Tampilkan postingan dengan label Kroasia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kroasia. Tampilkan semua postingan

Tak Terlupakan Sepanjang Hidup

23 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Vienna, Kompas - Pelatih Kroasia Slaven Bilic mengaku sulit memahami gol balasan Turki bisa terjadi setelah tim Kroasia unggul 1-0 menjelang berakhirnya perpanjangan waktu laga perempat final kedua tim di Vienna, Austria, Jumat (20/6) atau Sabtu dini hari WIB.

Padahal sehari sebelumnya dalam jumpa pers, Bilic menyebutkan kelemahan Turki adalah lolos dari penyisihan grup dengan dua kali kemenangan yang berawal dari ketertinggalan gol. Berikut tanya-jawabnya dengan wartawan seusai laga.

Tim Anda kalah meski beberapa kali mendapat peluang.

Pada babak kedua, kami tidak mencetak banyak peluang. Namun, ini pertandingan bagus. Saya ucapkan selamat pada tim lawan. Laga ini luar biasa, terutama dari segi cara berakhirnya. Gol pada menit-menit terakhir itu sulit dibahas. Itu melampaui batas-batas kewajaran dalam hidup ini. Saya bangga terhadap pemain kami, tetapi tentu saja kami sedih tidak lolos ke semifinal.

Apakah Anda menduga bakal ada gol balasan Turki itu?

Tidak. Saya menduga, mereka akan berbuat maksimal pada menit-menit terakhir. Mereka tentu ingin menyamakan skor. Kami mendapat serangan, ada dua-tiga pemain Turki di depan gawang kami, lalu terjadilah gol itu. Saya tidak menyangka Turki bisa mencetak gol balasan secepat itu.

Pemain Anda terlihat gugup dalam adu penalti.

Mereka tidak menyangka ada gol balasan dan harus menjalani adu penalti. Gol balasan Turki itu memberikan keuntungan psikologis bagi lawan. Kami tidak fokus pada adu penalti. Mental pemain kami didera keletihan.

Dengan pengalaman Anda, seberapa besar peluang Turki menghadapi Jerman pada semifinal?

Turki untuk ketiga kalinya pada turnamen ini terus mendapat keberuntungan. Mereka benar- benar bermain tanpa menyerah. Tidak hanya kualitas yang berbicara, ada sesuatu hal lain yang menentukan dalam sepak bola. Ini tidak mungkin kami lupakan sepanjang hidup.

Apakah Anda sudah memikirkan masa depan Anda?

Belum. Saat ini saya masih sulit melupakan kekalahan ini.

Bagaimana dengan tambahan waktu 2 menit setelah babak perpanjangan waktu tadi? Anda terlihat memprotes wasit saat gol balasan Turki terjadi.

Saya tidak menduga ada tambahan waktu 2 menit. Setelah waktu habis, saya mengira pertandingan usai. Jika Turki dalam posisi seperti kami, mereka juga akan melakukan hal sama. Akan tetapi, wasit tidak bisa disalahkan. Sebelum peluit akhir berbunyi, pemain Turki akan bermain habis-habisan. (Mh Samsul Hadi, dari Vienna, Austria)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/22/00403291/kekalahan.ini.tak.akan.terlupakan.sepanjang.hidup
Read More...

"Orkestra Turki" Kuasai Vienna

| Label: , , , | 0 komentar |

Vienna, ibu kota Austria, salah satu kiblat musik dunia, sepanjang Jumat (20/6) malam atau Sabtu dini hari WIB, mempertontonkan "konser" yang berbeda dari biasanya. Bukan alunan nada Wolfgang Amadeus Mozart, Josef Haydin, atau Ludwig van Beethoven, melainkan "orkestra Turki" yang mengentak-entak. Berlokasi di Stadion Ernst-Happel, pertunjukan itu ditutup drama: penalti 3-1 untuk kemenangan Turki atas Kroasia.

Itu merupakan laga dua tim dengan level hampir setara. Di ajang Piala Eropa, Turki pernah lolos ke perempat final tahun 2000. Begitu juga Kroasia, yang lolos ke perempat final tahun 1996. Keduanya juga sama-sama pernah menduduki peringkat tiga Piala Dunia: Turki tahun 2002, Kroasia tahun 1998.

Kroasia diperkuat pemain-pemain yang memperkuat klub-klub besar Eropa, seperti Dario Simic (AC Milan), Josip Simunic (Hertha Berlin), Vedran Corluka (Manchester City), dan Niko Kranjcar (Portsmouth). Turki juga punya pemain di klub elite, seperti Hamit Altintop (Bayern Muenchen), Nihat Kahveci (Villarreal), Tuncay Sanli (Middlesbrough), dan Emre Belozoglu (Newcastle).

Kendati level mereka belum sekelas Jerman dan Portugal- yang bertanding di Basel, Swiss, pada perempat final sehari sebelumnya-pertemuan Kroasia versus Turki mengundang animo besar penggila bola. Lima jam sebelum laga dimulai, Kota Vienna telah dipadati pendukung dari kedua tim.

Suporter Kroasia memakai atribut kotak-kotak merah-putih, sementara fans Turki mengenakan kostum merah menyala. Jalanan, bus kota, trem, dan stasiun memerah oleh atribut mereka. Diperkirakan, jumlah mereka 200.000 orang, tiga perempatnya tersebar di zona suporter Kota Vienna.

Tidak semuanya warga Kroasia atau Turki. Peter (37), manajer yang ditemui Kompas sebelum masuk stadion, misalnya, mengaku asli warga Austria, tetapi pendukung berat tim Kroasia. "Permainan mereka bagus sekali. Tajam dalam menyerang dan kuat saat bertahan. Lagi pula, mereka punya pemain di klub Salzburg: Niko Kovac," paparnya.

Ada juga penggila bola yang datang dari seberang benua. Daniel (23), pendukung Kroasia, mengaku tinggal di Canberra, Australia. "Saya terbang 24 jam untuk mendukung tim kebanggaan saya. Tiket ini saya beli 110 euro (sekitar Rp 1,5 juta) pada Federasi Sepak Bola Kroasia di internet," tutur warga Kroasia yang bekerja di Australia itu.

Insiden kurang terpuji

Seperti biasa, sebelum pemain keluar lapangan, para suporter itu telah mempertontonkan "musik pembuka" berupa nyanyian, yel-yel dukungan kepada timnya, hingga gerak serempak kepalan tangan ke atas. Dibanding pendukung Turki, suporter Kroasia tampak dominan. Mereka menguasai lebih dari separuh tribun stadion. Dari sini, pertandingan dalam bentuk yang lain telah dimulai.

Ada kejadian kurang terpuji saat lagu kebangsaan kedua negara berkumandang menjelang kick-off. Ketika lagu kebangsaan Turki dinyanyikan, sekelompok suporter Kroasia bersiul-siul. Hal itu dibalas pendukung Turki dengan bersorak-sorai saat lagu kebangsaan Kroasia mulai terdengar. Padahal Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) sudah berkali-kali mengingatkan hal itu lewat kampanye Respect.

Tepat pukul 20.45 waktu setempat, "konser" malam itu dimulai. Diawali peluit wasit Roberto Rosetti (Italia), bola bergulir dari titik lapangan tengah. Pemain Kroasia berusaha menekan pertahanan Turki, tetapi sulit akibat rapatnya penjagaan pemain-pemain Turki.

Dengan komposisi pemain yang lengkap dan segar bugar, Kroasia lebih diunggulkan. Di penyisihan, mereka melibas Austria 1-0, Jerman 2-1, dan Polandia 1-0. Sebaliknya, Turki tampil dalam kondisi pincang akibat absennya enam pilar mereka karena skorsing dan cedera.

Dua kali 45 menit, kedua tim masih sama kuat 0-0. Berkali-kali Turki ditekan, tetapi tak sekali pun bola bersarang ke gawang kiper Rustu Recber, kiper gaek berusia 35 tahun yang membawa Turki pemenang tiga Piala Dunia 2002.

Di luar lapangan, sorak-sorai suporter Turki tenggelam oleh yel-yel pendukung Kroasia yang hampir tak pernah berhenti sepanjang dua jam lebih. Di tribun dekat sebuah pojok lapangan, fans Kroasia melemparkan bola kembang api ke arah petugas keamanan. Mereka terus-menerus bersorak-sorai, menyanyi-nyanyi, dan berjingkrak-jingkrak.

Dalam situasi itu, striker Kroasia Ivan Klasnic tiba-tiba menjebol gawang Turki dengan sundulan. Stadion Ernst-Happel bergemuruh. Gegap gempita suporter Kroasia mencapai klimaks. Topi bahkan botol bekas minuman dilempar. Kroasia di ambang sejarah baru: lolos ke semifinal Piala Eropa.

Di tengah pesta, tanpa diduga, tendangan kaki kiri striker Semih Senturk giliran membobol gawang Kroasia. Perpanjangan waktu berakhir dengan skor 1-1.

Adu penalti pun terjadi. Turki unjuk gigi, Kroasia ditekuk dengan gol penalti 3-1. Membalikkan kekalahan menjadi kemenangan seperti menjadi spesialisasi Turki.

Dalam penyisihan grup, Turki menundukkan Swiss 2-1 di Basel setelah tertinggal 0-1 lewat gol pada injury time. Mereka juga memukul Ceko 3-2 di Geneva setelah kemasukan 0-2. Tak lama setelah laga berakhir, situs harian Turki, Hurriyet, menampilkan berita berjudul "Turki Menaklukkan Vienna!", sedangkan koran Milliyet menulis, "Vienna Telah Jatuh."

Keduanya merujuk peperangan tahun 1529 dan 1683 ketika tentara Turki tertahan dan gagal memasuki Vienna. Sesudah Basel dan Geneva (Swiss), pada Jumat malam itu giliran Vienna menjadi milik Turki. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan "orkestra" dari arena Piala Eropa 2008. (Mh Samsul Hadi dari Vienna, Austria)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/22/01274126/satu.malam.orkestra.turki.kuasai.vienna
Read More...

Magis Turki Berlanjut

21 Juni 2008 | Label: , , , | 0 komentar |

FATIH Terim magic touch continues. Begitu kata-kata komentator dalam bahasa Inggris mengomentari keberhasilan Turki lolos ke semifinal setelah mengalahkan Kroasia lewat drama adu penalti di Stadion Ernst Happel, Vienna, Jumat waktu setempat Sabtu (21/6/2008) dinihari wita.

Penalti dilakukan karena skor akhir setelah 2x45 menit dan babak perpanjangan waktu 2x15 menit adalah 1-1. Kroasia mencetak gol terlebih dahulu lewat pemain pengganti Ivan Klasnic di menit ke-119. Gol ini terjadi akibat kecerobohan Rustu meninggalkan gawangnya. Bola berhasil direbut Luka Modric yang langsung memberikan umpang lambung disambut sundulan Klasnic.


Tapi lagi-lagi Turki memperlihatkan bahwa mereka adalah kesebelasan yang pantang menyerah. Hanya beberapa detik sebelum pertandingan berakhir, Semih Senturk berhasil membalas. Senturk memanfaatkan kemelut di depan gawang Pletikosa. Pelatih Kroasia, Slaven Bilic sempat memrotes wasit keempat yang tidak memberikan kesempatan kepadanya melakukan penggantian pemain menjelang gol terjadi.

Gol ini meruntuhkan mental pemain Kroasia yang sudah sempat merasa menjadi pemenang. Hal ini terlihat ketika adu penalti penalti, Kroasia hanya mampu mencetak gol melalui Dario Srna, sedangkan Luka Modric, Daniel Rakitic, dan Mladen Petric semuanya gagal. Sementara, tiga penendang Turki Arda Turan, Semih Senturk, dan Hamit Altintop berhasil menjalankan tugas dengan baik. Kredit perlu diberikan kepada kiper veteran Rustu Recber yanng mampu menepis eksekusi Mladen Petric. Keberhasilan Rustu menggagalkan penalti Petric memastikan Turki lolos ke semifinal.

Slaven Bilic mengakui kekalahan dari Turki sangat menyakitkan dan akan lama membekas. "Sakit akibat pertandingan ini akan lama bersarang dalam hatiku dan akan membayangi kami selamanya," ujar Bilic.

Namun begitu, hidup harus dijalani, dan Kroasia tidak punya pilihan lain selain bangkit menatap masa depan. "Kami harus bangkit, aku punya pemain muda berbakat, kualifikasi Piala Dunia sudah di depan mata. Hari berganti, matahari akan segera terbit, dan pemain saya punya karakter kuat dan akan kembali menjadi tim yang lebih kuat," kata Bilic dalam jumpa pers di Vienna.

Dengan kemenangan ini, Turki akan menantang tim Panser Jerman di Stadion St Jakob Park, Basel, Rabu waktu setempat atau Kamis (26/6/2008) Wita. Melawan Jerman, Turki tidak akan diperkuat Arda Turan, Sunli Tuncay, dan Emre Asik karena telah mendapat dua kartu kuning. Sedangkan Emre Belozoglu dan Servet Cetin kondisinya masih meragukan akibat cedera.
Pelatih Turki, Fatih Terim, mengaku sangat bangga dan puas atas kemenangan timnya lawan Kroasia pada pertandingan perempat final Euro 2008, Sabtu (21/6) dini hari. Kemenangan itu sudah merupakan sukses besar buat Turki. Dan kini, Turki tinggal berpikir bagaimana merobohkan raksasa Jerman di semifinal.

"Tiga pemain kami terkena hukuman dan beberapa pemain lagi cedera. Kami kini harus menunggu dan melihat apakah para pemain yang cedera bisa segera sembuh dan siap tampil. Tapi, meski tanpa mereka nyatanya kami bisa sukses. Kami benar-benar merasa mendapatkan prestasi spesial. Dan kini, saatnya kami memikirkan bagaimana menaklukkan raksasa Jerman," kata Fatih Terim.

Mengomentari kekalahan Kroasia, Terim bisa memahami kepedihan mereka. Apalagi, mereka nyaris memenangkan pertandingan dan hilang dalam sekejap. "Sukses ini memang penting bagi rakyat kami di Turki dan saya berharap mereka menikmatinya, tanpa harus menimbulkan tragedi bagi orang lain. Tak ada kemenangan sepakbola yang sebanding dengan nyawa satu orang pun. Pastikan tak ada kerusuhan!" katanya. (ap/kcm)
Read More...

Bilic Waspadai Turki

20 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

PELATIH Timnas Kroasia, Slaven Bilic, telah menyaksikan langsung perjuangan Turki memenangi dua laga terakhir di penyisihan Grup A. Kini, saat skuadnya bertemu Turki di Stadion Ernst Happel, Wina, Austria, ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Turki membuat kejutan saat meraih kemenangan di dua laga terakhirnya. Sempat tertinggal terlebih dahulu, mereka mampu memukul balik untuk menaklukkan Swiss (2-1) dan Republik Ceko (3-2).

"Bagaimana mereka memenangi dua laga dengan membalikkan kedudukan itu sangat impresif. Namun, jalan mereka memenangi laga itu memberitahu kami tentang sesuatu. Kekuatan mereka jelas tersirat," kata Bilic dikutip The Associated Press, Kamis (19/6/2008).

Menurut Bilic, Turki beruntung lantaran pola ofensif yang mereka peragakan saat tertinggal lebih dulu, tak menjadi bumerang untuk kebobolan. "Ada unsur keberuntungan ketika mereka mengerahkan semua pemain ke depan, mereka tak kebobolan. Skenarionya bisa lain jika menghadapi kita. Sebab kita bukan tim naif, dan kita lebih baik," ujarnya.

Berangkat dari penyisihan Grup B, Kroasia menundukkan Austria 1-0, lalu mengalahkan juara dunia tiga kali Jerman 2-1, dan terakhir mengalahkan Polandia 1-0 dengan memainkan pemain cadangan guna mengistirahatkan tim utama untuk bertemu Turki. "Tiga kemenangan di fase grup membuat kami semakin percaya diri bahwa kami bisa mencapai semifinal. Turki bagus tapi kami lebih bagus dibandingkan mereka," kata defender Vedran Corluka.

Balas Kekalahan
Turki sendiri jelas ingin membalas kekalahan yang pernah mereka alami dari Kroasia. Turki pernah tunduk 1-0 saat Bilic tampil bersama Kroasia di babak penyisihan grup di Euro 1996 di Inggris. "Situasi kali ini jauh berbeda dengan kondisi pada tahun 1996. Kroasia memiliki performa yang bagus, baik di kualifikasi maupun di putaran final. Tapi pada fase ini, nama besar maupun masa lalu tak berarti banyak," kata pelatih Fatih Terim, yang juga melatih Turki pada 12 tahun lalu.

Turnamen empat tahunan Eropa yang digelar di Austria-Swiss ini merupakan turnamen pertama sejak terakhir kali mencapai babak semifinal Piala Dunia 2002. Dan Terim yang berjuluk The Emperor itu berpikir timnya bisa melaju hingga final. "Kroasia tim yang bagus, mereka mengalahkan Jerman, tapi kami juga tim bagus dan menjadi semakin baik setelah penyisihan. Jika kami fokus, maka kami akan melaju ke Vienna," lanjut Terim.

Para pemain Turki pun mendapat suntikan motivasi. Masing-masing pemain mendapat uang kontan senilai masing-masing 150 ribu euro (senilai Rp 2,16 miliar) karena berhasil lolos ke perempat final Euro 2008. Dan jika bisa menekuk Kroasia, pastinya bonus yang diterima akan berlipatganda.


Di kubu Kroasia, bek Dario Knezevic juga mengalami cedera sedangkan striker Igor Budan bermasalah dengan lututnya. Bilic mengatakan midfielder Darijo Srna dan Ivan Rakitic bakal tetap ditampilkan meski sebelumnya menderita cedera ringan. Ivan Klasnic, masih akan disimpan, meski membuat penampilan bagus ketika mencetak gol ke gawang Polandia. Ivica Olic maish menjadi penyerang andalan pasukan Vatreni.

"Dia (Petric) salah satu aset penyerang terkuat kami untuk menjalani laga berikutnya. Namun ia masih kalah bagus dibandingkan Olic yang lebih siap. Olic juga lebih bugar," kata Bilic seperti dikutip dari Reuters. (Persda Network/rif)

Prakiraan Pemain
Kroasia (4-1-4-1): 1-Pletikosa; 5-Corluka, 3-Simunic, 4-R Kovac, 22-Pranjic; 10-Kovac; 7-Rakitic, 14-Modric, 19- Kranjcar, 11-Srna; 18-Olic. Pelatih: Slaven Bilic

Turki (4-4-2): 1-Rustu; 22-Altintop, 2-Servet, 15-Asik, 3-Balta; 10-Karadeniz, 6-Topal, 17-Tuncay, 14-Arda; 8-Nihat, 9-Senturk
Pelatih: Fatih Terim.
Read More...

Polandia Janji Menyerang

17 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

KLAGENFURT, MINGGU - Walau peluangnya sangat tipis untuk lolos, Polandia berjanji bermain menyerang melawan Kroasia di Klagenfurt, Austria, Selasa (17/6) pukul 01.45 dini hari WIB. Pada saat bersamaan, Austria bertemu Jerman di Vienna, Austria.

Peluang Polandia sangat tipis untuk lolos karena mereka gagal mencatat kemenangan atas Austria pada pertandingan kedua, di mana skor akhir 1-1. Saat itu, Polandia kehilangan kemenangan setelah unggul 1-0 karena Austria mendapat hadiah penalti pada menit terakhir.

Untuk lolos, Polandia hanya mempunyai satu pilihan, yaitu mengalahkan Kroasia, itu pun dengan jumlah gol yang banyak. Ini diperlukan guna menjaga kemungkinan terjadi penghitungan agregat gol dengan Austria kalau saat bersamaan Austria mengalahkan Jerman.

Pelatih Polandia Leo Beenhakker mengakui, saat ini peluang timnya menjadi sangat tipis ketika mereka gagal mengungguli Austria. Namun, Beenhakker belum mau menganggap Polandia sudah tidak mungkin lolos.

"Peluang kami masih ada meski kecil sekali," kata pelatih asal Belanda tersebut. "Yang lebih penting lagi, kami masih tetap yakin untuk lolos ke babak berikut, dan kami fokus menghadapi pertandingan melawan Kroasia."

Guna mengejar kemenangan, Beenhakker berjanji akan bermain lebih menyerang karena dengan menyerang kemungkinan menghasilkan gol lebih besar. "Kami tidak saja membutuhkan kemenangan, te- tapi juga banyak gol agar lebih aman," ujarnya.

Sementara itu, pemain belakang Polandia, Michal Zewlakow, mengatakan, ada rasa bersalah dari seluruh pemain kepada para pendukung mereka yang sudah dengan setia hadir di stadion memberikan dukungan. "Hanya dengan kemenangan kami bisa membayar tuntas dukungan yang diberikan suporter kami yang dengan setia terus mengikuti pertarungan kami," kata Zewlakow.

"Sejauh ini, kami telah mengecewakan pendukung kami, karena belum berhasil memetik kemenangan. Padahal, pendukung kami merupakan kekuatan kedua yang terus mendorong semangat bertarung kami di lapangan," katanya. "Ya, kami juga sadar bawah peluang kami lolos sangat kecil, bahkan mungkin satu berbanding sejuta, tetapi kami belum mau menyerah begitu saja."

Keputusan wajar

Sementara itu, Pelatih Kroasia Slaven Bilic mengatakan, kalaupun dia akan memainkan tim lapisan kedua melawan Polandia, itu merupakan keputusan sangat wajar.

"Kami tidak bodoh dengan memainkan seluruh pemain inti, termasuk mereka yang sudah mendapat satu kartu kuning," kata pelatih berusia 39 tahun tersebut. "Jujur saja, kami akan bermain untuk kepentingan kami dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan Austria atau Jerman."

Kroasia telah memastikan diri lolos sebagai juara Grup B setelah mencatat dua kemenangan, masing-masing atas Austria 1-0 dan Jerman 2-1. Calon lawan Kroasia pada babak perempat final kemungkinan Ceko atau Turki yang sampai berita ini turun sedang memainkan pertarungan terakhirnya di Grup A.

Ada beberapa pemain inti Kroasia yang sudah mendapat satu kartu kuning sehingga terancam tidak tampil pada babak perempat final kalau nantinya dimainkan melawan Polandia. Mereka adalah Roberto Kovac, Josip Simunic, Luka Modric, Darijo Srna, dan Jerko Leko. "Pokoknya, target kami pada pertandingan nanti tetap sama dengan sebelum ini, yaitu kemenangan harus digapai," kata Bilic.

Pernyataan Bilic ini tampaknya akan diwujudkan mengingat pada babak kualifikasi pun Kroasia tetap tampil prima dan hasilnya mereka menggulung Inggris di Wembley. "Ya, kami masih memiliki kebanggaan dan itu telah kami perlihatkan di Wembley saat mengalahkan Inggris," kata Bilic. (REUTERS/AFP/YES)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/16/00471592/polandia.janji.menyerang

Read More...

Darijo Srna, Gol untuk Sang Adik

16 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Manusia hidup dalam lompatan-lompatan peristiwa. Kegembiraan-kesedihan, manis legit-pahit getir, silih berganti datang dan pergi. Dan, pasti selalu ada sumber kekuatan yang menghidupkan, menjadi garis merah seluruh perjalanan peristiwa itu.

Bagi Darijo Srna, "obor" kehidupan itu ada pada diri sang adik, Igor. Sejak lahir, Igor menderita kelainan down syndrom. Sebagai bukti cintanya, Srna membuat tato bertuliskan nama sang adik tepat di dadanya. Dan, ia bertekad mempersembahkan seluruh golnya untuk Igor.

Igor pulalah yang menyemangati Srna setiap berlaga di lapangan hijau. Kroasia sungguh beruntung memiliki sosok seperti Srna. Sebagai pemain tengah, ia termasuk dalam barisan pemain yang subur mencetak gol. Sejak memulai debutnya bersama tim nasional Kroasia, tahun 2002, hingga sebelum partai melawan Jerman, ia sudah menyumbangkan 15 gol dari 54 penampilannya. Itu berarti dia adalah pencetak gol terbanyak di tim Kroasia yang berlaga di Piala Eropa 2008.

Sekadar membandingkan dengan pemain Kroasia lainnya. Sebut saja dua pemain bersaudara yang kebetulan juga paling senior di Kroasia, Niko Kovac dan Robert Kovac. Niko Kovac yang juga bertindak sebagai pemain tengah sudah membela Kroasia 75 kali dan mencetak 12 gol, sementara Robert Kovac, yang menempati posisi bek tengah, belum pernah mencetak gol sekali pun dari 72 kali penampilan.

Partai Kroasia-Jerman di Stadion Woethersee, Klagenfurt, Austria, Kamis (12/6), menunjukkan kualitas seorang Srna, sekaligus begitu besar cintanya untuk sang adik. Ia menjadi salah satu pemain Kroasia yang malam itu serasa tidak punya rasa lelah. Ia maju menggempur gawang Jens Lehmann, tetapi juga ikut bertahan kala Ballack cs gantian menggempur gawang Kroasia yang dijaga Stipe Pletikosa.

Kesempatan mencetak gol itu datang pada menit 24. Berawal dari serangan di sayap kiri pertahanan Jerman, umpan Daniel Pranjic dengan baik diselesaikan Darijo Srna dengan sebuah tendangan akurat, setelah bek kiri Jerman, Marcell Jansen, gagal mengantisipasi dan menghalau bola. Itu merupakan gol ke-16 Srna bagi Kroasia sekaligus gol untuk Igor, sang adik.

"Sebuah pertandingan yang sempurna bagi semua anggota tim," kata Srna. "Kami berusaha menguasai bola selama mungkin dan berhasil. Kini, kami harus merayakan dan beristirahat untuk partai-partai selanjutnya," ujarnya.

Karier sepak bola Srna dimulai bersama klub HNK Hajduk Split yunior. Ia membantu klub itu merebut gelar juara Kroasia 2001 dan Piala Kroasia dua tahun kemudian. Tahun itu juga ia memilih meninggalkan negerinya ke Ukraina, membela klub FC Shakhtar Donetsk hingga musim 2007-2008, bersama kiper Stipe Pletikosa. Salah satu pengalaman awal yang membanggakan Srna di level timnas adalah saat dia mencetak hat trick sekaligus membawa Kroasia unggul 3-1 atas Bulgaria pada kualifikasi Piala Eropa U-21, November 2002. (BEN)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/14/01064410/darijo.srna.gol.untuk.sang.adik
Read More...

Hapus Duka Usai Kemenangan

| Label: , , | 0 komentar |

Senyum mengembang di wajah Pelatih Kroasia Slaven Bilic ketika wasit Pieter Vink meniup peluit tanda berakhirnya partai pertama di Grup B, Senin (9/6) dini hari WIB, di Vienna, Austria. Kemenangan Kroasia atas Austria, 1-0, membangkitkan lagi kenangan setelah 12 tahun lalu negara ini bisa melaju ke babak perempat final Piala Eropa.

"Saya bahagia setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya kami bisa memenangi pertandingan di turnamen besar seperti Piala Eropa," papar Bilic.

Seusai pertandingan, Bilic menyalami seluruh pemain yang dinilainya telah bermain sempurna. Inilah upaya yang bisa dilakukan Bilic untuk memulihkan kepercayaan diri anak didiknya.

Bilic, yang juga menjadi pemain belakang Kroasia di Piala Eropa 1996, bahkan menyempatkan diri membawa radio ke ruang ganti tim "The Blazer". Dia menyetel lagu dan menyuruh anak didiknya bernyanyi, mengusir kekecewaan para pemain karena merasa penampilan kali itu dirasakan tidak optimal.

Barangkali kekecewaan tim Kroasia wajar saja menggantung di hati para pemain karena gol yang membawa kemenangan Kroasia dicetak dari pemberian penalti pada menit ke-4 babak pertama, yang dimanfaatkan dengan baik oleh pemain tengah, Luka Modric. Skor 1-0 ini dipertahankan hingga 90 menit pertandingan.

Peluang untuk mencetak gol selanjutnya bukannya tidak mampir ke tim Kroasia. Pada babak pertama, Kroasia bahkan berhasil mengontrol permainan sebelum akhirnya Austria mengambil alih kontrol permainan seusai istirahat 15 menit.

Modric mempunyai kesempatan ketika dia mencuri bola dari pemain belakang Austria dan menggiring bola sampai ke kotak penalti. Namun, pemain belakang Austria, Emanuel Pogatetz, sanggup mencuri bola dan melambungkannya ke tengah lapangan.

Bilic bukannya tidak melihat perubahan permainan itu. Dia menyadari bahwa timnya kehilangan kepercayaan diri pada babak kedua. Akibatnya, para pemain hanya berusaha bertahan.

"Lawan kami banyak mendesak ke pertahanan kami, terutama pada babak kedua. Namun, saya yakin bahwa ini disebabkan oleh merosotnya kepercayaan diri kami. Para pemain Kroasia mengambil posisi terlalu ke belakang dan berada di sekitar area penalti terlalu cepat. Pada 15 menit terakhir, ketika lawan harus bertempur mati-matian, para pemain kami harus banyak bertahan. Namun, strategi itu sudah dilakukan para pemain sejak menit ke-60," tutur Bilic.

Adalah tugas Bilic untuk memulihkan kembali kepercayaan diri para pemain setelah memetik kemenangan.

Austria berduka
Sebaliknya, bagi kubu Austria, pertandingan perdana di Ernst Happel merupakan pil pahit. Pelatih Josef Hickersberger tampak muram. Austria harus memperoleh hasil sedikitnya satu kali menang dan satu kali seri untuk mengumpulkan empat poin dari dua pertandingan yang tersisa agar bisa lolos babak penyisihan.

Sementara dua lawan lain tidak mudah, yakni Jerman dan Polandia. Jerman berada pada posisi ke-5 dunia, Polandia di posisi ke-28, sementara Austria masih tertinggal di urutan ke-92. Austria membutuhkan sedikit keajaiban untuk bisa memenuhi target lolos dari Grup B.

"Dalam pertandingan kemarin, kami banyak melakukan tekanan ke pemain lawan dan kesempatan baik yang ternyata masih belum bisa membuahkan gol. Karena pada menit ke-4 kami sudah kebobolan, tentu wajar kalau para pemain kehilangan kepercayaan diri. Saya tidak bisa menyalahkan para pemain karena mereka sudah dibekali dengan persiapan mental yang cukup," ujar Josef. (AFP/ART)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/10/02093682/hapus.duka.usai.kemenangan.pulihkan.
kepercayaan.diri.untuk.bertarung.lagi
Read More...

Tumpulnya Penyerang Kroasia

| Label: , , | 0 komentar |

Bad Tatzmannsdorf, Sabtu - Partai Austria melawan Kroasia di Vienna, Austria, Minggu (8/6) malam WIB, menjadi ajang pembuktian apakah barisan penyerang Kroasia-yang tumpul sejak akhir tahun lalu- bisa unjuk gigi. Namun, sebagai tuan rumah, tim Austria lebih diuntungkan dengan adanya ribuan pendukung yang siap menjadi "pemain ke-12".

Kehilangan penyerang tersubur, Eduardo da Silva-yang mengalami patah kaki saat membela klub Arsenal pada Februari lalu-memang sangat merugikan Kroasia. Pelatih Kroasia Slaven Bilic harus benar-benar memutar otak untuk menentukan barisan penyerangnya.

Tidak ada barisan penyerang Kroasia yang berhasil mencetak gol bagi tim pada sejumlah partai pemanasan. Hal ini termasuk saat bermain imbang 1-1 dengan Skotlandia, menang 1-0 atas Moldova, dan kembali ditahan imbang 1-1 oleh Hongaria.

Terakhir kali, striker Kroasia yang menyumbang gol pada pertandingan resmi adalah Mladen Petric, yakni saat Kroasia menang 3-2 atas Inggris di Stadion Wembley, November tahun lalu. Kemenangan itu sekaligus menutup kesempatan Inggris berlaga di putaran final Piala Eropa 2008 kali ini.

Petric tampaknya akan dipasang saat melawan Austria. Namun, pemain-yang menyumbang 25 gol dari 46 pertandingan bagi klub Bundesliga Borussia Dortmund, tetapi baru mencetak sembilan gol dari 21 penampilan bersama tim nasional Kroasia- itu bermasalah dengan pung- gungnya. Hal ini menambah kekhawatiran semua anggota tim Kroasia kendati Bilic mencoba menepis hal itu.

"Petric akhirnya dinyatakan sembuh sehingga kami semua senang dan berharap. Saya percaya dengan tim ini. Kami akan fokus pada gaya permainan dan menang," kata Bilic.

Untuk menemani Petric, Kroasia punya Ivica Olic, striker yang juga membela klub Bundesliga, Hamburg SV, dan Ivan Klasnic yang telah menyumbang delapan gol dari 26 penampilannya bersama timnas Kroasia. Namun, Klasnic hingga saat ini masih dalam masa pemantapan kondisi fisik seusai menjalani transplantasi ginjal 1,5 tahun lalu.

"Petric paling pas untuk mengisi tempat yang ditinggalkan Eduardo. Olic tampaknya cocok menjadi tandem Petric," kata Bilic.

Barisan tengah adalah kunci kekuatan tim Kroasia. Mereka akan diperkuat dua gelandang serang energik, Luka Modric dan Niko Kranjcar, plus dukungan Dario Srna dan pemain veteran Niko Kovac.

Bilic mengatakan, pertandingan perdana timnya melawan Austria sangat krusial. Setelah itu, dua lawan lebih tangguh siap menunggu Kroasia, yakni Jerman dan Polandia.

"Hanya ada tiga pertandingan di fase grup. Ini jelas berbeda dengan tim seperti Manchester United yang sempat beberapa kali kalah di laga-laga awal, tetapi akhirnya merebut gelar juara Liga Inggris," kata Bilic.

Kapten Kroasia Niko Kovac juga menunjukkan optimismenya. "Momen ini sudah kami nantikan sepanjang dua tahun. Kami lebih baik daripada Austria, dan hal itu akan kami tunjukkan kepada dunia," kata Kovac.

Lebih favorit
Pertemuan Austria-Kroasia akan menjadi pertandingan kompetitif kedua tim dalam tiga tahun terakhir. Kroasia terakhir kali membabat Austria 4-1 pada partai persahabatan yang digelar di Vienna pada tahun 2006. Karena itu, meski Austria mendapat keuntungan sebagai tuan rumah Piala Eropa 2008 dan bertanding di stadion kebanggaan warga Vienna, Ernst Happel, yang berkapasitas 49.000 tempat duduk, Kroasia tetap lebih difavoritkan menang.

Namun, Pelatih Austria Josef Hickersberger menyatakan, dukungan publik tuan rumah akan menjadi penyemangat timnya. Ia juga berjanji timnya akan mengejutkan Kroasia.

"Kami optimistis. Bahkan, kami siap tampil mengejutkan karena tampil di kandang dan pendukung ada di belakang kami," kata Hickersberger.

Pemain muda Austria Umit Korkmaz mengaku tidak gentar dan malah merasa nyaman dipandang sebelah mata.

"Setiap orang meremehkan kami. Namun, kami akan tampil menyerang dan tampil trengginas," kata Korkmaz.

Pemain tengah Austria Christoph Leitgeb menambahkan, kesempatan timnya melaju ke perempat final sama besar dengan tim lain di Grup B. Timnya akan memanfaatkan kelemahan barisan belakang Kroasia, yakni dengan lebih banyak menyerang melalui tengah lapangan lewat umpan-umpan pendek dan dengan laju bola kencang.

Persiapan tim Austria sedikit terganggu dengan masalah indisipliner pemain di markas latihan mereka. Kesan itu sempat tertangkap media di tengah wawancara Hickersberger dengan sejumlah awak media, Rabu lalu. Namun, manajer tim Andreaz Herzog menyatakan, masalah itu sudah diselesaikan baik-baik.

"Ada satu-dua hal kecil yang tidak sesuai dengan yang dimaui pelatih. Tetapi, Hickersberger sudah berbicara sendiri tentang hal-hal itu dengan pemain, maka permasalahan itu sudah selesai," kata Herzog.

Media sempat mengkritik Hickersberger karena menolak mengungkapkan kiper utama pilihannya, yaitu Alexander Manninger atau Juergen Macho. Atas desakan wartawan, Hickersberger hanya berucap, "Saya sudah memilihnya, tetapi tidak akan mengungkapkannya sekarang." (Reuters/AP/ben)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/08/00255289/tumpulnya.penyerang.kroasia
Read More...