Tampilkan postingan dengan label Xavi Hernandez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Xavi Hernandez. Tampilkan semua postingan

Xavi, Pemain Terbaik Euro 2008

30 Juni 2008 | Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN - Gelandang Spanyol Xavi Hernandez menjadi pemain terbaik Euro 2008 versi UEFA. Pengumuman itu diumumkan pada Minggu malam (29/6) waktu setempat atau Senin (30/6) siang.

Keputusan UEFA memilih Xavi tersebut didasarkan pada permainan konsisten dari pemain Barcelona tersebut mulai dari pertandingan pertama sampai akhir. Pemain berusia 28 tahun itu selalu menjadi motor serangan tim Matador. Ia pula yang selalu mengatur ritme permainan Spanyol.

"Dia adalah Xavi yang mengatur tempo permainan tim," kata direktur teknis UEFA Andy Roxburgh.

Pengumuman UEFA ini memang agak mengejutkan sebab nama Xavi hampir tidak pernah disebut sebagai pemain terbaik. Namanya sama sekali tak pernah masih dalam daftar man of the match yang disusun UEFA dan panitia. Xavi lagi-lagi tak masuk dalam tangga sepuluh pemain terbaik UEFA meski empat temannya mendominasi daftar tersebut.

Sebagai pemain tengah, peran Xavi dalam tim sangat sentral. Ia kerap membuat gerakan dengan tangannya untuk mengatur pergerakan teman-teman satu tim. Bersama Andres Iniesta, playmaker tersebut bertugas membagi-bagikan bola kepada David Villa maupun Fernando Torres di depan. Itu sebabnya Kompas.com memasukkan namanya dalam daftar pemain tim terbaik turnamen ini.

Xavi memang hanya mencetak satu gol di turnamen ini yakni saat mengalahkan Rusia 3-0 di semifinal. Namun, umpannya kepada Fernando Torres di final akhirnya berbuah gol semata wayang yang mengantar Spanyol menjadi juara. Selamat, Xavi! (UEFA/LHW)



Read More...

Tim Impian versi UEFA

| Label: , , | 0 komentar |

VIENNA, SENIN - Federasi sepak bola Eropa atau UEFA telah memilih 23 pemain dalam "The Dream Team" pada Piala Eropa 2008. Seperti sudah diduga sebelumnya, pemain Spanyol mendominasi daftar pemain tersebut yakni dengan sembilan wakilnya.

Pemilihan pemain terbaik tersebut disusun oleh tim yang terdiri dari sembilan teknisi sepak bola berpengalaman yang memantau setiap pertandingan di Swiss-Austria. Mereka hanya memilih pemain-pemain dari tim yang lolos babak kualifikasi grup.

"Tim Euro 2008 kami ambil berdasarkan laporan teknis dari para ahli yang menjadi kolega kami. Tim ini dibentuk berdasarkan kemampuan individual dan bukan berdasarkan reputasi mereka," kata direktur teknis UEFA, Andy Roxburgh.

Selain pemain Spanyol tadi, tim tersebut juga memilih tiga pemain dari Jermain Germany, empat dari Rusia, masing-masing dua two dari Belanda dan Portugal, serta satu pemain dari Turki, Kroatia, dan Italia. Nama Cristiano Ronaldo dan Sergio Ramos sama sekali hilang dari daftar tersebut, demikian pula dengan Bastian Schweinsteiger. Sayangnya, UEFA tidak menunjuk siapa pelatih yang tepat untuk tim impian ini dan formasi pemain yang menjadi andalannya.

Berikut daftar pemain tim impian tersebut:
Kiper: Gianluigi Buffon (Italia), Iker Casillas (Spanyol), Edwin van der Sar (Belanda).
Belakang: Bosingwa (Portugal), Philipp Lahm (Jerman), Carlos Marchena (Spanyol), Pepe (Portugal), Carles Puyol (Spanyol), Yuri Zhirkov (Rusia)
Tengah: Hamit Alt?ntop (Turki), Luka Modric (Kroasia), Marcos Senna (Spanyol), Xavi Hernandez (Spanyol), Konstantin Zyryanov (Russia), Michael Ballack (Jerman), Cesc Fabregas (Spanyol), Andres Iniesta (Spanyol), Lukas Podolski (Jerman), Wesley Sneijder (Belanda)
Depan: Andrei Arshavin (Rusia), Roman Pavlyuchenko (Rusia), Fernando Torres (Spanyol), David Villa (Spanyol) (UEFA/LHW)
Read More...

Xavi Hernadez, Kejutan dari Catalan

| Label: , , | 0 komentar |

TIDAK ADA yang menyangka jika nama Xavier Hernandez Creus alias Xavi akhirnya menjadi pemain terbaik Piala Eropa 2008. Di lapangan, ia bermain tenang. Kadang bergerak cepat, sering pula melambat. Namun, berkat lima kali penampilannya bersama Spanyol, Xavi memberi roh permainan sekaligus mengawal kemenangan timnya di turnamen kali ini.

Pemain asal Catalan ini memang belum pernah menjadi man of the match selama lima penampilannya bersama tim Matador. Justru David Villa, Iker Casillas, Xabi Alonso, Marcos Senna, Andres Iniesta, dan Fernando Torres yang pernah mendapat trofi dari Carlsberg sebagai tanda penghargaan pemain terbaik di setiap pertandingan itu.

Pemilik postur tubuh setinggi 170 sentimeter tersebut juga masih kalah tinggi dibandingkan pemain lain, terutama tim Jerman. Namun, justru di situlah keunggulannya. Postur itulah yang membantunya mudah berkelit dari adangan musuh sekaligus menusuk pertahanan lawan.

Sebagai pengatur serangan, Xavi selalu mendapat tugas utama mengatur tempo permainan dan menyuplai bola kepada penyerang. Peran ini sudah sering ia jalankan saat membela El Barca. Di timnas, meski tidak bertindak sebagai kapten tim, pemain berusia 28 tahun itu adalah jenderal lapangan tengah. Ia selalu diapit oleh Andres Iniesta dan Marcos Senna. Kedua pemain ini juga bermain cemerlang di Euro 2008.

Tugas itu akhirnya dapat dituntaskan oleh gelandang Barcelona tersebut. Saat timnya diserang begitu rupa, ia mampu memperlambat gebrakan lawan. Itu yang dilakukannya saat menahan gempuran Jerman di awal babak pertama final, Minggu (29/6). Namun, begitu menguasai bola, Xavi tak segan "memerintah teman-temannya di lini depan untuk mencari posisi yang tepat. Dengan kedua tangannya, ia melambai-lambai agar pemain merapat. Setelah itu, barulah dia mengatur derasnya serangan.

Kadang ia sendirian menjadi playmaker, namun pernah juga ia menjadi salah satu dari dua playmaker yang diturunkan pelatih Luis Aragones. Itu tampak pada pertandingan melawan Rusia untuk kedua kalinya di partai semifinal. Xavi dipasangkan dengan Cesc Fabregas dan keduanya menjadi playmaker sekaligus menjadi jembatan sebelum Sergio Ramos menghentikan laju Andrei Arshavin.

Wajar jika tim seperti Italia khawatir akan pergerakan pemain bernomor punggung 8 tersebut. Ketika Spanyol dan Italia bertemu di perempat final, pelatih Azzurri Roberto Donadoni secara tegas menginstruksikan kepada Massimo Ambrosini dan Mauro Camoranesi untuk menutup posisi lapangan tengah. Tugas itu tak cukup berhasil sebab agresivitas Spanyol mampu mengalirkan bola ke pertahanan Italia. Pertandingan akhirnya berjalan imbang tanpa gol dan harus diselesaikan lewat adu penalti.

Selain jago soal meracik tusukan ke jantung lawan, Xavi juga dikenal garang dalam mengeksekusi bola mati. Jarak 10 meter dari garis terluar kotak penalti masih menjadi jarak yang membahayakan kiper mana pun jika Xavi dipasrahi tugas menembakkan si kulit bundar langsung ke arah gawang.

Xavi memang tak perlu mencetak gol sebab tugas itu lebih bertumpu pada pundak David Villa maupun Fernando Torres. Namun, satu golnya ke gawang Rusia di semifinal sudah cukup memberinya koleksi tujuh gol sepanjang 62 pertandingan yang dimainkannya bersama La Furia Roja sejak 2000. (LHW)



Read More...