanan terhadap Jerman sebelum peluit panjang berbunyi.

Akan tetapi, apa yang diperlihatkan Jerman di Basel tidaklah menggambarkan seutuhnya kualitas dan predikat mereka. Gol kemenangan Philip Lahm satu menit menjelang bubaran bisa dikatakan sebagai hasil dari buah jerih payah.

Namun, gol itu bukanlah cermin dari keseluruhan penampilan Jerman sepanjang 90 menit. Justru dalam penguasaan bola Jerman kalah dari Turki, 46-54. Jumlah sepak pojok pun Turki melakukannya sebanyak delapan kali, sedangkan Jerman hanya dua kali.

Selain tidak disiplin dan bermain tanpa gairah, pertahanan Jerman pun sangat keropos. Dua gol Turki tidak perlu terjadi kalau duet Per Mertezacker dan Cristoph Metzelder lebih rapi menggalang kerja sama di jantung pertahanan.

Lima gol yang dua bersarang di gawang yang dikawal Jens Lehmann menjawab kerapuhan pertahanan. Titik ini yang perlu diperbaiki Joachim Loew, bila tidak ingin dibulan-bulani David Villa-Fernando Torres, atau Andrei Arshavin-Roman Pavlyuchenko di final.

Turki, seperti yang sering didengungkan Pelatih Fatih Terim, sangat mengandalkan semangat juang. Itu sebabnya mereka, meski tanpa empat pemain inti, sanggup merepotkan Jerman.

Mehmet Aurelio, Ayhan Akman, Ugur Boral, dan Semih Senturk sanggup bermain optimal mengisi posisi yang ditinggalkan Emre Asik, Tuncay Sanli, Arda Turan, dan Nihat Kahveci.

Boral, bahkan, mengentakkan Jerman lebih dulu setelah dengan jitu menyelesaikan bola sepak pojok pada menit ke-22. Adapun Senturk nyaris memperpanjang keajaiban Turki ketika menyamakan kedudukan menjadi 2-2, empat menit menjelang bubaran.

Kekuatan Turki untuk meredam ketangguhan Jerman adalah bagaimana mereka bermain dengan disiplin posisi. Menyadari secara kualitas individu, Turki sulit mengimbangi Jer man, maka mereka memanfaatkan penguasaan daerah untuk membendung tekanan Jerman.

Hanya karena tiadanya seorang penggerak dari lapangan tengah, Turki akhirnya tidak sebaik Jerman saat melancarkan serangan. Meskipun demikian, apa yang diperlihatkan Turki sudahlah maksimal. Namun, kali ini mereka gagal melanjutkan perjalanan ke final.

Kegagalan Turki tetap mendapat respons positif dari media massa lokal. Semuanya bernada memuji. ”Kami telah menghancurkan Jerman, tetapi tidak bisa mengalahkan mereka,” tulis harian Sabah. ”Sebuah perpisahan yang gemilang,” tambah harian liberal, Milliyet. (YES

Read More...

Wenger Ramalkan Jerman Juara

26 Juni 2008 | Label: , | 0 komentar |

BASEL, RABU - Manajer klub Arsenal, Arsene Wenger, menjagokan tim Jerman menang dalam Euro 2008. Jerman dinilai masih memiliki stamina yang tinggi, pemain yang konsisten, serta mental yang kuat untuk bertarung di laga internasional.

"Jerman seolah tidak pernah beristirahat ketika mereka ada di markas, tetapi saat masuk ke lapangan, tim ini langsung bersatu. Sepengetahuan saya, tim ini adalah salah satu dari sedikit negara yang pemainnya bisa saling menjelek-jelekkan dua hari sebelum pertandingan, namun bisa menyatu saat pertandingan dimulai dan menjadi sangat kuat," ujar Arsene.

Tidak hanya itu, Arsene juga melihat Jerman mempunyai kesederhanaan dalam permainan yang menuntut kebersamaan. Kesederhanaan itu muncul ketika tim ini tidak menggunakan banyak aksi-aksi yang tidak dibutuhkan dalam pertandingan, dan terutama mereka bermain sangat efisien.


Dari sisi pemain, Arsene masih menganggap kapten Jerman Michael Ballack yang bermain di tim Chelsea-salah satu lawan tangguh Arsenal di Liga Inggris-sebagai sosok pemain yang sejauh ini paling konsisten di Piala Eropa 2008.

Ballack disebut Arsene sebagai inspirasi terpenting bagi Jerman. "Saya yakin, dia membawa dimensi baru pada pertandingan. Tidak bisa diragukan lagi, Ballack adalah pemimpin di tim ini," kata Arsene.

Arsene membandingkan dengan sesama pemain Jerman, Lukas Podolski, yang juga mempunyai kemampuan yang baik dalam sebuah laga sepak bola. Namun, Ballack menyimpan sejumlah potensi seperti membangkitkan inspirasi pertandingan bagi tim, bermain secara efisien, sekaligus mencetak gol untuk Jerman.

Rusia sebenarnya juga memiliki penyerang yang baik, yakni Andrei Arshavin, yang menjadi inspirasi bagi timnya, terutama dalam dua pertandingan terakhir. Rusia, menurut Arsene, tampil dramatis sejak mereka mengalahkan Israel pada babak kualifikasi. Pada pengujung Piala Eropa 2008, Arsene meramalkan partai final akan diisi duel Jerman dan Spanyol, yang kemudian dimenangi Jerman. Pada semifinal, Jerman akan mengalahkan Turki dan Spanyol menekuk Rusia.

Spanyol, menurut Arsene, mempunyai satu-satunya masalah, yakni belum pernah memenangi apa pun selama lebih dari 30 tahun. "Sering kali Spanyol memainkan satu-dua pertandingan, lalu pulang ke rumah," kata Arsene.

Pengalaman menang inilah yang menjadikan Jerman lebih baik dibandingkan tim lain yang masuk ke perempat final. Secara teknis, delapan tim di perempat final mempunyai kemampuan yang sama. Namun, Jerman memiliki mental yang jauh lebih baik untuk memenangi pertandingan. (AP/ART)

http://bolaeropa.kompas.com/read/xml/2008/06/26/15405196/wenger.ramalkan.jerman.juara
.
Read More...

Rahasia Jerman Menekuk Turki

| Label: , , | 0 komentar |

BASEL, KAMIS-Lewat pertandingan dramatis dan menegangkan, Jerman akhirnya lolos ke final Piala Eropa 2008 setelah mengalahkan Turki 3-2. Jerman yang sempat tertinggal dan berada tekanan pemain Turki, secara perlahan mampu membalikkan keadaan dan akhirnya lolos ke final Piala Eropa 2008.

Salah satu kunci keberhasilan Jerman melawati dari partai neraka di Stadion St Jakob Park Basel Park itu, menurut mantan pelatim tim Panser Juergen Klinsmann, adalah strategi yang diracik oleh pelatih Jerman saat ini Joachim Loew. Loew, kata Klinsmann, sangat jeli melihat kelemahan timnya setelah dikalahkan Kroasia dan kurang meyakinkan saat mengalahkan Austria.

Pola 4-4-2 warisan Klinsmann dengan berani diubah Loew ketika bertemu Portugal di perempat final. Mario Gomez dicopot, Miroslav Klose dibiarkan sendirian menjadi ujung tombak. Sebagai pengganti Gomez, Loew memainkan gelandang energik Bastian Schweinsteiger. Schweinsteiger dan Podolski berdiri sebagai gelandang menyerang di belakang Klose. Hasilnya, serangan Jerman lebih dinamis dan lini tengah pun menjadi lebih seimbang. Loew juga tidak menutup telinga yang mengkritik lini pertahanan. Dia akhirnya memainkan Arne Friedrich menjadi bek kanan dan menggeser Philip Lahm ke sebelah kiri.

Klinsmann memuji inovasi dan strategi yang dilakukan oleh mantan asistennya itu. "Aku tidak pernah menganggap dia (Joachim Loew) sekadar asisten pelatih, dia lebih dari itu," ujar Klinsmann yang akan menangani Bayern Muenchen mulai musim ini.

Ketika berhadapan dengan Turki, kolaborasi Schweinsteiger dan Podolski kembali menjadi kunci kemenangan. Di saat Michael Ballack, Miroslav Klose, dan Simon Rolfes tampil gugup, kedua pemain Bayern Muenchen ini menjadi inspirator dan pemicu kebangkitan tim Panser. Peran Philip Lahm juga tidak boleh dilupakan dalam pertandingan malam itu. Walau membuat kesalahan yang melahirkan gol kedua Turki, bek kiri Bayern Muenchen itu membalasnya lewat gol cantik di menit-menit akhir.

Tentu saja rahasia keberhasilan Jerman yang adalah staying power (kekuatan yang tidak ada habisnya). Jerman bukan Swiss, bukan Republik Ceko, atau Kroasia yang tak mampu mempertahankan keunggulannya ketika berhadapan dengan Turki. Staying power inilah yang kemudian mampu membuat Jerman lepas dari tekanan pemain Turki hingga akhirnya berbalik unggul.

Jerman masih punya rahasia kekuatan lainnya? Menggilanya penampilan Schweinsteiger tidak lepas dari sentuhan Kanselir Jerman Angela Merkel. Merkel pernah secara langsung menasihati Schweinsteiger sebelum pertandingan melawan Portugal. Kehadiran Merkel yang tidak canggung untuk bersorak memberikan dukungan adalah api yang membakar semangat seluruh pemain tim Panser. (ROY)

http://bolaeropa.kompas.com/read/xml/2008/06/26/05035795/rahasia.keberhasilan.jerman.menekuk.turki
Read More...

Tujuh Kata Kunci Joachim Loew

21 Juni 2008 | Label: , , , | 0 komentar |

Oleh Budiarto Shambazy

Pelatih Jerman Joachim Loew menyimpulkan kunci kemenangan yang meloloskan Jerman ke semifinal. "Saat melawan Portugal, kami menerapkan struktur, organisasi, dan disiplin yang kuat. Kami tampil berani dan memainkan berbagai kombinasi yang bagus," katanya.

Semua keampuhan yang membuat kami sukses pada masa lalu telah berhasil kami terapkan malam ini," ujarnya seusai partai perempat final. Ada tujuh kata kunci dari kalimat Loew: struktur, organisasi, disiplin kuat, keberanian, kombinasi bagus, sukses masa lalu, dan keberhasilan saat ini. Resep serba tujuh yang menopang prestasi "die Mannschaft" (tim nasional) itu boleh jadi sejajar dengan formula sukses bisnis ala Stephen Covey yang terkenal dan dituangkan ke dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People.

Sepak bola Jerman memiliki struktur kuat karena keseragaman system of play yang diterapkan sejak usia dini ke Bundesliga. Jika struktur dirécoki, seperti yang pernah dilakukan sebagian pemain bintang "FC Hollywood" (baca Bayern Muenchen) yang bergelimang gosip daripada prestasi, struktur pun kolaps. Dulu Bayern sarang pemain nasional, mulai generasi Franz Beckenbauer, Karl-Heinz Rummenigge, sampai Juergen Klinsmann.

Fenomena FC Hollywood merusak tradisi itu, antara lain akibat temperamen pemain yang sékringnya mudah putus seperti Oliver Kahn.

Bayern disesaki legiun asing macam Giovane Elber (Brasil), Owen Hargreaves (Inggris), Bixente Lizarazu (Perancis), dan Roque Santa Cruz (Paraguay). Prestasinya sebagai klub langganan juara Liga Champions pudar sampai kini, top scorer- nya Luca Toni (Italia). Untung masih ada Lukas Podolski.

Struktur jadi hebat berkat roda organisasi yang berjalan efektif karena setiap individu bersikap solider, menaati hierarki, dan menghormati aturan. Kanselir Angela Merkel yang menghadiri latihan ikut memompa semangat. "Ia minta saya tak mengulangi kesalahan dan main seperti sedia kala. Saya mengikuti nasihatnya," ujar Bastian "Schweini" Schweinsteiger.

Semangat tiap pemain terpacu untuk tampil sebaik-baiknya demi Loew yang dilarang duduk di bangku cadangan. Hukuman itu tak masuk akal sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan perlakuan terhadap Loew yang menumbuhkan solidaritas. Rasa solidaritas ini, ditambah mentalitas staying power (pantang menyerah) ciri khas tim Panser, melipatgandakan disiplin.

Kata kunci keempat adalah keberanian Ballack dan kawan- kawan yang bermain lebih lepas dibandingkan tiga partai sebelumnya. Grafik masih labil sebab setelah menang atas Polandia, Jerman ditaklukkan Kroasia, menang "bola mati" atas Austria, dan menjungkalkan Portugal. Ballack didorong lebih ke depan agar lebih bebas, Schweini dan Podolski makin tajam, dan lini belakang pun nyaris sempurna.

Jika Ballack bertindak sebagai playmaker yang punya daya jelajah leluasa, otomatis kombinasi-kombinasi serangan lebih beragam-kata kunci kelima. Setpieces ala Jerman makin penuh muslihat karena Loew tahu leher dia akan digorok kalau Jerman tersingkir lagi di babak penyisihan grup untuk ketiga kalinya berturut-turut. Bayangkan, setelah menjadi juara 1996, die Mannschaft gagal menang di enam partai penyisihan grup tahun 2000 dan 2004!

Penyakit absen sejarah

Loew, Ballack, pemain-pemain lain, bahkan Presiden DFB (Deutscher Fussball Bund) Theo Zwanziger dan Beckenbauer mafhum bahwa sepak bola salah satu ekspor andalan. Itu sebabnya, klub Bayern dan Dortmund berkunjung ke Jakarta belum lama ini karena makin jatuh mérek di Asia dibandingkan klub-klub sohor Inggris. Jerman satu-satunya juara Euro tiga kali dan tiga kali pula jadi "die Weltmeister" (juara Piala Dunia).

Kejayaan sejarah masa lalu, yang merupakan kata kunci keenam, merupakan harga mati bagi bangsa Jerman. Mengapa? Sebab, berhubung keterbatasan memori manusia, mereka justru dianggap sebagai bangsa yang tak punya masa lalu. Dan, penyakit absen sejarah ini berawal dari petualangan Adolf Hitler.

Seperti halnya Jepang, bangsa Jerman sejak era pasca-Perang Dunia II ibaratnya menyapu sampah sejarah ke bawah karpet. Bangsanya terpecah di Barat dan Timur, tertutup, serta enggan menunjukkan rasa nasionalisme yang fanatik karena bisa dituduh Neo-Nazi. Gambaran itu tampak dari sosok dua pemain die Mannschaft terkenal, yakni Fritz Walter sang kapten juara dunia 1954 dan Ballack.

Walter pribadi serius yang terbeban sejarah kelam Nazi. Ia kaku, spartan, dan enggan jadi pesohor. Ballack tak suka masa lalunya di Jerman Timur yang komunis disorot. Rata-rata pemain nasional menghindari hiruk-pikuk ala David Beckham- kecuali Beckenbauer sang playboy atau Kahn yang flamboyan.

Gerd Mueller sempat mengalami gangguan jiwa gara-gara ngetop. Paul Breitner memprotes sterilisasi sejarah dengan menjadi Marxis. Klinsmann lebih suka angin pantai di California, AS, daripada mengurus bisnis roti di Stuttgart. Tak sedikit pemain top memilih pindah ke Liga Spanyol atau Italia daripada berkutat di Bundesliga yang kaku dan puritan.

Seperti halnya Jepang, satu-satunya pengalih perhatian sejarah yang produktif adalah teknologi. Jika Jepang penemu mobil hemat, Jerman punya Mercedes-Benz dan BMW, "The Beatles dan Rolling Stones" (mobil nomor satu dan dua) dunia. Pemain die Mannschaft tidak cuma Mercedes atau BMW, tetapi juga Porsche, Audi, Opel, bahkan Volkswagen.

Teknologi unggul. Itulah yang jadi bukti nyata keampuhan kata kunci ketujuh Loew, keberhasilan saat ini. Nah, senjata rahasia tujuh kata kunci ala Loew telah disiapkan. Dua langkah lagi sang Panser tak mustahil mencetak rekor baru: juara Euro untuk keempat kalinya. Pertanyaannya, apakah Anda masih ragu?*

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/00401858/tujuh.kata.kunci.joachim.loew
Read More...

Loew Dilarang Dampingi Pemain Jerman

20 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Vienna, Rabu - UEFA memutuskan, Pelatih Jerman Joachim Loew dilarang mendampingi timnya dalam pertandingan perempat final antara Jerman dan Portugal, Kamis (19/6) atau Jumat dini hari WIB di Stadion St Jakob Park, Basel, Swiss. Larangan itu berlaku sejak tim datang di stadion hingga akhir laga.

Loew dan Pelatih Austria Josef Hickersberger diusir wasit Manuel Mejuto dalam pertandingan antara kedua tim, Senin lalu, karena melakukan protes berlebihan kepada wasit keempat.

UEFA sekarang melarang Loew mengadakan kontak dengan para pemainnya. Loew dilarang duduk di bangku pelatih, melakukan komunikasi radio dengan asistennya, memberikan pengarahan sebelum pertandingan, dan mendatangi kamar ganti pemain saat jeda pertandingan. Namun, Loew masih diizinkan mengadakan jumpa pers seusai pertandingan.


Menanggapi keputusan itu, asisten Loew, Hansi Flick, tampaknya disiapkan untuk mengambil alih posisi Loew. Hal itu telah dilakukan Flick setelah Loew diusir dari lapangan.

Keputusan UEFA menghambat persiapan Jerman untuk menghadapi pertandingan penting. Juara Piala Eropa tiga kali itu hanya memiliki masa istirahat satu hari lebih singkat dibandingkan dengan tim Portugal.

Loew, seperti dikutip oleh situs Asosiasi Sepak Bola Jerman, www.dfb.de, mengatakan sudah menerima keputusan UEFA dan enggan memberikan komentar. Namun, Loew mengaku sangat kecewa dengan keputusan tersebut.

"Kami menyadari keputusan ini merupakan keputusan sulit bagi UEFA. UEFA juga membutuhkan waktu lama sebelum membuat keputusan pasti," kata Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman Theo Zwanziger.

Menurut Zwanziger, tim nasional Jerman harus menunjukkan kemampuan terbaiknya dari segi kekuatan fisik dan taktik saat menghadapi Portugal.

"Akan menjadi kebanggaan besar bagi kami kalau Jerman bisa masuk semifinal setelah kondisi sulit seperti saat melawan Portugal nanti," kata Zwanziger.

Sesaat setelah diusir wasit, Loew sempat menghampiri tempat duduk Kanselir Jerman Angela Merkel dan melakukan pembicaraan, sementara Flick dan manajer tim Austria, Andreas Herzog, melakukan jumpa pers di Stadion Ernst Happel seusai pertandingan. (AP/REUTERS/WAD)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/19/01324566/joachim.loew.dilarang.dampingi.pemain.jerman
Read More...

Deco dan Ballack Pegang Kunci

| Label: , , , , | 0 komentar |

PEMAIN Jerman sudah menyiapkan segala piranti untuk mengawal winger Portugal, Cristiano Ronaldo pada laga babak perempatfinal pertama Euro 2008, Jumat (20/6/2008) dini hari. Namun bisa jadi kunci utama untuk lolos ke semifinal bukan pada sosok Ronaldo. Pemain yang bakal memegang peranan penting bagi kedua tim untuk lolos ke babak semifinal adalah dua bintang lapangan tengah, midfielder Michael Ballack di kubu Jerman dan Deco Souza (Portugal).

Ballack tentu akan menunjukkan penampilan gemilangnya di hadapan pelatih baru Chelsea, Luiz Felipe Scolari. Sudah dipastikan Scolari adalah bos baru di klub Michael Ballack untuk musim kompetisi mendatang. Pelatih asal Brasil, Scolari kini juga sudah membidik nama Deco sebagai calon pemain pertama yang bakal dibawanya ke Chelsea per 1 Juli mendatang. Eks gelandang FC Porto itu bakal dilepas klubnya saat ini Barcelona. Karena itu, bisa jadi laga yang akan dipentaskan di Stadion St Jakob-Park, Basel ini adalah pertempuran dua pemain gelandang yang saat ini ingin mencuri simpati Scolari.

Deco yang baru pulih dari cedera panjang membuat penampilan mengesankan selama dipilih Scolari sebagai starter dalam dua laga Portugal di penyisihan Grup A. Bahkan ia turut menyumbangkan sebuah gol saat Seleccao mengalahkan Republik Ceko 3-1.

Pelatih Jerman, Joachim Loew juga mengakui hal ini. "Kami akan memasang pengawalan tak hanya pada Ronaldo. Mereka (Portugal) memiliki pemain dengan kemampuan serupa dengan Ronaldo. Mereka sangat cepat dan mampu mendribling bola dengan baik. Deco bisa menjadi kunci dengan satu umpannya," kata Loew.

Kemampuan pasukan Der Panzer untuk menghentikan kreativitas Deco tergantung pada lini tengah mereka. Dan, semua itu kembali pada performa Ballack yang mencetak gol kemenangan saat mengalahkan Austria 1-0. "Dia (Ballack) memiliki pengaruh yang besar bagi tim dan dia bisa menentukan ke mana arah pertandingan kami nanti," lanjut Loew seperti dikutip Independent.co.uk.

Masalahnya, Ballack bakal kehilangan tandem sehatinya di lini tengah, Torsten Frings. Ia mengalami patah tulang iga. Selama ini, Frings menjadi benteng tangguh di lini tengah Jerman sehingga memudahkan Ballack melancarkan serangan.

Pujian Scolari
Tentang Deco, Scolari menyatakan sulit membuat timnya bermain baik jika tidak ada pemain bernama lengkap Anderson Luis de Souza di lini tengah Portugal. "Hanya ada satu pemain lain yang memiliki keterampilan serupa di Euro 2008, yakni Belanda dengan Wesley Sneijder-nya. Deco adalah individu yang peduli. Dia siap mengambil risiko besar untuk membuat perbedaan," kata Scolari dikutip Reuters.

Setelah diistirahatkan melawan Swiss di partai terakhir Grup A, Deco kembali akan menjadi tumpuan Scolari yang akan menurunkan kekuatan terbaik. Bersama Joao Moutinho dan Armando Petit, Deco terbukti membuat lini tengah Portugal benar-benar berbeda. Dua pemain lainnya Cristiano Ronaldo dan Simao Sabrosa membuat lini belakang lawan harus sigap. Belum lagi Scolari memiliki opsi lain dengan Ricardo Quaresma dan Nani.

Ballack Sesumbar
Kini, tugas besar ada di pundak Ballack untuk bisa menghentikan permainan lini tengah Portugal yang komplit. Namun kapten Jerman ini sesumbar bisa menjalankan tugasnya sekaligus memukul Portugal. "Jerman saya rasa tidak ada hambatan untuk mengalahkan Portugal, karena kami pernah mengalahkannya (3-1) di perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2006 lalu," ungkapnya seperti dilansir Goal.

Ballack menyebut kemenangan atas Portugal di perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2006 setidaknya banyak memberi masukkan bagi dirinya dan rekan-rekannya di tim berjuluk Der Panzer ini. "Dari pertandingan itu kami banyak mengetahui bagaimana Portugal bermain. Mereka memainkan sepak bola menyerang, dengan Cristiano Ronaldo sebagai pemain inti," katanya.
Ia meyakini laga Portugal-Jerman merupakan pertandingan sulit bagi kedua tim. Ballack setuju jika Portugal lebih difavoritkan, namun Jerman memiliki pengalaman mengalahkannya. "Portugal boleh saja difavoritkan di Piala Eropa ini, namun kami pun memiliki peluang mengalahkan Portugal seperti di Piala Dunia 2006," tandasnya. (Persda Network/rif/oro)

Prakiraan Pemain
PORTUGAL (4-2-3-1): 1-Ricardo; 4-Bosingwa, 15-Pepe, 16-Carvalho, 2-Ferrerira; 10-Moutinho, 8-Petit; 7-Ronaldo, 20-Deco, 11-Simao; 21-Nuno Gomes
Cadangan: 12-Nuno Santo, 22-Patricio, 3-Alves, 14 Ribeiro, 5-Meira, 13-Miguel, 18-Veloso, 6-Meireles, 17-Quaresma, 19-Nani, 9-Almeida, 23-Postiga
Pelatih: Luiz Felipe Scolari (Brasil)

JERMAN (4-4-2): 1-Lehmann; 3-Friedrich, 21-Metzelder, 17-Mertesacker, 16-Lahm; 7-Schweinsteiger, 15-Hitzlsperger, 13-Ballack, 20-Podolski; 11-Klose, 9-Gomez
Cadangan: 12-Enke, 23-Adler, 5-Westermann, 6 Rolfes, 2-Jansen, 4-Fritz, 19-Odonkor, 18-Borowski, 14-Trochowski, 22-Kuranyi, 10-Neuville
Pelatih: Joachim Loew
Read More...

Loew, Melepas Bayang-bayang Klinsmann

16 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Ketegangan yang terekam lekat di wajah Joachim Loew (48) perlahan mencair begitu tendangan keras Lukas Podolski merobek gawang Polandia untuk kedua kalinya, Minggu (8/6) malam. Dan, ketegangan itu menjadi benar-benar cair ketika peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan, 21 menit kemudian.

Ujian pertama bagi pelatih Jerman pengganti Juergen Klinsmann setelah Piala Dunia 2006, khususnya di kejuaraan resmi, itu berakhir dengan baik. Jerman tampil impresif dan menjungkalkan Polandia, 2-0.

Loew melakukan semuanya secara cermat dengan hasil sempurna malam itu. Dia pilih para pemain utama dengan tepat serta mengganti pemain secara benar dan tepat waktu.

Meski yang dikalahkan Jerman adalah Polandia, tim yang belum pernah menang atas Jerman dalam 15 kali pertemuan, kemenangan yang diraih Jerman itu sangat berarti. Hal itu adalah kemenangan pertama di ajang Piala Eropa sejak menjadi juara 12 tahun silam. Jalan Jerman untuk melaju dan merebut Piala Eropa keempat kalinya pun makin terbuka.

Oliver Bierhoff, pahlawan Jerman saat merebut Piala Eropa 1996 yang kini menjadi general manager tim Jerman di Austria-Swiss, bersorak. Ia bangga melihat penampilan anak asuh Loew.

"Tim ini sangat fokus untuk juara, sama seperti saya dan teman-teman tahun 1996. Bahkan, kali ini mungkin Ballack dan rekan-rekan lebih 'lapar'," kata Bierhoff sambil memuji strategi Loew.

Lepas dari tangan Klinsmann, Loew tetap meneruskan gaya permainan 4-4-2 yang agresif. Namun, kini Loew semakin memantapkan sepak bola menyerang nan cepat, tapi dengan pertahanan yang mantap, tenang, dan penuh perhitungan.

Catatan hasil timnya cukup memuaskan selama babak kualifikasi. Dia sukses meloloskan tim Panser ke Austria-Swiss dengan catatan delapan kali menang, tiga kali seri, dan sekali kalah. Jerman juga menjelma menjadi tim dengan catatan produktivitas tinggi. Mereka mencetak 35 gol dan hanya kebobolan tujuh gol. Lewat catatan-catatan itu, plus kemenangan impresif 2-0 atas Polandia, Jerman semakin pantas dikedepankan sebagai salah satu tim unggulan pada Piala Eropa 2008.

Loew mengaku, dirinya tidak merasa asing menangani Podolski dan kawan-kawan. Namun, ia merasakan pengalaman yang sungguh-sungguh baru, mendebarkan, tapi memberi kegembiraan luar biasa ketika akhirnya berhasil.

"Pengalaman hebat berdiri sendiri sebagai manajer tim. Rasanya berada tepat di pinggir tebing hingga kami berhasil mencetak gol kedua," kata Loew.

Secara khusus, mantan pemain dan manajer klub VfB Stuttgart itu memuji penampilan Lukas Podolski.

"Podolski adalah sosok striker yang memberi ancaman setiap waktu di depan gawang lawan. Kecepatan dan kekuatannya luar biasa," kata Loew. Loew kini menatap ke depan. Ia siap menjadi suksesor dari legenda hidup Jerman, lebih dari seorang Klinsmann. "Memang, target meraih gelar juara Eropa itu tinggi, tapi kami punya alasan kuat untuk dapat mencapainya," kata Loew. (AP/BEN

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/10/02105790/joachim.loew.melepas.bayangbayang.klinsmann
Read More...

Jerman Tampil Mengecewakan

15 Juni 2008 | Label: , , , | 0 komentar |

Tumbangnya Jerman dari Kroasia, 1-2 (0-1)- pada lanjutan laga Grup B Piala Eropa 2008 di Stadion Woerthersee, Klagenfurt, Austria, Kamis (12/6) atau Jumat dini hari WIB-memunculkan tanda tanya besar. Pelatih Jerman Joachim Loew juga mengaku kecewa, tetapi ia sadar bahwa timnya gagal memainkan bola-bola akurat dan cepat.

Gelandang Kroasia Darijo Srna dan striker Ivica Olic menjadi petaka bagi tim "Panser", julukan timnas Jerman, melalui gol kedua pemain itu berturut-turut menit ke-24 dan 62. Kroasia lolos ke perempat final menyusul Portugal setelah dua tim Grup B lainnya, Austria dan Polandia, bermain imbang, 1-1, di Vienna, Austria.

Jerman, tim favorit juara, hanya bisa mempertipis kekalahan itu lewat gol Lukas Podolski pada menit ke-79. Dengan kekalahan itu, laju pasukan Pelatih Joachim Loew ke perempat final sementara tertahan. Mereka baru bisa memastikan lolos atau tidak pada laga terakhir melawan tuan rumah Austria di Vienna, Senin mendatang.

"Ini kekalahan yang sangat mengecewakan. Kami pantas kalah. Sebagai tim, kami gagal memainkan bola-bola akurat dan cepat," ujar Loew dalam jumpa pers. "Kami gagal bermain dengan kombinasi taktik. Kroasia mempunyai dua bek sayap hebat. Kami pantas kalah dan kami terima itu."

Austria dan Polandia

Pada partai mendatang, Michael Ballack dan kawan-kawan harus bersaing dengan Austria maupun Polandia. Jerman memang memiliki poin tiga, lebih tinggi dari dua pesaingnya yang sementara ini masing-masing cuma meraup satu poin.

Namun, jika gagal mengalahkan Austria pada laga berikutnya, Jerman terancam kandas di penyisihan. Itu bisa terjadi jika Polandia menaklukkan Kroasia dengan selisih tiga gol atau lebih. Jerman tidak lolos dari penyisihan pada dua Piala Eropa terakhir, yaitu 2000 dan 2004.

Tampil dengan formasi yang sama dengan saat memukul Polandia, 2-0, Jerman tak berdaya menghadapi permainan terpadu tim Kroasia. Semua lini lumpuh tanpa koordinasi. Pada babak pertama, mereka mendapatkan peluang lewat Podolski, sundulan Mario Gomez, dan Christoph Metzelder, tetapi semuanya melenceng. "Sangat sulit bagi saya menjawab mengapa pemain Jerman bisa tampil seperti itu," kata Loew.

Kapten Michael Ballack gagal menunjukkan kepemimpinannya pada saat timnya bermain tanpa arah. Pada babak kedua, Jerman sempat menggeliat ketika tampil dengan formasi lama di Piala Dunia 2006: Philipp Lahm dan Bastian Schweinsteiger di kiri, Podolski naik ke depan.

Gol balasan Podolski pada menit ke-79 tercipta dari aliran bola Lahm-Schweinsteiger-Lahm-Ballack-Klose, yang menghadirkan umpan matang bagi Podolski. Namun, terlalu sempit bagi Jerman mengejar ketertinggalan. Schweinsteiger bahkan diusir wasit menjelang injury time karena memukul bek kiri Kroasia, Ivan Rakitic.

Bola Kroasia lancar

Seperti halnya juga Jerman yang menerapkan 4-4-2, Kroasia tampil dengan aliran bola antarlini yang lancar. Mereka menyerang dari berbagai penjuru: tengah lewat duet playmaker Niko Kovac-Luka Modric, kiri melalui Ivan Rakitic atau Danijel Pranjic, dan kanan lewat Darijo Srna atau Vedran Corluka.

Dalam menyerang, bek Danijel Pranjic (kiri) dan Vedran Corluka (kanan) tak pernah absen naik. Gol Srna pada menit ke-24 juga berawal dari umpan silang Pranjic. Pertahanan Kroasia juga sama baiknya dengan saat mereka menyerang. Ketika tertekan, di sisi kiri Pranjic merapat ke tengah, Rakitic turun ke bawah.

Hal sama juga di sisi kanan: Corluka merapat ke tengah, sementara Srna mengisi posisi Corluka. Dengan formasi seperti itu, duet bek tengah Josip Simunic-Robert Kovac tinggal menghalau bola yang mengancam gawang. Kiper Stipe Pletikosa juga tampil cemerlang, termasuk saat menepis bola tendangan bebas Ballack, sontekan kaki Klose, dan umpan silang Lahm.
(Mh Samsul Hadi dari Klagenfurt, Austria)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/14/01071966/jerman.tampil.mengecewakan
Read More...

Kami Pantas Menerima Kekalahan Ini

| Label: , , | 0 komentar |

Pelatih Joachim Loew menjadi sasaran kritik media Jerman setelah timnya tumbang dari Kroasia 1-2 (0-1) di Klagenfurt, Kamis (12/6) atau Jumat dini hari WIB. Memakai jas gelap dengan hem putih, pelatih berusia 48 tahun yang selalu tampil necis itu berusaha tenang dan tidak gugup saat menjawab cecaran pertanyaan media dalam konferensi pers seusai laga.

Berikut petikan tanya-jawab wartawan dengan Loew dalam jumpa pers yang juga dihadiri Kompas.

Tanya: Komentar Anda soal permainan Kroasia versus Jerman?

Jawab: Sangat mengecewakan kami kalah dari Kroasia di Klagenfurt. Kami pantas kalah. Sebagai tim, kami gagal memainkan bola-bola akurat dan cepat. Kami juga gagal bermain dengan kombinasi taktik. Kroasia memiliki dua bek sayap hebat. Kami pantas kalah dan kami terima itu.

Anda terkejut dengan tekanan para pemain Kroasia?

Tidak. Saya tidak terkejut. Lawan kami memang tangguh, sementara pemain kami banyak kehilangan bola. Saya tahu, Mladen Petric tidak akan turun (starter). Saya yakin, cara bermain kami tidak memuaskan. Terlalu banyak memainkan bola-bola tinggi dan umpan-umpan panjang.

Anda yakin Jerman akan lolos ke perempat final?

Ya. Saya yakin itu. Kami akan tampil berbeda, Senin nanti (lawan Austria). Kami sudah dekat ke perempat final.

Adakah sesuatu pada pertandingan itu yang membuat Anda puas?

Kami seharusnya tidak puas dan tidak bisa puas. Kami tampil buruk sehingga tidak ada alasan untuk puas.

Mengapa tim Anda bisa bermain seburuk itu?

Sangat sulit saya menjawabnya. Kami harus menganalisis rekaman pertandingan bersama staf pelatih lainnya. Kroasia bermain sangat bagus di lini pertahanan mereka. Dua bek sayap mereka hebat.

Komentar Anda soal diusirnya Bastian Schweinsteiger?

Waktu itu terjadi, saya melihat ke sisi lain lapangan pertandingan. Saya rasa, ada pemain datang dari belakang, tetapi dia seharusnya tidak terprovokasi. Itu perbuatan tidak sportif.

Tim Anda tampak sekali tidak terkoordinasi.

Terlalu banyak celah antarlini di tim kami. Harus saya sebutkan, kami tidak bermain dengan cara yang seharusnya. Di akhir, saya berusaha menurunkan Kuranyi untuk menciptakan perubahan dalam permainan bola tinggi.

Mr Loew, apakah mungkin tim Anda terlalu percaya diri?

Saya dapat katakan, tidak. Jujur saja, setelah menang lawan Polandia kami dilanda eforia. Saya rasa, hal itu positif saja. Tetapi, dapat saya katakan, kami tidak menganggap remeh tim lawan mana pun.

Apakah kekalahan ini akibat kesalahan Marcell Jansen? (Jansen adalah bek kiri Jerman yang gagal mengantisipasi Darijo Srna saat mencetak gol pertama Kroasia).

Tidak. Jansen bermain sangat bagus melawan Polandia. Ia bermain cepat dan mampu menghadang pemain lawan. Bukan karena dia jika sisi kiri pertahanan kami terlalu terbuka.

Soal Miroslav Klose dan Mario Gomez. Mengapa Anda tetap bersikukuh dengan menurunkan keduanya?

Klose telah menyiapkan diri sebaik mungkin. Gomez, saya yakin, sangat berbahaya di depan gawang. Mereka sangat tajam dalam menyerang.

Ballack terlihat tidak meyakinkan. Apakah Anda akan memberi tugas berbeda, misalnya, peran lebih menyerang?

Tidak juga. Kami telah memberi tugas menyerang kepadanya. Di tengah, ia berduet dengan Torsten Frings. Jika Ballack maju ke depan, Frings meng-cover dia di belakang.

(Mh Samsul Hadi dari Klagenfurt, Austria)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/14/01074750/kami.memang.pantas.menerima.kekalahan.ini

Read More...