Tampilkan postingan dengan label Rusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rusia. Tampilkan semua postingan

Zenit Tolak Tawaran Barcelona

08 Juli 2008 | Label: , , | 0 komentar |

KLUB Zenit St Petersburg menolak tawaran transfer sebesar 15 juta euro (23,51 juta dolar) dari klub Spanyol Barcelona bagi playmaker Andrei Arshavin, demikian menurut klub juara liga utama Rusia itu, Senin.

"Barcelona tidak menaikkan tawaran awal mereka sebesar 15 juta euro, oleh karena itu kami memutuskann untuk mengakhiri perundingan kami dengan klub Spanyol tersebut," demikian pernyataan pada situs web resminya, www.fc-zenit.ru.

"Kami belum menerima tawaran lagi bagi Arshavin dari klub lain mana pun, oleh karena itu tidak ada perundingan yang akan dilakukan mengenai transfernya ini."

Pekan lalu, Zenit menawarkan untuk memperpanjang kontrak Arshavin saat ini dua tahun lagi hingga 2012.

Zenit telah memberi kepada pemain berusia 27 tahun itu, yang dilaporkan memperoleh pendapatan tiga juta euro setahun, lebih dari pemain mana pun di Rusia, waktu dua pekan untuk memutuskan masa depannya.

Arshavin tidak bermain saat klubnya itu menang 5-1 atas klub Siberia Tomsk pada Minggu, pertandingan pertama Zenit dalam liga utama Rusia, setelah masa istirahat selama tujuh pekan karena adanya turnamen Euro 2008.

Pelatih Zenit Dick Advocaat, asal Belanda, mengatakan ia tidak akan menurunkan pemain top-nya itu hingga ia membuat keputusan.

Pemain internasional Rusia itu telah menyatakan di beberapa kesempatan bahwa ia ingin pindah ke luar negeri, dan Barcelona adalah pilihan pertamanya.

Setelah absen pada dua pertandingan pertama timnas Rusia pada penyisihan grup Euro 2008 akibat terkena hukuman skorsing, Arshavin kembali untuk memimpin timnya itu hingga lolos ke semi final, penampilan terbaik timnas Rusia pada suatu kejuaraan besar sejak 1988, demikian diwartakan Reuters. (*)
Read More...

Spanyol Harus Redam Mobilitas Arshavin

26 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Pada pertemuan pertama Spanyol versus Rusia di penyisihan Grup D di Innsbruck, 10 Juni lalu, Rusia memperagakan sepak bola menyerang dan lebih agresif daripada Spanyol. Sebaliknya, pemain-pemain Spanyol justru lebih banyak menunggu dan menusuk lawan lewat serangan-serangan balik yang cepat dan mematikan.

Itu benar-benar di luar dugaan. Sebab, seperti dimaklumatkan Pelatih Spanyol Luis Aragones sehari sebelum laga, Spanyol akan berinisiatif menyerang dan akan mewaspadai serangan-serangan balik Rusia. Strategi Aragones waktu itu mujarab dan hanya dalam waktu 44 menit David Villa dua kali menjebol gawang Rusia.


Partai itu berakhir dengan kemenangan Spanyol 4-1 atas tim polesan Pelatih Guus Hiddink. Pelatih asal Belanda ini marah besar di ruang ganti pemain dan dalam jumpa pers menyebut para pemainnya "terlalu naif dalam bermain dan terlalu sering melakukan kesalahan anak-anak sekolah (schoolboy errors)."

Setelah kalah telak, mengapa Rusia bisa bangkit dan tampil memukau hingga bertahan di semifinal? Faktor kejeniusan Pelatih Guus Hiddink, pelatih yang membawa Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia 2002 dan Belanda ke semifinal Piala Dunia 1998, berperan sangat besar.

Namun, ada satu lagi faktor penting di balik kebangkitan Rusia di Piala Eropa 2008, yakni Andrei Arshavin. Dia adalah pemain Zenit St Petersburg, yang biasa bermain sebagai striker atau gelandang menyerang. Arshavin absen saat Rusia dipukul 1-4 karena skorsing yang diperolehnya pada babak kualifikasi.

Gol-gol Rusia ke gawang Swedia dan Belanda tak luput dari sentuhan kaki pemain berusia 27 tahun itu. Ia mencetak satu gol saat Rusia memukul Swedia 2-0 dan terpilih sebagai pemain terbaik pada laga itu. Pada dua pertandingan itu, Arshavin banyak beroperasi di lini sayap kiri. Kecepatan mobilitas Arshavin memorakporandakan pertahanan Swedia maupun Belanda.

Saat menghadapi Belanda, misalnya, ia memosisikan di sayap kiri ketika gelandang Diniyar Bilyaletdinov menguasai bola. Bilyaletdinov menyodorkan bola itu ke Arshavin yang kemudian men-drible bola, menyusuri sayap kiri sebelum menceploskan umpan silang ke tengah dan diceploskan Dmitri Torbinsky.

Daya jelajah tinggi

Posisi Arshavin sebagai striker kedua di belakang striker utama Roman Pavlyuchenko membuat dia bergerak leluasa ke mana pun bola serangan Rusia mengalir. Itu sebabnya ia tidak terpaku pada lini sayap kiri. Ia berkali-kali memanfaatkan keleluasaannya menjelajah lapangan.

Saat menjebol gawang Swedia, ia bergerak langsung menusuk jantung pertahanan lawan setelah mendapat bola dari bek kiri Yuri Zhirkov dan menyodorkan bola itu ke gelandang kiri Bilyaletdinov. Dengan kecepatan yang dimilikinya, ia sulit dihentikan bek-bek Swedia. Naluri mencetak golnya tinggi.

Dalam posisi sudah di jantung pertahanan Swedia, ia tidak kesulitan melesakkan gol ke gawang Rusia saat mendapat umpan Yuri Zhirkov. Kehadiran Arshavin yang tiba-tiba dan serba mendadak sering membuat barisan belakang lawan terkejut. (Mh Samsul Hadi dari Vienna, Austria).

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/26/02034138/spanyol.harus.redam.mobilitas.arshavin
Read More...

Misi Rusia Balas Dendam

| Label: , , | 0 komentar |

Vienna, Kompas - Spanyol dan Rusia kembali bertemu dalam situasi yang berbeda pada semifinal Piala Eropa 2008 di Stadion Ernst-Happel, Vienna, Austria, Kamis (26/6) besok atau Jumat dini hari WIB.

Kedua tim pernah bertanding pada penyisihan Grup D di Tivoli Neu, Innsbruck, Austria, yang dimenangi Spanyol dengan skor 4-1. Kekalahan ini memacu para pemain Rusia untuk mengusung misi balas dendam terhadap Spanyol pada partai hidup-mati itu.

Kekuatan dan rasa percaya diri pemain Rusia saat ini berbeda dengan penampilan mereka di awal babak penyisihan. Tim asuhan Pelatih Guus Hiddink itu mendapat kekuatan ekstra dengan hadirnya gelandang serang Andrei Arshavin, playmaker Zenit St Petersburg yang sudah mengoleksi dua gol. Ia absen saat Rusia dipukul Spanyol, 1-4.

"Saya sungguh ingin bermain melawan Spanyol karena umumnya sangat sulit memenangi dua partai dengan lawan yang sama pada satu turnamen," ujar gelandang "Beruang Merah" Rusia, Konstantin Zyryanov, rekan Arshavin, seperti dikutip situs resmi Euro 2008.

Tim Rusia dijadwalkan menggelar latihan, Selasa sore waktu setempat atau Selasa tengah malam WIB di Stadion Franz Horr, Vienna, Austria.

Cedera ringan

Beberapa pemain Rusia dilaporkan mengalami cedera ringan, seperti gelandang Diniyar Bilyaletdinov, striker Ivan Saenko, dan Alexander Anyukov. Mereka diharapkan sudah kembali fit saat tampil di semifinal, Kamis besok. Dua pemain yang sudah pasti absen adalah bek tengah Denis Kolodin dan gelandang serang Dmitri Torbinsky. Keduanya terkena akumulasi kartu kuning.

Ada tiga pemain yang kemungkinan mengisi posisi Kolodin, yaitu Roman Shirokov, Vassili Berezutsky, dan Sergei Ignashevich. Shirokov tampil buruk pada laga perdana Rusia hingga takluk, 1-4, dari Spanyol. Ia ditarik keluar oleh Hiddink dan sejak itu tidak dimainkan lagi. Hal ini membuat peluang tampil Berezutsky atau Ignashevich lebih besar.

Hiddink yakin, pasukannya akan tampil dengan permainan berbeda di semifinal besok meski ia mengakui Spanyol lebih difavoritkan. Keyakinan itu didasarkan pada hadirnya Arshavin, pemain yang absen pada dua laga pertama Rusia. Begitu tampil, pemain berusia 27 tahun itu dua kali terpilih pemain terbaik laga.

Spanyol tidak lupa diri

Ancaman bangkitnya pemain-pemain Rusia disadari Pelatih Spanyol Luis Aragones. Setelah timnya lolos ke semifinal dengan memukul Italia lewat adu penalti, 4-2, ia langsung mengingatkan timnya untuk tidak terlena dengan kemenangan telak, 4-1, atas Rusia pada pertemuan sebelumnya.

"Kini lebih sulit melawan Rusia daripada laga sebelumnya," kata Aragones seusai memukul Italia. "Ini saat-saat luar biasa bagi sepak bola Rusia karena di babak ini mereka mencapai puncak penampilan. Banyak yang beranggapan, kami telah memukul mereka sebelumnya sehingga akan lebih mudah, tetapi kini jauh lebih rumit."

Para pemain Spanyol sendiri masih berlatih di markasnya, Neustift im Stubaital, sekitar Innsbruck, atau sekitar lima jam perjalanan kereta dari Vienna. Mereka dijadwalkan akan menjajal Stadion Ernst-Happel, Rabu sore.

Xavi Hernandez menyebutkan, pihaknya tidak akan terpaku pada profil Andrei Arshavin saja. "Banyak orang membicarakan Arshavin, tetapi saya kira Rusia adalah sebuah blok," ujar Xavi. "Banyak pemain mereka yang tidak terkenal di Eropa, tetapi mampu tampil bagus, misalnya Yuri Zhirkov di gelandang kiri dan striker Roman Pavlyuchenko."

Pertemuan ulang

Pertemuan ulang dua tim yang pernah bertanding di babak penyisihan bukan hal baru dalam sistem turnamen. Di Piala Eropa 2004, Yunani kembali bertemu di final melawan Portugal setelah kedua tim itu bertarung di babak penyisihan. Begitu juga dengan partai Jerman melawan Ceko di final Piala Eropa 1996, mereka juga pernah bertemu di penyisihan.

Tim-tim itu baru bertemu lagi di final. Tim yang menang pada penyisihan umumnya kembali menang pada pertemuan kedua. Akan tetapi, pertemuan ulang Spanyol versus Rusia kali ini terjadi pada babak semifinal.(Mh Samsul Hadi dari Vienna, Austria)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/25/01425598/misi.rusia.balas.dendam

Read More...

Universalisme Sepak Bola

24 Juni 2008 | Label: , , , , | 0 komentar |

Oleh Sindhunata

Akhirnya sportlah yang menang! Itulah kata-kata bijak yang pernah diucapkan Guus Hiddink. Kata-kata ini seakan sebuah ramalan. Rusia adalah underdog. Namun, jika mereka dapat bermain bola dengan cemerlang, akhirnya merekalah yang menang. Sebaliknya, betapapun Belanda bertabur bintang, jika bermain dengan jelek, mereka pun terusir pulang.

Bagi Hiddink, bola sebagai sport memang berdiri di atas segalanya. Di atas nasib, bahkan di atas nasionalisme. Siapa ingin menang karena percaya kepada nasib atau keberuntungan, ia akan ditekuk oleh mereka yang memainkan bola dengan gemilang.

Sport menuntut profesionalisme dan fairness total. Dan Hiddink rela disebut pengkhianat kepada negaranya, Belanda, jika itu dilakukannya demi nilai profesionalisme dan fairness yang dituntut oleh sport.

Belakangan Hiddink menarik kembali kata pengkhianat itu. "Pengkhianat adalah kata yang jelek. Kata itu tidak ada dalam kamus saya. Pers yang melontarkan kata itu, dan saya terperangkap, lalu keluarlah kata pengkhianat itu dari mulut saya," katanya.

Apa pun halnya, pendirian Hiddink kiranya sesuai dengan prinsip bahwa profesionalisme, fairness, dan sportivitas adalah nilai-nilai universal yang tidak boleh dikorbankan dalam situasi apa pun, termasuk ketika seorang dituntut untuk berempati kepada nasib bangsanya.

Nilai-nilai universal itu tak pernah menghancurkan nasionalisme. Nilai-nilai itu malah mengembangkan dan membuat nasionalisme lebih terbuka dan dewasa. Dari kasus "pengkhianatan Hiddink", kiranya kita boleh menarik paralel untuk memahami nasionalisme politik.

Nasionalisme yang dewasa adalah nasionalisme yang terbuka, khususnya terhadap tuntutan hak-hak asasi yang universal. Kita akan membuat nasionalisme kita kerdil dan kekanak-kanakan jika demi nasionalisme kita "mengkhianati" tuntutan hak asasi yang universal.

Ke Rusia sendiri, Hiddink membawa nilai-nilai sepak bola yang sebelumnya tidak ada di sana. Anehnya, nilai-nilai dari luar itu tidak meniadakan sepak bola Rusia, tetapi malah memberi wajah nasional bagi persepakbolaan di sana.

Asisten Hiddink, Igor Kornejev, bilang, "Guus telah mengubah pikiran dunia sepak bola Rusia." Sebelumnya, para pemain Rusia tidak mempunyai respek terhadap kesebelasan nasional. Mereka lebih mencintai klub-klub mereka sendiri. "Organisasi sepak bola nasional kacau-balau. Sekarang iklimnya berubah. Para pemain suka bermain untuk kesebelasan nasional," kata Kornejev.

Menurut Kornejev, sepak bola Rusia telah kehilangan satu generasi pemain. Soalnya, sepak bola mereka banyak dikuasai pemain asing. Tahun 2006, misalnya, Spartak Moskwa pernah hanya memainkan dua pemain Rusia di lapangan. Dalam situasi ini, pemain Rusia yang berusia 18-22 tahun hampir tak mempunyai kesempatan untuk berkembang.

Hiddink membuat master plan, di tahun-tahun mendatang pemain asing harus dikurangi. Tahun 2010, setiap klub direncanakan hanya boleh mempunyai empat pemain asing. Pendeknya, ia berusaha agar sepak bola Rusia kembali memiliki wajah Rusia sendiri.

Rencana ini mendapat sambutan positif. Bahkan, mantan Presiden Vladimir Putin juga ikut menyokongnya. Klub-klub setempat dibenahi dan diperkuat. Salah satu contohnya adalah klub Zenit St Petersburg. Gasprom Company, perusahaan yang menguasai 85 persen produksi gas alam nasional, sanggup menjadi tulang punggung finansial bagi klub yang diasuh oleh Pelatih Belanda Dick Advocaat itu. Upaya itu sudah memetik hasil: Zenit keluar sebagai juara Piala UEFA tahun ini.

"Akan datang waktunya, pemain-pemain hebat Rusia tidak akan merumput lagi di Italia, Inggris, atau Prancis, tetapi di Rusia sendiri," kata Advocaat meramal. Ramalan ini berarti, klub-klub sepak bola Rusia akan makin otonom. Liga yang otonom pasti juga akan memberikan sumbangan besar bagi kokohnya kesebelasan nasional.

Tidak usah menunggu nanti, sekarang pun liga sepak bola Rusia sudah memberi sumbangan yang amat berarti bagi kesebelasan nasional. Hampir semua pemain Rusia untuk Piala Eropa kali ini datang dari klub-klub setempat sendiri.

"Lihatlah nama-nama pemain Rusia dan lihatlah pula klub asalnya. Siapa yang berpengalaman main di Liga Champions? Dibandingkan dengan pemain Belanda, kami bukan apa-apanya," kata Hiddink sebelum pertandingan melawan Belanda.

Ternyata anak-anak Hiddink bermain jauh lebih baik daripada Belanda. Di samping mengetengahkan power football, mereka juga memainkan bola dengan enteng dan lincah. Mereka membangun rantai pertahanan yang tak tergoyahkan, mampu merebut permainan di lapangan tengah, dan cepat mementahkan serangan lawan. Lebih dari itu, mereka bermain dengan amat gembira.

Semua itu adalah permainan yang asli Belanda. Maka ada yang bilang: jika Belanda berkaca, mereka akan melihat Rusia. Ya, Hiddink adalah pelatih Belanda. Pasti ia telah memfotokopi permainan Belanda bagi Rusia. Ternyata fotokopi ini malah lebih baik dari aslinya.*

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/24/02211473/universalisme.sepak.bola
Read More...

Rusia Berpesta

23 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Moskwa, Minggu - Luapan kegembiraan diekspresikan penduduk di seluruh wilayah Rusia setelah timnya memukul tim unggulan Belanda 3-1 dalam pertandingan perempat final Piala Eropa 2008, Sabtu (21/6).

Di Moskwa, ibu kota Rusia, ratusan ribu orang meluapkan kegembiraan dengan turun ke jalan serta mengelu-elukan sang pelatih asal Belanda, Guus Hiddink, dan tim mudanya yang tampil agresif.

Warga dari segala lapisan umur yang berkumpul di sekitar Istana Kremlin di pusat kota Moskwa, larut dalam eforia kemenangan yang tidak terduga. Mereka menari di jalanan, naik ke atap mobil, serta berkeliling kota sambil membunyikan klakson dan sirene.

Mereka tidak hanya meneriakkan yel-yel "Rusia, Rusia", tetapi juga memuji kepiawaian Pelatih Guus Hiddink. Pesta berlangsung aman dalam kawalan ribuan polisi.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengucapkan selamat kepada timnya atas kemenangan tersebut. "Ini pertandingan yang luar biasa. Tim bermain sangat baik. Ini kemenangan bangsa kami," katanya.

Ia hanya tersenyum saat ditanya tentang masa depan Hiddink dan menyatakan, Rusia mungkin memberikan kewarganegaraan kepada Hiddink.

Seperti diketahui, Rusia memukul Belanda 3-1 lewat babak perpanjangan waktu di Stadion St Jakob Park, Basel, Swiss. Gol Rusia dicetak Roman Pavlyuchenko, Dimitry Torbinski, dan Andrei Arshavin. Adapun gol tunggal Belanda dicetak Ruud van Nistelrooy.

Belanda berduka

Media Belanda menyesalkan kekalahan timnya dan mengecam Hiddink. "Hiddink melumpuhkan Oranye," tulis koran terlaris De Telegraaf dalam berita utama halaman depannya. "Mimpi (Belanda) Hancur Berkeping-keping". "Hiddink Pulangkan Oranye," tulis koran AD.

Media De Volkskrant yang setuju bahwa tim terbaik yang menang, menulis dalam situs webnya, "Tim Guus Hiddink layak memenangi pertandingan karena mereka sangat mendominasi."

Saat laga Rusia-Belanda berlangsung, ribuan suporter Belanda menonton bersama di lapangan terbuka di Amsterdam.

Mereka langsung murung mendapati timnya kalah. Juru bicara polisi setempat menyatakan penonton tetap tertib meski tim pujaannya kalah.

Di Basel, Swiss, polisi menahan 50 suporter Belanda yang menyulut perkelahian antara kubu pendukung Belanda dan Rusia pada Sabtu.

"Mereka terlalu banyak minum alkohol. Ini memengaruhi mereka dalam menyikapi kekalahan timnya," kata Juru Bicara Kepolisian Basel Klaus Mannhart, Minggu. mengomentari hal tersebut. (REUTERS/WHY)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/23/00510974/rusia.berpesta

Read More...

Jangan Ubah Tim Andalan

| Label: , , | 0 komentar |

Jangan mengubah-ubah tim andalan kemenangan (don't change the winning team). Ungkapan ini sangat populer di kalangan insan bola, mulai dari pelatih, pemain, pengamat, bahkan hingga suporter. Ungkapan yang mengingatkan akan besarnya risiko bongkar pasang tim sepak bola dalam mengarungi kompetisi atau turnamen.

Piala Eropa 2008 baru saja menyelesaikan babak perempat final dengan Spanyol versus Italia di Stadion Ernst-Happel, Vienna, Senin dini hari tadi sebagai laga perempat final terakhir. Tiga partai perempat final lain berakhir dengan hasil mengejutkan. Tiga tim juara grup di penyisihan (Portugal, Kroasia, dan Belanda) telah tumbang.

Ketiganya takluk dari tim-tim yang di babak penyisihan tertatih-tatih untuk bisa lolos ke perempat final. Portugal dihantam Jerman 2-3, Kroasia dilipat Turki lewat drama adu penalti 1-3 setelah imbang 1-1 selama 120 menit, dan Belanda dihajar Rusia 1-3 melalui babak perpanjangan waktu. Mengapa ketiga tim juara grup yang begitu perkasa di penyisihan bisa rontok justru di babak krusial?

Menilik penampilan terakhir ketiga tim itu di penyisihan grup, ada satu benang merah: mereka sama-sama turun dengan pemain lapis kedua.

Mari kita awali dari Portugal, yang memastikan tiket perempat final sebagai juara Grup A begitu memukul Ceko 3-1 pada partai kedua mereka. Pada laga terakhir melawan Swiss-saat Portugal kalah 0-2-Luiz Felipe Scolari memarkir delapan pemain intinya dalam daftar 11 pemain star- ter Portugal. Hanya bek Pepe, Paulo Ferreira, dan kiper Ricardo yang dimainkan. Delapan pemain lainnya diistirahatkan total, bahkan tidak diturunkan untuk cadangan sekali pun.

Ini memang taktik menyimpan energi sebelum tampil hidup-mati di perempat final. Namun, dalam sepak bola taktik dan kalkulasi matematis sering tidak seiring dengan hasil akhir. Hasilnya, di perempat final Portugal dibuat tak berkutik oleh Michael Ballack dan kawan-kawan. Scolari membongkar the winning team dan telah menerima ganjarannya.

Kroasia juga begitu. Dengan tiket perempat final di tangan, Pelatih Slaven Bilic membangkucadangkan sembilan pemain inti saat menghadapi Polandia pada laga terakhir Grup B. Hanya dua pemain inti yang dimainkan: gelandang kiri Ivan Rakitic dan bek kiri Danijel Pranjic.

Berbeda dengan Portugal, Kroasia menundukkan Polandia 1-0. Namun, di perempat final permainan passing mereka macet total, diredam pemain-pemain Turki yang pantang menyerah hingga menit terakhir. Seperti Scolari, Bilic mengganti the winning team pada laga terakhir grup dan telah memetik hasilnya.

Pelatih Belanda Marco van Basten setali tiga uang. Tim yang diraciknya begitu menjanjikan hingga sempat menempati urutan teratas di sejumlah bandar taruhan sebagai favorit juara setelah menggilas Italia 3-0 dan menghajar Perancis 4-1. Pada laga terakhir Grup C melawan Roma- nia-yang tak berpengaruh lagi -Van Basten mengganti semua pemainnya, kecuali bek Khalid Boulahrouz.

Dengan kekuatan lapis kedua, tim "Oranye" masih tak tertandingi dan menang 2-0 atas Romania. Namun, seperti halnya Portugal dan Kroasia, Belanda pun terlempar dari perempat final setelah sebelumnya mengubah the winning team.

Kehilangan ritme

Alasan para pelatih menurunkan lapis kedua cukup logis, mereka ingin skuad utamanya bisa tampil segar bugar di partai berikutnya atau perempat final. Namun, ada satu elemen yang hilang dari keputusan tersebut, yaitu soal ritme penampilan tim.

Piala Eropa 2008 adalah turnamen panjang. Dari kick-off hingga final memakan waktu tiga pekan lebih. Hanya tim-tim yang mampu menjaga ritme penampilan itulah yang bisa bertahan lebih lama.

Jerman, Turki, dan Rusia dihadapkan pada situasi hidup-mati sebelum mereka melangkah ke perempat final. Oleh karena itu, ketika menghadapi situasi hidup-mati pada babak berikutnya mereka tak lagi butuh adaptasi. Atmosfer psikologis tim dan semangat untuk menaklukkan tim lawan tetap terjaga. Situasi-situasi seperti ini penting untuk memelihara ritme permainan tim. (Mh Samsul Hadi dari Vienna, Austria)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/23/00542995/jangan.ubah.tim.andalan
Read More...

Belanda Hanya Berjaya di Luar Arena

| Label: , , , | 0 komentar |

"Saya ingin menjadi pengkhianat terbesar Belanda tahun ini," ucap pelatih asal Belanda, Guus Hiddink, sebelum laga perempat final Piala Eropa yang mempertemukan tim asuhannya, Rusia, melawan Belanda.

Di Stadion St Jakob Park, Basel, Swiss, Sabtu (21/6) malam atau Minggu dini hari WIB, Hiddink benar-benar "berkhianat". Di tengah lautan suporter Belanda yang tertunduk lesu setelah kekalahan tim "Oranye", Hiddink berjingkrak-jingkrak lalu berpelukan dengan pemain asuhannya, yang sukses menyingkirkan lawan dengan kemenangan 3-1.

Sabtu malam itu di Basel adalah akhir perjalanan komunitas suporter Belanda di Euro 2008. Kelompok pendukung Belanda, yang jumlahnya puluhan ribu orang, merupakan salah satu kelompok terbesar, selain suporter Jerman.

Dengan demikian, jika sejak Sabtu sore penduduk Basel terganggu oleh teriakan suporter beratribut oranye di berbagai sudut kota, itu wajar adanya. Belum lagi gangguan soal rute trem dan bus yang harus diubah karena urusan efektivitas dan keamanan.

Banyaknya suporter Belanda di Basel-beberapa sumber menyebutkan mencapai 100.000 orang-menciptakan lautan oranye di kota Basel, yang berkeliaran sejak tiga jam sebelum kick off, sekitar pukul 17.00.

Setelah berada di Stadion St Jakob Park selama pertandingan, yang akhirnya berakhir dengan kekalahan tim pujaan mereka, "semut" oranye meluber lagi ke kota Basel. Mereka mengerumuni kota sejak beberapa jam setelah pertandingan usai, pada pukul 23.15, sampai Minggu dini hari.

Dua pintu masuk sisi depan stasiun-yang masing-masing selebar sekitar 4 meter-malam itu tak cukup menampung luberan manusia oranye. Suasana desak-desakan berlanjut hingga masuk kereta api antarkota dan selama berada di kereta api.

Sambutan hangat Basel

Kehadiran lautan oranye yang marak tak terlepas dari hangatnya sambutan kota Basel. Salah satu landmark Basel, yakni patung orang membawa martil yang tingginya sekitar Monumen Nasional di Jakarta, dibalut warna oranye. Selain itu, spanduk "Welkom Oranjefans" juga terpampang di salah satu jalan protokol kota itu.

Mengapa bisa sedemikian banyak pendukung Belanda di Swiss? Ternyata, dari perbincangan dengan sejumlah warga Swiss, banyak di antara mereka mendukung tim Oranye karena secara emosional lebih dekat dengan orang Belanda.

"Misalnya, bila dibandingkan dengan orang Jerman, kami merasa lebih cocok dengan orang Belanda," tutur seorang warga Luzern.

Bukan hal aneh jika banyak orang Swiss mengalihkan dukungan kepada tim Belanda, setelah Swiss tersisih. "Kalau harus memilih, daripada memilih Jerman, Rusia, atau Kroasia, kami memilih Belanda. Berikutnya, ada beberapa pilihan, seperti Portugal dan Italia, karena sering menjadi negara tempat berlibur," ujar warga Swiss itu.

Salah satu orang Swiss pendukung fanatik Belanda adalah Timo, pemuda berusia 20-an tahun, yang ditemui Kompas di kereta api jurusan Basel-Luzern, seusai laga.

"Setelah Swiss kalah, saya mendukung Belanda karena permainannya memang bagus. Sayang sekali Belanda juga kalah," kata Timo, yang mengaku bingung mencari tim mana lagi yang akan didukung. Saat ditanya apakah mungkin mendukung Jerman, Timo menggeleng pelan.

Tak sebanding dengan Rusia

Begitulah orang Swiss yang mendukung Belanda, dan datang ke Basel dari berbagai penjuru Swiss, dari ibu kota Bern dan Luzern yang terletak di tengah, Geneva dan Lausanne di selatan, hingga Zurich di sisi barat Basel. Mereka menjadi "suntikan" signifikan bagi suporter yang datang dari Belanda, dan di Basel membikin kamp dengan karavan di kawasan Prateln. Kamp serupa juga mereka bikin di Bern, tempat Belanda tampil untuk penyisihan grup.

Melubernya suporter Belanda yang berjumlah puluhan ribu tak sebanding dengan dukungan buat tim Rusia. Di tribun Stadion St Jakob Park, pendukung Rusia hanya ada ratusan orang. Toh, meski hanya ratusan, merekalah yang akhirnya bergembira karena Sergei Semak dan kawan-kawan lolos ke semifinal.

Belanda boleh "berjaya" di luar lapangan. Namun, pemenang di lapangan hijau, arena sesungguhnya, adalah Rusia yang kali ini dipimpin "arsitek tim" orang Belanda, Guus Hiddink. (Adi Prinantyo dari Basel, Swiss)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/23/01041951/belanda.hanya.berjaya.di.luar.arena
Read More...

Rusia: Belanda Sulit

21 Juni 2008 | Label: , , , , | 0 komentar |

Basel, Kompas - Tim Rusia mengakui, pertandingan melawan Belanda, Minggu dini hari WIB, akan lebih sulit ketimbang saat mereka harus menghadapi Swedia pada laga penentuan Grup D, Kamis (19/6) WIB lalu. Berbeda dengan Swedia yang cenderung monoton, susunan pemain Belanda lebih bervariasi dan lebih lentur menyesuaikan dengan gaya permainan lawan.

Dalam jumpa pers yang juga dihadiri Kompas, Jumat (20/6), Pelatih Rusia Guus Hiddink mengakui, Swedia mempunyai kecenderungan menetapkan susunan pemain awal yang sama. Kalaupun berbeda, pola permainannya sama. Ini membuat Rusia mudah menemukan kekuatan dan kelemahan mereka.

Adapun untuk menghadapi Belanda, situasinya berbeda. Sulit bagi Hiddink untuk menemukan titik lemah Oranye. "Tim Belanda secara taktik, teknik, dan fisik memang merupakan salah satu kesebelasan terkuat di dunia," ujar Hiddink.

Saat ditanya apakah timnya akan lebih bertahan melawan Belanda, Hiddink menegaskan, "Kalau Anda khawatir akan serangan lawan dan lantas bertahan, itu keliru. Kalau takut kebobolan, Anda harus menyerang terlebih dulu."

Kubu Rusia, kemarin pada pukul 18.00 waktu Swiss atau pukul 23.00 WIB, menjajal lapangan St Jakob Park, di Basel, Swiss. Guus Hiddink tercatat dalam sejarah sepak bola Rusia sebagai pelatih pertama yang membawa tim nasional mereka ke perempat final Euro, setelah pecahnya Uni Soviet.

Tak memikirkan lawan

Tim Belanda, pada Jumat (20/6) pukul 20.00 waktu setempat, menggelar latihan ringan di Stadion St Jakob Park, dengan 15 menit di antara total waktu latihan dilakukan terbuka di hadapan wartawan.

Pada pernyataan di markas tim Belanda di Lausanne, pekan lalu, striker "Oranye" Ruud van Nistelrooy menyatakan tak pernah memikirkan siapa lawan yang "dipilih" pada perempat final.

Ketika itu wartawan bertanya, siapa tim yang diinginkan Belanda, apakah Rusia atau Swedia (saat itu kedua tim masih sama-sama punya kans jadi peringkat kedua Grup D).

"Saya rasa kami menyiapkan semua pertandingan dengan pendekatan yang sama, yaitu lebih berkonsentrasi pada persiapan kami sendiri dan tidak pernah berpikir siapa yang akan kami hadapi. Bagaimana siasat kami menghadapi lawan, itu yang lebih penting," kata Nistelrooy.

Adapun Pelatih Belanda Marco van Basten mengungkapkan bahwa Belanda tak ingin kehilangan momentum positif saat ini. Sebagai sebuah tim, lanjut penyerang tim Belanda era 1980-an itu, kebersamaan di kubu Belanda tumbuh sangat positif.

"Ini perkembangan yang harus saya syukuri," kata Basten, yang mengaku puas atas penampilan timnya hingga saat ini. (Adi Prinantyo dari Basel, Swiss)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/02265170/rusia.belanda.sulit
Read More...

Pembuktian Dua Guru Satu Ilmu

| Label: , , , | 0 komentar |

BASEL, JUMAT - Sama-sama membangun tim dengan mengusung sepak bola menyerang- yang didasari total football yang mulai diperagakan Ajax Amsterdam pada tahun 1970-an-Guus Hiddink dan Marco van Basten akan membawa Rusia dan Belanda untuk membuktikan siapa yang terbaik dalam menerjemahkan ilmu mereka.

Paling tidak, sampai dengan babak perempat final ini, Hiddink dan Van Basten termasuk dua sosok pelatih yang amat disorot. Itu berkat prestasi fenomenal Rusia dan hasil spektakuler Belanda.

Rusia menggusur Yunani dan Swedia, sedangkan Belanda dengan sedikit demonstratif menggilas Italia, Perancis dan Romania di grup maut.

Kembali ke belakang, Hiddink dan Van Basten jelas datang dari generasi berbeda. Pada tahun 1988, Van Basten menjadi man of the match di partai puncak Piala Eropa di Jerman (Barat).

Lewat aksinya yang melesatkan tendangan first time meneruskan umpan Arnold Muhren, gawang Uni Soviet yang dikawal kiper terkenal Renat Dasayev kebobolan. Gol itu melengkapi kemenangan Belanda atas Uni Soviet di final, 2-0.

Tahun yang sama, tetapi sebulan sebelumnya, Mei 1988, Hiddink lebih dulu merajai kancah Eropa, tetapi di tingkat klub dengan membawa PSV Eindhoven memboyong dua gelar, juara Eredevisie Belanda dan Piala Champions dengan mengalahkan Benfica di final.

Salah satu pemain yang berada di balik keberhasilan PSV dan Hiddink saat itu adalah Ruud Gullit yang kemudian bergabung dengan Van Basten dan Frank Rijkaard di AC Milan. Trio Belanda inilah yang membesarkan AC Milan yang terkenal dengan julukan "The Dream Team".

Selama delapan tahun di Mi- lan, Van Basten akhirnya mengundurkan diri pada saat cedera engkel kakinya yang telah mendapatkan operasi lebih dari sekali tidak juga sembuh. Tahun 1995, ketika Van Basten (saat itu berusia 30 tahun) mengumumkan pengunduran diri dari sepak bola, Hiddink justru untuk pertama kali memulai kariernya sebagai pelatih nasional.

Adalah KNVB (PSSI-nya Belanda) yang memercayakan tim "Oranye" kepada Hiddink. Akan tetapi, prestasi Hiddink ber- sama Belanda tidak sehebat ketika dia menukangi PSV Eindhoven, yang berhasil meraih enam gelar Eredevisie.

Hiruk-pikuk sepak bola Eropa dan dunia pun seakan-akan ikut menenggelamkan kehebatan Van Basten sebagai seorang penyerang tengah yang pernah begitu digandrungi remaja penggila bola pada tahun 1990-an.

Dia tidak saja memiliki skill individu sebagai penyerang tengah yang nyaris sempurna, tetapi pribadinya yang simpatik ikut memberikan nilai tambah baginya. Itu sebabnya Van Basten saat itu menjadi sangat terkenal di kalangan remaja.

Tahun 2003, mendadak Van Basten mulai dikenang kembali. Lewat sentuhannya sebagai pelatih di tim kedua, Ajax Amsterdam, Van Basten memulai kariernya sebagai pelatih.

Duel kedua

Laga di Basel, 21 Juni 2008, ini adalah duel kedua antara Hiddink dan Van Basten sebagai pelatih. Di pertemuan pertama keduanya sebagai pelatih, skor imbang 1-1, ketika Van Basten bersama Belanda ditahan Hiddink dan Australia dalam partai uji coba di Rotterdam, dua tahun lalu.

Paling tidak, hanya akan ada satu pelatih Belanda di semifinal seusai duel malam ini. Jika merujuk pada prestasi sebagai pemain, Van Basten yang akan bertahan. Sebaliknya, kalau rekor sebagai pelatih dengan prestasi segudang yang menentukan, Hiddink yang pantas melaju bersama Rusia.

Sebagai pelatih, Hiddink sangat fenomenal mengukir prestasi dalam enam tahun terakhir, khususnya ketika menangani tim nasional. Itu di luar prestasinya bersama PSV, Valencia, Fenerbahce, dan Real Madrid.

Tahun 2002, lewat sentuhan magisnya, Hiddink menyulap tuan rumah Korea Selatan menjadi kekuatan penyeimbang sekaligus menakutkan bagi tim-tim yang lebih mapan dari Eropa dan Amerika Latin. Korsel dibawa sampai ke semifinal Piala Dunia.

Empat tahun kemudian, petualangan Hiddink melambungkan Australia di Piala Dunia 2006 di Jerman. Hanya karena penalti kontroversial dari Francesco Totti, Australia akhirnya tersingkir secara tragis di tangan Italia.

"Lucky Guus"-begitulah sebutan mantan Presiden Rusia Vladimir Putin terhadap Hiddink-kini bersama Rusia di delapan besar. Tinggal dua langkah lagi mereka sampai di final untuk pertama dalam 20 tahun. Akan tetapi, yang dihadapi Rusia adalah Belanda, tim yang juga tidak pernah bermain di partai puncak dalam kurun waktu yang sama.

"Saya membesarkan tim ini dengan lebih mengutamakan pembangunan kepercayaan diri pemain. Mereka bukanlah pemain besar, tetapi mereka mempunyai segalanya untuk menjadi besar. Itulah yang kini coba kami perlihatkan dalam kejuaraan ini," tegas Hiddink.

Rusia memang harus diwaspadai, namun mereka harus sadar bahwa Belanda di bawah Van Basten menjadi satu-satunya tim yang paling produktif dari tiga pertandingan awal.

Rusia boleh memainkan total football a la Moskwa untuk mengirim pulang juara bertahan Yunani dan menghancurkan Swedia. Tetapi, mereka harus sedikit tahu diri ketika menghadapi total football ala Amsterdam.

Satu hal yang harus disadari betul oleh Hiddink bahwa permainan terbuka dan menyerang ala Rusia sangat cocok bagi Van Basten dan Belanda untuk mengembangkan total football asli. (REUTERS/AFP/YES)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/02215856/pembuktian.dua.guru.satu.ilmu
Read More...

Che Guevara dari Rusia

20 Juni 2008 | Label: , , , , , | 0 komentar |

Oleh Sindhunata

Dalam Piala Eropa 2008 ini, Guus Hiddink tak mempunyai target berlebihan. Ia hanya mempunyai satu-satunya tujuan: membuat Rusia bertahan selama mungkin. Hiddink sama sekali belum berpikir menghadapi Belanda. Oranye masih jauh di seberang jembatan," katanya.

Memang, untuk menghadapi kesebelasan Oranye, Hiddink dan anak-anaknya harus membekuk dulu Swedia. Padahal, katanya, "Swedia mempunyai kaliber yang sama sekali lain dari Yunani."

Hiddink mengakui, Rusia adalah outsider. Memang tak ada nama besar dalam kesebelasan Rusia. Pers-pers Barat sepakat, jika Rusia mempunyai bintang, itu adalah seorang Belanda. Siapa dia kalau bukan Guus Hiddink?

Che Guus, demikian julukan Hiddink, setelah Rusia memukul Yunani dan berpeluang memukul Swedia. Beberapa fans muda Rusia menggambari kausnya dengan tokoh revolusioner Che Guevara, yang wajahnya beraut guratan muka Hiddink.

Hiddink tiba-tiba menjadi hero baru bagi anak-anak muda Rusia. Memang, sejak Uni Soviet runtuh, belum pernah Rusia lolos dari babak pertama pertandingan akbar Piala Eropa. Jika hal itu terjadi, Hiddink akan menjadi tokoh revolusioner yang mengembalikan kejayaan sepak bola Rusia.

In Guus we trust, pelesetan dari in God we trust, mungkin terdengar kembali jika Hiddink bisa membawa anak-anaknya lolos ke babak berikut dengan menghantam Swedia.

Harapan itu tak mustahil kalau orang ingat Hiddink adalah seorang motivator amat ulung. Terbukti ia berhasil memotivasi kesebelasan-kesebelasan tak bernama. Dalam Piala Dunia 2002, dibawanya Korea Selatan masuk ke semifinal dan menjadi juara keempat. Empat tahun kemudian, di bawah asuhannya, Australia berhasil masuk ke babak perempat final.

Seperti dikatakan kapten Sergey Semak, kali ini Hiddink juga berhasil menciptakan iklim yang sangat bagus bagi kekompakan tim. Di bawah Hiddink, Rusia terbentuk menjadi kesebelasan yang dalam peristilahan bola disebut "gerombolan anjing muda".

Istilah ini hendak menggambarkan bagaimana para pemain bermain bola dengan amat gembira, lebih-lebih jika mereka sedang menguasai bola. Persis seperti anjing kecil yang kesenangan bermain bola.

Hiddink mengakui, kesebelasan macam ini juga mempunyai kelemahan besar. "Kami banyak berlari, tetapi lari kami tadi banyak yang keliru. Sering kali saya lebih suka bila mereka tak banyak berlari, tetapi toh itu dilakukan sebagai langkah yang benar," katanya.

Bahaya lain dari permainan gaya "anjing-anjing kecil" ini adalah pemain suka egoistis terhadap bola yang sedang ada di kakinya, padahal seharusnya ia cepat mengoper bola kepada kawannya. Persis seperti anak anjing yang tidak rela jika bola lepas dari kakinya. "Lihatlah penyerang Roman Pavlyuchenko, berkali-kali ia sendiri di depan gawang Yunani, tetapi selalu gagal. Entah karena nervous, entah karena ia terlalu egoistis dengan bola," kata Hiddink.

Risiko itu sungguh menjadi malapetaka ketika Rusia dihajar Spanyol, 1-4. Hiddink geram dan memarahi anak-anaknya. Mereka langsung di-drill untuk latihan mengambil posisi yang tepat tanpa banyak berlari. "Lihatlah Sergei Semak dan Konstantin Zyryanov. Mereka sering membahayakan gawang Yunani, dan itu terjadi bukan ketika mereka berlari, tetapi ketika mereka berada pada posisi yang tepat," katanya.

Begitulah prinsip sepak bola Hiddink: "Jangan hanya memandang dan mengikuti bola, tetapi pertimbangkan juga situasi, apa yang sekiranya akan terjadi dalam sedetik dua detik lagi, ketika kamu sendiri atau lawanmu sedang menguasai bola."

Dalam melatih kesebelasan Rusia, Hiddink mempunyai asisten, namanya Alexander Borodzjoek. Borodzjoek adalah angkatan Oleg Blochin, bintang Rusia dari Dynamo Kiev, yang bersinar di tahun 1970-an. Dari Borodzjoek, Hiddink banyak belajar mengenai sejarah sepak bola di negeri bekas Uni Soviet itu.

Kepada Hiddink, Borodzjoek pernah menceritakan anekdot Rusia ini. Ada dua sahabat yang hidupnya tak beruntung, lalu mereka minta kemurahan pada Tuhan. Tuhan setuju, tetapi meminta syarat: jika seorang meminta, lainnya akan mendapat dua kali lipat dari yang ia minta.

Maka mintalah seorang dari mereka, "Tuhan, berilah saya rumah yang indah." Dan sahabatnya pun mendapat dua rumah yang indah. Ia minta lagi sebuah mobil, maka sahabatnya mendapat dua mobil di depan rumahnya. Ia memandang te- mannya dan berkata, "Tuhan, ambillah sebuah mata saya...."

Hiddink sangat suka anekdot ini. Diterapkan pada bola, anekdot ini akan berbunyi: janganlah kamu meminta kemenangan, nanti lawanmu yang mendapat kemenangan dobel. "Saya tidak percaya pada keberuntungan. Saya menuntut perjuangan," kata Hiddink.

Bagi Hiddink, anekdot itu juga mengajarkan, jika kamu berani kehilangan sebelah matamu, lawanmu akan buta. Maka katanya, "Berkorbanlah, dan berikanlah dirimu mati-matian."

Hiddink mengakui, Swedia adalah favorit. Namun, tak mustahil anak-anaknya akan membutakan pasukan Lagerback, Kamis (19/6) dini hari nanti.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/18/01303333/che.guevara.dari.rusia
Read More...

Rahasia Kemenangan Rusia

| Label: , , , | 0 komentar |

INNSBRUCK, PK -- Guus Hiddink mengungkapkan rahasia kesuksesan timnya mengalahkan Swedia 2-0, Kamis (19/6/2008) dinihari wita dan lolos ke perempatfinal. Menurutnya, timnya membawa semangat jalanan untuk bangkit dan melumat lawan.

Semangat itu muncul setelah timnya dihajar 1-4 oleh Spanyol pada pertandingan pertama Grup C. Kekalahan itu sangat memukul, hingga menyadarkan semua pemain. "Setelah kekalahan dari Spanyol itu hanya ada dua pilihan. Terbang atau bertarung. Itu dua pilihan yang kami tawarkan kepada para pemain. Mereka akhirnya memilih bertarung," jelas Hiddink.

Dan, Rusia memang akhirnya tampil semakin baik. Setelah mengalahkan Yunani 1-0, permainan mereka semakin bagus saat menghadapi Swedia. Kemenangan 2-0 meloloskan Rusia ke perempat final, bahkan harusnya bisa mencetak lebih banyak gol lagi. Meski begitu, semua berakhir dengan memuaskan.


"Jika ada kritik yang bisa disampaikan kepada tim kami itu karena kami tidak bisa mencetak gol lebih banyak, padahal peluangnya sangat banyak. Meski begitu, tim kami telah mengalami kemajuan luar biasa. Para pemain begitu komitmen. Itulah kenapa kami menyebutnya sepakbola dewasa dan bersemangat jalanan," jelas Hiddink.

Mungkin, maksud Hiddink para petarung jalanan memang memiliki semangat besar. Mereka tak pernah menyerah sampai titik darah penghabisan dan tak takut kepada siapa saja.

Kini, Rusia tinggal berkonsentrasi menghadapi Belanda di babak perempatfinal, Sabtu (21/6/2008). Hanya saja, dia mengakui persiapan Belanda jauh lebih lama dibanding persiapan Rusia. Ini akan menjadi pertandingan penuh emosi bagi Hiddink, karena dia sendiri orang Belanda dan pernah menangani timnas Belanda di Piala Dunia 1998.

Hiddink menambahkan, dia menurunkan tim intinyha saat melawan Swedia. Pada saat yang sama, Belanda hanya menurunkan pemain lapis kedua saat meladeni Yunani. Ini menjadi masalah, karena tim inti Belanda memiliki kesempatan beristirahat lebih lama daripada tim inti Rusia.

Meski begitu, dia sudah bangga dengan prestasi Rusia selama ini. Sukses ke perempat final merupakan rekor Rusia sejak 20 tahun terakhir. "Maka, apa pun hasil pertandingan lawan Belanda nanti, kami sudah cukup meraih kesuksesan. Apalagi jika Anda mengetahui bagaimana kami membentuk tim ini. Jika Anda melihat ranking FIFA dan UEFA pada dua tahun lalu, kami kini mengalami kemajuan berarti," pungkasnya. (kompas.com/ap)

http://www.pos-kupang.com/main/index.php
Read More...

Yunani Tersingkir

16 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

Salzburg, Minggu - Juara bertahan Yunani tersingkir dari Piala Eropa 2008 setelah kalah 0-1 dari Rusia pada pertandingan putaran final Grup D, Minggu (15/6) dini hari WIB. Hasil itu sekaligus memastikan peringkat pertama Grup D, Spanyol, lolos ke perempat final.

Gol semata wayang Rusia tercipta melalui sontekan Konstantin Zyryanov pada menit ke-33 setelah mendapat umpan salto dari Sergei Semak. Kiper Yunani, Antonis Nikopolidis, saat itu berusaha menghalau bola dengan bergerak ke sisi kiri lapangan, tetapi hal itu justru memudahkan Zyryanov mencetak gol.

Yunani sebelumnya sempat mendapatkan peluang emas untuk mencetak gol, tepatnya pada menit ke-20. Saat itu kapten Angelos Basinas, yang mengambil tendangan bebas, mengirimkan umpan ke Charisteas yang berada di depan gawang. Sayangnya, sundulan Charisteas meleset.

Pada menit-menit berikutnya, pasukan Rusia justru lebih mendominasi dalam mengambil inisiatif menyerang dengan cepat dan agresif. Lewat kerja sama apik Igor Semshov, Yuri Zhirkov, dan striker Pavlyuchenko, Rusia berkali-kali mendapat peluang menambah gol, tetapi selalu gagal.

Bagi Yunani, kekalahan ini cukup tragis karena empat tahun lalu mereka membuat kejutan dengan meraih Piala Eropa 2004. Selain kalah dua kali berturut-turut, yakni saat dipukul Swedia (0-2) dan Rusia (0-1), dalam Piala Eropa kali ini mereka juga belum mampu mencetak gol.

Satu-satunya kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka dapat bermain lebih baik adalah saat melakoni pertandingan terakhir Grup D melawan Spanyol, Rabu mendatang. "Kami tidak bisa menyelesaikan peluang yang ada. Saya selalu katakan, Yunani bukan tim yang akan banyak mencetak gol. Saya hanya berharap Yunani bisa mendapatkan satu gol, tetapi sialnya itu tidak terjadi," kata Pelatih Yunani Otto Rehhagel.

Ia juga mengatakan, sangat tidak realistis mengharapkan Yunani memiliki performa yang serupa dengan empat tahun lalu, di mana mereka sukses memboyong Piala Eropa itu. "Tahun 2004 adalah keajaiban dan keajaiban hanya terjadi setiap 30 tahun sekali atau lebih," katanya.

Meskipun laga terakhir melawan Spanyol tidak memengaruhi posisi Yunani, namun mereka berjanji tetap akan memberikan perlawanan terbaiknya.

"Yang ada dalam pikiran kami selanjutnya adalah pertandingan Rabu melawan Spanyol. Kami akan tetap berusaha menang," kata pemain tengah Yunani, Giorgios Karagounis Rehhagel menambahkan, "Untuk para pendukung, penyelenggara Piala Eropa, dan untuk kami sendiri, kami memiliki tanggung jawab untuk bermain cantik. Kami tetap fokus pada pertandingan itu."

Adapun bagi Pelatih Rusia Guus Hiddink, kemenangan atas Yunani merupakan hasil dari usaha keras pemainnya. Meskipun demikian, masih banyak yang harus dibenahi sebelum mereka menghadapi Swedia dalam pertandingan akhir pada grup itu, Rabu, di Innsbruck. "Saya kira kami harus meningkatkan diri karena Swedia bahkan lebih kuat. Perlu kerja keras dua kali lipat untuk menang," kata Hiddink.

Rusia harus menang dalam laga melawan Swedia agar lolos ke perempat final mengingat keduanya sama-sama mengoleksi tiga poin. (REUTERS/AP/WHY)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/16/00493684/yunani.tersingkir
Read More...

Pers Rusia Berduka

| Label: , , | 0 komentar |

Rusia, Rabu - Berita utama sejumlah surat kabar Rusia berisi kekecewaan atas kekalahan telak tim nasional mereka dengan skor 1-4 dari Spanyol, Selasa (11/6) malam WIB. "Tidak berdaya!" tulis surat kabar Trud di halaman depan. Trud menilai tim asuhan Guus Hiddink itu tidak berdaya menghadapi serangan bertubi-tubi dari Spanyol di Stadion Tivoli Neu, Austria.

Tidak hanya Trud yang mengkritik permainan Rusia. Surat kabar Sport Express juga menurunkan berita utama yang keras dengan judul "Banyak Tenaga, tetapi Tanpa Intelektual!"

Sport Express juga mengutip pernyataan kiper Rusia, Igor Akinfeev, tentang barisan pertahanan Rusia. "Kadang-kadang ada kekosongan di depan saya," ujar Igor.

Kendati melontarkan kritik pedas, semua surat kabar Rusia meminta pencinta sepak bola negara itu untuk terus memberikan dukungan kepada tim nasional mereka agar bisa unggul pada dua partai penyisihan.

"Kita masih punya dua pertandingan yang tersisa," tulis Soviet Sport, surat kabar olahraga tertua di negara itu.

Secara keseluruhan, surat kabar nasional ini menilai bahwa barisan tengah dan penyerang Rusia tidak sepenuhnya buruk. Dalam pertandingan melawan Spanyol, Rusia sebenarnya mempunyai serangkaian kesempatan untuk mencetak gol. Sayang, kesempatan itu gagal digunakan dengan baik oleh pemain Rusia.

Lewat berita-berita yang diturunkan, media Rusia meminta tim nasional mereka untuk segera memperbaiki kekeliruan yang dilakukan saat berhadapan dengan Spanyol.

The Associated Press melaporkan, Pelatih Rusia Guus Hiddink mengakui bahwa tidak mudah memperbaiki seluruh kesalahan dalam waktu hanya tiga hari sebelum pertandingan melawan Yunani, Minggu dini hari WIB mendatang. "Namun, saya tetap berharap tim ini bisa belajar dan belajar secepat-cepatnya," kata Hiddink. (AFP/AP/ART)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/12/01005612/pers.rusia.berduka.atas.kekalahan.timnas
Read More...

Pogrebnyak Diganti Oleg Ivanov

| Label: , , | 0 komentar |

Leogang, Minggu - Dua hari menjelang pertarungan melawan Spanyol, Selasa (10/6), Pelatih Rusia Guus Hiddink akhirnya memanggil gelandang Oleg Ivanov (21) untuk menggantikan Pavel Pogrebnyak yang terkena cedera lutut.

Seperti ditulis kantor berita AP hari Minggu (8/6), Ivanov yang berasal dari klub Rusia, Krylya Sovetov Samara, belum pernah membela tim nasional Rusia di pertandingan internasional. Sementara Pogrebnyak yang berasal dari Zenit St Petersburg sebetulnya sangat diandalkan Rusia, karena pada laga Piala UEFA bulan lalu menjaringkan 10 gol.

Pogrebnyak hari Sabtu lalu menderita cedera lutut tak lama setelah mencetak gol pembuka dalam pertarungan uji coba melawan Serbia, yang dimenangkan 1-2 oleh Rusia.

"Kami mencoba segalanya untuk bisa memulihkan Pogrebnyak, tetapi tidak berhasil," kata Guus Hiddink.

Dua pertarungan pertama di Grup D baru dimulai Selasa besok. Namun, saat ini beberapa pemain andalan di masing-masing tim dipastikan tidak turun akibat cedera. Pemain lainnya masih dalam proses pemulihan.

Dari kubu Spanyol, Fernando Torres baru saja sembuh dari cedera engkel, David Villa mengalami cedera paha, dan Sergio Garcia tengah dirawat akibat luka memar di betis. Ketiganya adalah pemain penyerang.

Pelatih Spanyol Luis Aragones mengharapkan semua anak buahnya bisa sehat ketika menghadapi Rusia. Bagaimanapun mereka harus segera pulih untuk memulai pertandingan melawan Rusia. Kalau tidak, Spanyol kehilangan tiga dari empat pemain penyerang mereka.

Sementara itu, tim Swedia yang Rabu dini hari WIB akan melawan Yunani masih mempertimbangkan apakah Zlatan Ibrahimovic akan memperkuat Swedia setelah mengalami cedera kaki kiri. Namun, Ibrahimovic memberikan sinyal siap turun.

"Kaki saya sudah membaik," kata penyerang andalan Swedia ini yang sudah mengoleksi 18 gol di 50 pertandingan internasional yang diikutinya.

Sebaliknya, tim Yunani masih merahasiakan langkah mereka menghadapi Swedia. Pemain penyerang Yunani, Angelos Charisteas, juga bungkam ketika ditanya tentang strategi yang disiapkan Pelatih Otto Rehhagel. (AFP/AP/ART)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/09/03173598/pogrebnyak.diganti.oleg.ivanov
Read More...