Tampilkan postingan dengan label Austria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Austria. Tampilkan semua postingan

Jerman "Siaga Satu"

17 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, MINGGU - Efek kekalahan, 1-2, dari Kroasia membuat Jerman berada dalam "siaga satu" ketika menghadapi Austria dalam partai penentuan di Vienna hari Selasa (17/6) pukul 01.45 dini hari WIB. Sebaliknya, tuan rumah Austria mengusung semangat Cordoba untuk meraih kemenangan tertunda dalam 30 tahun.

Berbagai skenario bisa saja terjadi dalam dua partai penentuan Grup B yang dilangsungkan secara bersamaan, Selasa nanti. Satu pertandingan lagi, Kroasia yang sudah lebih dulu lolos sebagai juara grup akan bertemu Polandia.

Kapten tim Jerman, Michael Ballack, terpaksa mengumpulkan rekan-rekannya untuk bertemu secara khusus dua hari lalu membahas kekalahan dari Kroasia sekaligus mempersiapkan diri menghadapi Austria. Pertemuan itu, diakui Ballack, untuk saling melontarkan keluhan dan perbaikan dalam pertandingan nanti. "Itu bukanlah pertemuan darurat. Kami hanya ingin saling tukar pikiran, seperti biasanya para pemain sering duduk bersama untuk melontarkan pendapatnya," kata Ballack dalam jumpa pers, Minggu (15/6).

"Kami semua menyadari, kritik yang dilontarkan setelah kekalahan dari Kroasia harus diterima dengan kepala dingin. Kami berjanji akan memberikan segalanya ketika melawan Austria. Paling tidak, kami masih memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuan kami sesungguhnya," kata Ballack.

Pelatih Jerman Joachim Loew menambahkan, Jerman akan menyuguhkan permainan yang jauh berbeda dari ketika dikalahkan Kroasia. "Anda akan melihat Jerman yang lebih agresif, dan menguasai penuh jalannya pertandingan," janji Loew.

Formasi yang diturunkan Loew kemungkinan besar tidak berbeda dari penampilan sebelum ini. Kondisi dua pemain Lukas Podolski dan Philip Lahm- yang semula diragukan tidak fit untuk pertandingan nanti-ternyata tidak ada masalah. "Podolski dinyatakan fit dari cedera punggung yang dialaminya saat jumpa Kroasia," kata Loew.

Untuk memenuhi janjinya bermain lebih agresif, Loew telah menyiapkan Tim Borowski dan Thomas Hitzlsperger untuk menambah daya serang tim Jerman.

Meskipun merasa lebih yakin lolos, Jerman tetap mempersiapkan diri secara serius karena mereka sadar pula bahwa Austria akan memanfaatkan faktor tuan rumah, di mana sebagian besar dari sekitar 50.000 penonton di stadion akan berada di belakang tim tuan rumah.

"Kami menikmati kondisi saat ini sebagai sebuah tantangan ketimbang krisis," kata pemain belakang Christoph Metzelder.

Pemain yang bergabung dengan klub Real Madrid ini menambahkan, sejauh ini Jerman sering menghadapi tekanan dalam sebuah kejuaraan besar.

"Kami sudah biasa berada dalam tekanan. Kali ini mungkin sedikit berbeda kondisinya, tetapi tinggal bagaimana kami menerjemahkan kekuatan semangat kami dalam pertandingan nanti," kata Metzelder.

Semangat Cordoba
Tiga puluh tahun sudah berlalu, saat terakhir Austria memukul Jerman (saat itu Jerman Barat), 3-2, di Cordoba, Argentina, dalam Piala Dunia 1978. Kemenangan historis Austria atas Jerman di kejuaraan besar itu tidak pernah terulang lagi. Kini, kesempatan itu berada di depan mata Austria.

Di Cordoba, Austria mengalahkan Jerman, tetapi kemenangan saat itu hanya menjadi catatan sejarah karena kedua tim sama-sama tersingkir dari penyisihan grup.

Skenario yang sama bisa saja terjadi seandainya Austria menang atas Jerman, tetapi saat bersamaan Polandia memukul Kroasia dengan jumlah gol lebih banyak dari kemenangan Austria, maka Polandia akan mendampingi Kroasia lolos, sedangkan Austria dan Jerman sama-sama tersingkir.

Pelatih Austria Josef Hickersberger mengakui timnya secara kualitas masih berada di bawah Jerman. Namun, dengan semangat yang tinggi-didukung suporter mereka-bukan tidak mungkin Austria kembali meraih kemenangan bersejarah.

"Anda tidak sering menang atas Jerman. Dan, saya sendiri tidak ingat kapan terakhir kali kami menang berturut-turut atas Jerman, tetapi di sepak bola segalanya bisa saja terjadi," kata Hickersberger diplomatis.

"Pokoknya, pertandingan melawan Jerman selalu spesial bagi saya," kata Hickersberger yang ikut bermain saat Austria mengalahkan Jerman di Cordba.

Penyerang Austria, Martin Harnik, juga sependapat dengan Hickersberger tentang kemungkinan timnya mengalahkan Jerman. "Pada waktu lalu, kami sudah membuktikan bisa mengalahkan Jerman. Jadi, tidak ada salahnya kalau kami pun yakin dapat mengulanginya, apalagi Jerman berada dalam tekanan lebih berat," tegas Harnik.

Sementara Jerman tidak bermasalah dengan pemainnya, Austria akan kehilangan penyerang tengah Sebastian Prodl yang absen karena terkena dua kartu kuning. Siapa pengganti Prodl, belum diputuskan oleh Hickersberger. (REUTERS/AFP/YES)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/16/00465684/jerman.siaga.satu


Read More...

Kenangan akan Cordoba

| Label: , , , | 0 komentar |

Oleh Sindhunata

Tahun 1978 di Stadion Cordoba. Waktu itu Josef Hickersberger, Hans Krankl, dan timnya membela Austria menghadapi Jerman Barat pada babak kedua Piala Dunia di Argentina. Pertandingan ini memang tidak menentukan bagi Austria. Menang atau kalah, mereka tersingkir.

Toh Austria memberikan perlawanan mati-matian. Semula perlawanan ini kelihatan sia-sia. Gawang mereka jebol oleh Karl-Heinz Rummenige. Untung, Berti Vogts melakukan gol bunuh diri. Skor jadi 1-1. Krankl berhasil menambah kemenangan Austria, tetapi tak lama kemudian pemain Jerman, Bernd Hoelzenbein, berhasil menyamakan kedudukan, 2-2. Pertandingan tinggal dua menit, dan gawang Sepp Maier pun jebol oleh tembakan Krankl. Skor 3-2 untuk Austria.


Kegembiraan meledak sampai ke seluruh pelosok Austria. Sampai saat ini warga Austria masih mengingat suara penyiar radio Edi Finger yang melaporkan terjadinya gol itu dari pinggir lapangan: "Krankl datang, ia menusuk ke daerah berbahaya. dan ia menembak. Goool, gool, gool, gool! Luar biasa, saya seakan gila rasanya. Krankl menembak, dan 3-2 untuk Austria, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, mari kita berpeluk-pelukan gembira.." Suara itu kemudian diputar berulang-ulang dan diperdengarkan di mana-mana.

Cordoba 1978 telah menjadi peristiwa bersejarah bagi rakyat Austria. Gol Helmut Krankl dikenang bukan hanya sebagai kemenangan sepak bola, tetapi juga peristiwa yang mengembalikan harkat diri Austria. Austria memang mengakui kehebatan negara Jerman. Namun, di balik kekaguman ini tersembunyi perasaan minder. Gol di Cordoba telah melepaskan mereka dari perasaan rendah diri itu.

Menjelang pertandingan melawan Jerman, Cordoba pun terdengar kembali di kota-kota Austria. Peristiwa 21 Juni 1978 di Cordoba mengisi hampir semua koran mereka. Di kafe-kafe, di stasiun kereta, di rumah-rumah makan, orang tak bisa diam tentang Cordoba. Cordoba menjadi slogan perjuangan.

Bagi warga Austria, Cordoba berarti "Kami bisa menembak mati Jerman". Sekarang pun di lorong-lorong kota Vienna orang meneriakkan slogan, "Jerman, Jerman, bagimu semuanya telah berlalu, Vienna akan jadi Cordoba, schallalala."

Tak hanya warga biasa, pemain-pemain Austria juga di- hantui peristiwa Cordoba. "Cordoba adalah bagian dari sejarah kami. Sebagai pemain-pemain muda, kami juga ingin menciptakan sendiri sebuah Cordoba," kata kapten kesebelasan Austria, Andreas Ivanschitz.

Pemain depan Roland Linz tak kalah bersemangat, "Setelah Cordoba, sekarang kami akan membuat sensasi di Vienna."

Dan rekannya, Emanuel Pogatez, menambahkan, "Ini adalah kesempatan dalam hidup kami. Kami dapat menulis sejarah kami sendiri tentang Cordoba."

Jika para pemain sedang dilanda histeria Cordoba, tidak demikian halnya dengan Hickersberger. Pelatih Austria ini justru khawatir, histeria itu bisa membuat pemain Austria lupa diri. "Austria adalah negara merdeka. Kita tidak butuh pembebasan," katanya. "Cordoba tak punya peran apa-apa dalam pertandingan kita nanti."

Hickersberger justru meminta para pemainnya menahan diri dan berani rendah hati. Ia sadar, Austria hanyalah tim pinggiran. Mereka telah dikalahkan oleh Kroasia, dan prestasinya melawan Polandia pun belum bisa dibanggakan. Selain itu, ia mengingatkan, Jerman adalah Jerman. Maksudnya, kendati sempat sempoyongan, Jerman selalu bisa bangkit dan mengganas di babak berikutnya.

Asisten Hickersberger, Andreas Herzog, juga mengingatkan pemainnya agar mereka melupakan Cordoba dan berkonsentrasi pada pertandingan saja. Menurut Herzog, kemenangan tak dapat dibeli dengan apa pun, juga dengan kenangan akan Cordoba. Lebih penting, para pemain mati-matian berupaya mengerahkan seluruh dayanya dan menggunakan otak serta kecerdasannya untuk menang.

Toh Herzog mengakui, melawan Jerman selalu memberikan pengalaman yang luar biasa bagi Austria, apalagi dalam pertandingan yang demikian menentukan. Di Cordoba, kemenangan mereka atas Jerman sudah memberikan demikian histeria kepada rakyat Austria, padahal dengan kemenangan itu mereka tetap tersingkir.

Bayangkan, jika sekarang mereka menang dalam pertandingan yang demikian menentukan nanti di Vienna. Itu berarti membuat Jerman terdepak. "Jika itu terjadi, Austria pun akan terbakar oleh api kebanggaan," kata bos bola persatuan sepak bola Austria, Friedrich Stickler.

Memang Austria sadar akan keterbatasannya, tetapi mereka juga ingin mengikuti Piala Eropa ini sampai sejauh mungkin. Kalau impian itu tidak tercapai, sekurangnya mereka telah mencapai dua target: tidak tersingkir secara menyakitkan seperti Swiss, dan bisa membuat Jerman meradang. Siapa tahu peristiwa Cordoba nanti terulang kembali di Vienna?

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/16/00121943/kenangan.akan.cordoba


Read More...

Wasit Rampas Kemenangan Polandia

16 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Wina, Kompas - Inilah sepak bola. Terkadang kemenangan di depan mata, buyar gara-gara persoalan "kecil." Dari bola lambung tendangan bebas injury time babak kedua, wasit asal Inggris Howard Webb, menyatakan telah terjadi pelanggaran. Lewat tayangan ulang terlihat, gelandang Polandia, Mariusz Lewandowski, sempat menarik kaus pemain Austria.

Webb tanpa ragu menunjuk titik putih. Ivica Vastic, gelandang senior Austria, dengan jitu memperdaya kiper Artur Boruc, yang Kamis (12/6) malam itu sebenarnya tampil gemilang. Skor berubah 1-1, setelah sebelumnya Polandia unggul satu gol lewat Roger Guerreiro sejak menit ke-29.

Puluhan ribu pendukung Austria yang memberikan dukungan di Stadion Ernst Happel, Wina, sontak gembira. Mengingat, gol ini menyelamatkan Austria dari ketersisihan. Dengan satu poin hasil seri, Austria masih bisa berharap lolos dari Grup B, meski pada laga akhir mereka harus menang atas Jerman.

Austria yang bertengger di urutan ke-101 peringkat Badan Sepak Bola Dunia atau FIFA, posisi terendah dari 16 tim putaran final Euro kali ini, mengawali laga dengan penuh keyakinan. Seolah tak peduli dengan performa Polandia yang juara Grup A kualifikasi, Andreas Ivanschitz dan kawan-kawan berkali-kali membombardir gawang Boruc dengan peluang-peluang emas.

Tinggal berhadapan
Pada babak pertama, hanya dalam beberapa menit, setidaknya tiga kali pemain Austria tinggal menaklukkan Boruc. Dua kesempatan didapat striker Martin Harnik, satu lagi oleh gelandang Cristoph Leitgeb. Satu sepakan Harnik menghasilkan bola melenceng, satu lagi tendangan dari jarak sekitar satu meter dari garis gawang, sukses dihalau Boruc. Kegagalan serupa juga dilakukan Leitgeb.

Setelah 20 menit, giliran Polandia yang mulai menemukan irama permainan mereka. Dengan penampilan memikat gelandang serang kelahiran Brasil, Roger Guerreiro, Polandia mulai lepas dari tekanan. Hasilnya, Marek Saganowksi lolos dari kawalan hingga dekat tiang kiri gawang Austria. Ia lalu melepaskan tendangan ke tengah, yang gagal diraih Jurgen Macho.

Guerreiro yang berada dalam posisi tepat, tinggal menyontek bola dengan kaki kiri ke gawang Austria. Ini gol pertama Guerreiro untuk Polandia, setelah pemain kelahiran Sao Paulo, Brasil itu, resmi menjadi warga Polandia pada 17 April 2008. Debut pemain Legia Warsawa itu juga baru pada 27 Mei, saat melawan Albania.

Torehan prestasi Guerreiro makin mengkilap setelah ia dinobatkan sebagai player of the match. Meskipun, kepada pers ia mengungkapkan, lebih senang Polandia meraih tiga angka, ketimbang menerima penghargaan player of the match.

Kegusaran Beenhakker
Pelatih Polandia, Leo Beenhakker gusar dengan keputusan Webb menghadiahi penalti bagi tim asuhannya. Ketika ditanya wartawan saat konferensi pers usai pertandingan, Beenhakker balik bertanya, "Anda melihat ada pelanggaran? Kalau buat saya, tidak ada yang serius."

Beenhakker yang sudah puluhan tahun menjadi pelatih, mengaku sulit memahami fenomena hukuman penalti di menit-menit akhir. "Mengapa tendangan bebas pertama harus diulang? Saya sudah puluhan tahun di sepak bola dan selalu terbuka dengan tiap perkembangan baru. Tetapi hingga kini, sulit dimengerti mengapa sering ada penalti sebelum laga berakhir," ujar pelatih asal Belanda itu.

Kegusaran Beenhakker terkait dengan rekor pertemuan kedua tim yang mengukuhkan dominasi Polandia, sehingga bagi Beenhakker, seharusnya mereka tak perlu ditahan seri. Dari delapan pertemuan terakhir kedua tim, Austria hanya menang tiga kali, dan kalah lima kali dari Polandia. Kemenangan terakhir Austria terjadi 14 tahun lalu, pada 17 Mei 1994, dengan skor 4-3. (Adi Prinantyo, dari Wina, Austria)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/14/01050144/wasit.rampas.kemenangan.polandia
Read More...

Hapus Duka Usai Kemenangan

| Label: , , | 0 komentar |

Senyum mengembang di wajah Pelatih Kroasia Slaven Bilic ketika wasit Pieter Vink meniup peluit tanda berakhirnya partai pertama di Grup B, Senin (9/6) dini hari WIB, di Vienna, Austria. Kemenangan Kroasia atas Austria, 1-0, membangkitkan lagi kenangan setelah 12 tahun lalu negara ini bisa melaju ke babak perempat final Piala Eropa.

"Saya bahagia setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya kami bisa memenangi pertandingan di turnamen besar seperti Piala Eropa," papar Bilic.

Seusai pertandingan, Bilic menyalami seluruh pemain yang dinilainya telah bermain sempurna. Inilah upaya yang bisa dilakukan Bilic untuk memulihkan kepercayaan diri anak didiknya.

Bilic, yang juga menjadi pemain belakang Kroasia di Piala Eropa 1996, bahkan menyempatkan diri membawa radio ke ruang ganti tim "The Blazer". Dia menyetel lagu dan menyuruh anak didiknya bernyanyi, mengusir kekecewaan para pemain karena merasa penampilan kali itu dirasakan tidak optimal.

Barangkali kekecewaan tim Kroasia wajar saja menggantung di hati para pemain karena gol yang membawa kemenangan Kroasia dicetak dari pemberian penalti pada menit ke-4 babak pertama, yang dimanfaatkan dengan baik oleh pemain tengah, Luka Modric. Skor 1-0 ini dipertahankan hingga 90 menit pertandingan.

Peluang untuk mencetak gol selanjutnya bukannya tidak mampir ke tim Kroasia. Pada babak pertama, Kroasia bahkan berhasil mengontrol permainan sebelum akhirnya Austria mengambil alih kontrol permainan seusai istirahat 15 menit.

Modric mempunyai kesempatan ketika dia mencuri bola dari pemain belakang Austria dan menggiring bola sampai ke kotak penalti. Namun, pemain belakang Austria, Emanuel Pogatetz, sanggup mencuri bola dan melambungkannya ke tengah lapangan.

Bilic bukannya tidak melihat perubahan permainan itu. Dia menyadari bahwa timnya kehilangan kepercayaan diri pada babak kedua. Akibatnya, para pemain hanya berusaha bertahan.

"Lawan kami banyak mendesak ke pertahanan kami, terutama pada babak kedua. Namun, saya yakin bahwa ini disebabkan oleh merosotnya kepercayaan diri kami. Para pemain Kroasia mengambil posisi terlalu ke belakang dan berada di sekitar area penalti terlalu cepat. Pada 15 menit terakhir, ketika lawan harus bertempur mati-matian, para pemain kami harus banyak bertahan. Namun, strategi itu sudah dilakukan para pemain sejak menit ke-60," tutur Bilic.

Adalah tugas Bilic untuk memulihkan kembali kepercayaan diri para pemain setelah memetik kemenangan.

Austria berduka
Sebaliknya, bagi kubu Austria, pertandingan perdana di Ernst Happel merupakan pil pahit. Pelatih Josef Hickersberger tampak muram. Austria harus memperoleh hasil sedikitnya satu kali menang dan satu kali seri untuk mengumpulkan empat poin dari dua pertandingan yang tersisa agar bisa lolos babak penyisihan.

Sementara dua lawan lain tidak mudah, yakni Jerman dan Polandia. Jerman berada pada posisi ke-5 dunia, Polandia di posisi ke-28, sementara Austria masih tertinggal di urutan ke-92. Austria membutuhkan sedikit keajaiban untuk bisa memenuhi target lolos dari Grup B.

"Dalam pertandingan kemarin, kami banyak melakukan tekanan ke pemain lawan dan kesempatan baik yang ternyata masih belum bisa membuahkan gol. Karena pada menit ke-4 kami sudah kebobolan, tentu wajar kalau para pemain kehilangan kepercayaan diri. Saya tidak bisa menyalahkan para pemain karena mereka sudah dibekali dengan persiapan mental yang cukup," ujar Josef. (AFP/ART)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/10/02093682/hapus.duka.usai.kemenangan.pulihkan.
kepercayaan.diri.untuk.bertarung.lagi
Read More...

Tumpulnya Penyerang Kroasia

| Label: , , | 0 komentar |

Bad Tatzmannsdorf, Sabtu - Partai Austria melawan Kroasia di Vienna, Austria, Minggu (8/6) malam WIB, menjadi ajang pembuktian apakah barisan penyerang Kroasia-yang tumpul sejak akhir tahun lalu- bisa unjuk gigi. Namun, sebagai tuan rumah, tim Austria lebih diuntungkan dengan adanya ribuan pendukung yang siap menjadi "pemain ke-12".

Kehilangan penyerang tersubur, Eduardo da Silva-yang mengalami patah kaki saat membela klub Arsenal pada Februari lalu-memang sangat merugikan Kroasia. Pelatih Kroasia Slaven Bilic harus benar-benar memutar otak untuk menentukan barisan penyerangnya.

Tidak ada barisan penyerang Kroasia yang berhasil mencetak gol bagi tim pada sejumlah partai pemanasan. Hal ini termasuk saat bermain imbang 1-1 dengan Skotlandia, menang 1-0 atas Moldova, dan kembali ditahan imbang 1-1 oleh Hongaria.

Terakhir kali, striker Kroasia yang menyumbang gol pada pertandingan resmi adalah Mladen Petric, yakni saat Kroasia menang 3-2 atas Inggris di Stadion Wembley, November tahun lalu. Kemenangan itu sekaligus menutup kesempatan Inggris berlaga di putaran final Piala Eropa 2008 kali ini.

Petric tampaknya akan dipasang saat melawan Austria. Namun, pemain-yang menyumbang 25 gol dari 46 pertandingan bagi klub Bundesliga Borussia Dortmund, tetapi baru mencetak sembilan gol dari 21 penampilan bersama tim nasional Kroasia- itu bermasalah dengan pung- gungnya. Hal ini menambah kekhawatiran semua anggota tim Kroasia kendati Bilic mencoba menepis hal itu.

"Petric akhirnya dinyatakan sembuh sehingga kami semua senang dan berharap. Saya percaya dengan tim ini. Kami akan fokus pada gaya permainan dan menang," kata Bilic.

Untuk menemani Petric, Kroasia punya Ivica Olic, striker yang juga membela klub Bundesliga, Hamburg SV, dan Ivan Klasnic yang telah menyumbang delapan gol dari 26 penampilannya bersama timnas Kroasia. Namun, Klasnic hingga saat ini masih dalam masa pemantapan kondisi fisik seusai menjalani transplantasi ginjal 1,5 tahun lalu.

"Petric paling pas untuk mengisi tempat yang ditinggalkan Eduardo. Olic tampaknya cocok menjadi tandem Petric," kata Bilic.

Barisan tengah adalah kunci kekuatan tim Kroasia. Mereka akan diperkuat dua gelandang serang energik, Luka Modric dan Niko Kranjcar, plus dukungan Dario Srna dan pemain veteran Niko Kovac.

Bilic mengatakan, pertandingan perdana timnya melawan Austria sangat krusial. Setelah itu, dua lawan lebih tangguh siap menunggu Kroasia, yakni Jerman dan Polandia.

"Hanya ada tiga pertandingan di fase grup. Ini jelas berbeda dengan tim seperti Manchester United yang sempat beberapa kali kalah di laga-laga awal, tetapi akhirnya merebut gelar juara Liga Inggris," kata Bilic.

Kapten Kroasia Niko Kovac juga menunjukkan optimismenya. "Momen ini sudah kami nantikan sepanjang dua tahun. Kami lebih baik daripada Austria, dan hal itu akan kami tunjukkan kepada dunia," kata Kovac.

Lebih favorit
Pertemuan Austria-Kroasia akan menjadi pertandingan kompetitif kedua tim dalam tiga tahun terakhir. Kroasia terakhir kali membabat Austria 4-1 pada partai persahabatan yang digelar di Vienna pada tahun 2006. Karena itu, meski Austria mendapat keuntungan sebagai tuan rumah Piala Eropa 2008 dan bertanding di stadion kebanggaan warga Vienna, Ernst Happel, yang berkapasitas 49.000 tempat duduk, Kroasia tetap lebih difavoritkan menang.

Namun, Pelatih Austria Josef Hickersberger menyatakan, dukungan publik tuan rumah akan menjadi penyemangat timnya. Ia juga berjanji timnya akan mengejutkan Kroasia.

"Kami optimistis. Bahkan, kami siap tampil mengejutkan karena tampil di kandang dan pendukung ada di belakang kami," kata Hickersberger.

Pemain muda Austria Umit Korkmaz mengaku tidak gentar dan malah merasa nyaman dipandang sebelah mata.

"Setiap orang meremehkan kami. Namun, kami akan tampil menyerang dan tampil trengginas," kata Korkmaz.

Pemain tengah Austria Christoph Leitgeb menambahkan, kesempatan timnya melaju ke perempat final sama besar dengan tim lain di Grup B. Timnya akan memanfaatkan kelemahan barisan belakang Kroasia, yakni dengan lebih banyak menyerang melalui tengah lapangan lewat umpan-umpan pendek dan dengan laju bola kencang.

Persiapan tim Austria sedikit terganggu dengan masalah indisipliner pemain di markas latihan mereka. Kesan itu sempat tertangkap media di tengah wawancara Hickersberger dengan sejumlah awak media, Rabu lalu. Namun, manajer tim Andreaz Herzog menyatakan, masalah itu sudah diselesaikan baik-baik.

"Ada satu-dua hal kecil yang tidak sesuai dengan yang dimaui pelatih. Tetapi, Hickersberger sudah berbicara sendiri tentang hal-hal itu dengan pemain, maka permasalahan itu sudah selesai," kata Herzog.

Media sempat mengkritik Hickersberger karena menolak mengungkapkan kiper utama pilihannya, yaitu Alexander Manninger atau Juergen Macho. Atas desakan wartawan, Hickersberger hanya berucap, "Saya sudah memilihnya, tetapi tidak akan mengungkapkannya sekarang." (Reuters/AP/ben)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/08/00255289/tumpulnya.penyerang.kroasia
Read More...