Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan

Galaxy, Beckham dan Kesetiaan

31 Januari 2009 | Label: | 0 komentar |

BOS Los Angeles Galaxy, Tim Leiweke menaruh harapan kepada David Beckham untuk menghormati komitmennya dengan kembali bermain setahun lagi di Amerika Utara.

Hubungan Beckham dengan Galaxy menoreh dan mengingatkan publik akan makna kesetiaan dalam setiap ziarah kehidupan. Tanpa kesetiaan, dunia tidak berjalan. Dengan kesetiaan, publik menyebut kemajuan dan kemakmuran sebagai bunga kehidupan.

"David masih terikat kontrak dengan Galaxy. Dan saya sudah berbicara langsung dengannya sebelum ia pergi dan ia merasa senang di LA," kata Leiweke kepada the Los Angeles Times.

"Ia menginginkan suatu tim Galaxy yang lebih baik. Kami akan mempunyai suatu tim Galaxy yang lebih baik dan David tidak berniat pergi," katanya seperti diwartakan Reuters.

Beckham (33) sekarang ini dalam status pinjaman tiga bulan di AC Milan dari Galaxy. Masa pinjamannya akan berakhir bulan Maret, tetapi AC Milan berminat untuk mempertahankannya.

"Kami mempunyai kontrak, kami sudah berjabat tangan dan anak-anaknya sekolah di sini. Ia akan kembali ke the Galaxy," kata Leiweke.

Beckham menimbulkan guncangan di dunia sepak bola dua tahun lalu dengan menandatangani perjanjian lima tahun dengan klub Liga Utama Amerika Serikat (MLS) dengan nilai hingga 250 juta dolar AS.

Sejak itu ia hanya mencetak lima gol untuk the Galaxy, yang berakhir dengan rekor terburuk di musim lalu liga tersebut.

"Ini merupakan pemain yang berdampak kelas dunia dan masih merupakan kepindahan yang sangat baik bagi sepak bola di sini," kata Leiweke. "Dan ia membuktikan benar bagi saya bila Anda menyaksikan gol yang ia cetak bagi Milan."

Leiweke mengatakan Anda tidak dapat mengukur keberhasilan Beckham hanya dengan apa yang dilakukan tim di lapangan. Anda harus mempertimbangkan apa yang ia lakukan sebagai duta besar liga.

"Saya melihat kehadiran penonton, tim-tim di liga, rating TV," kata Leiweke. "Kami tidak aka bisa melakukan hal itu tanpa David. Kami tidak akan berhasil di sini bersama Beckham sampai kami menang di lapangan, tetapi kami akan berada di posisi itu pada musim ini," katanya. **
Read More...

Menunai Sukses Bukan Sahabat

18 Desember 2008 | Label: | 0 komentar |

INI sudah satu tahun sejak seorang Italia bernama Fabio Capello dipilih sebagai manajer tim nasional Inggris. Sukses terbesarnya sejauh ini adalah dia mengingatkan semua orang bahwa dirinya yang paling menentukan.

Sejak ditangani Capello, berubahkah gaya permainan Inggris? Tidak. Lebih hebatkah tekhnik dan ketrampilan pemain Inggris? Tidak. Meningkatkah pemahaman pemain Inggris akan siasat dan strategi permainan? Tidak.

Jadi? "Ketika untuk pertama kalinya saya memegang tim nasional bertanding melawan Swiss, barulah saya tahu apa yang salah dengan tim ini,'' aku Capello. "Saat berlatih, tekhnik dan fisik pemain sungguh fantastis, tetapi begitu turun ke lapangan saya seperti melihat sekelompok pemain yang berbeda. Saat itulah saya tahu problemnya ada di kepala mereka."

Salah satu teka teki besar di Inggris ini adalah bahwa pemain Inggris bisa tampil luar biasa setiap minggu untuk klub mereka tetapi begitu tampil di tim nasional seolah kemampuan mereka lumer begitu saja. Sebelum-sebelumnya yang selalu disalahkan adalah ketidakmampuan manajer tim nasional untuk menemukan sistem permainan yang cocok untuk memaksimalkan sekumpulan pemain bagus itu.

Capello menyebut alasan itu omong kosong dan mengatakan pemain bagus akan selalu bisa beradaptasi dengan sistem apapun yang diinginkan manajer. Kalau tidak, maka gugurlah sebutan pemain bagus itu. Ia, seperti yang kemudian ia temukan di pertandingan melawan Swiss, menganggap persoalannya adalah rasa percaya diri. Yang ia kemudian coba pecahkan adalah mengapa rasa kurang percaya diri itu muncul dan bagaimana mengatasinya.

Catatan setahun pertama kerjanya adalah pada persoalan ini. Sementara hasil di lapangan adalah sekadar konsekuensi logis dari berhasil tidaknya ia mengurai persoalan itu.

Capello sejak awal sekali menekankan bahwa ia adalah penentu kata akhir apakah pemain bermain buruk atau bagus. Ia menuntut pemain untuk tidak memperhatikan apa kata media yang selalu melakukan penilaian per pertandingan.

Walau tidak pernah mengatakan secara langsung, dalam banyak hal Capello menyalahkan media sebagai pihak yang memahatkan rasa tidak percaya diri pada pemain. Mereka, media, dengan berlebihan melambungkan tim nasional ke awang-awang ketika bermain bagus, tetapi membantai habis-habisan ketika bermain buruk.

Akibatnya muncul semacam atmosfer ketakutan pada apa kata media setiap kali mereka turun ke lapangan. Dan percayalah, media Inggris ini sangat kejam bila membantai pemain mereka sendiri. Akibat lebih lanjut lagi tim nasional seperti bermain untuk menyenangkan media dan bukannya untuk kebanggaan negara. Satu alasan mendasar yang salah bagi pemain ketika turun ke lapangan.

Capello tidak sekadar menuntut pemain untuk bersikap seperti itu. Tetapi ia sendiri memberi contoh tentang mengabaikan sikap media itu. Kritik apapun yang ditimpakan padanya selalu ditanggapi dengan sikap, "aku bekerja bukan untuk kalian, dan karenanya aku tidak perlu mempertanggungjawabkan pekerjaanku kepada kalian."

Capello merasa mulai berhasil mengubah sikap pemain justru bukan saat Inggris bermain bagus atau memenangkan pertandingan, tetapi justru ketika kalah dalam pertandingan persahabatan 0-1 melawan Prancis.

Media Inggris menyebut pertandingan itu membosankan, pemain Inggris tak punya semangat, kalah kelas, kalah taktik, dan kalah strategi. Tak beda dengan tim-tim Inggris sebelumnya. Capello berkata, "Mereka runner up Piala Dunia. Dan permainan kalian menandingi mereka. Kalian, kita, semakin baik, meningkat, dan maju." Betapa beda penilaian media dan Capello. Dan Capello mengungkapkan penilaiannya itu secara terbuka tak peduli apa kata media. Pemain pun seperti tersadarkan untuk siapa mereka bermain.

Langkah lain Capello adalah membongkar aristokrasi pemain elit Inggris dan mengembalikan sistem meritokrasi seperti seharusnya. Nama besar pemain kalau sedang tidak bagus maka akan ia buang. Contoh klasik adalah Michael Owen.

Berulangkali di masa lalu Owen, asal sehat dan tidak cedera, akan secara otomatis dipanggil tim nasional. Tetapi sudah setahun terakhir, walau beberapa bulan di antaranya disebabkan oleh cedera, tidak pernah dipanggil oleh Capello. Ia mengatakan tidak menutup pintu untuk Owen, tetapi pada saat bersamaan mengatakan semua pemain Inggris mempunyai kesempatan untuk masuk tim nasional, siapapun dia.

David Beckham, walau sudah diberitahu kalaupun dipilih tidak akan menjadi pemain inti, bersedia bersusah payah menjadi pemain pinjaman di AC Milan. Ia tahu Capello seperti apa karena pernah bermain untuknya di Real Madrid.

Bukan hanya pada pemain dan media Capello bersikap tegas. Terhadap klub-klub Inggris ia menunjukkan siapa yang sebenarnya berkuasa. Sama dengan sikapnya terhadap media, Capello walau mengerti harus bekerja sama dengan berbagai klub yang ada, tetapi juga melihat klub sering egois dan tidak mau berkorban demi tim nasional.

Di masa lalu terlalu sering manajer tim nasional seperti tunduk dengan manajer klub, terutama klub besar. Klub dengan mudah menarik pemain mereka dari pertandingan persahabatan dengan alasan cedera. Klub cukup mengirimkan surat dari dokter klub tentang yang dialami pemain itu.

Kini surat dokter klub tidak cukup. Pemain yang dipanggil tim nasional kalau berhalangan karena cedera harus juga diperiksa tim kesehatan tim nasional. Barulah diputuskan apakah pemain yang bersangkutan memang layak istirahat. Capello mengancam, pemain yang enggan memenuhi tuntutan persyaratannya tidak akan lagi dipanggil selama ia memegang tim nasional.

Tak heran kalau pernah pemain sekaliber Steven Gerrard bersedia pulang balik sejauh 750 kilometer hanya untuk membuktikan ia memang cedera. Liverpool sangat marah karena Capello tidak mempercayai dokter klub, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa.

Capello tidak peduli bahwa kebijakan-kebijakannya membuatnya tidak disukai banyak pihak. Sejak lama, sejak ia pertama kali merintis karir sebagai manajer sepakbola, ia tahu tidak sedang beramah-tamah untuk mendapat teman baru. Yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana ia bisa sukses memenuhi tuntutan kontraknya. Dan ia akan dinilai berdasar hasil kerjanya, bukan berapa banyak teman yang ia dapat. Setahun pertama memegang tim nasional Inggris, harus diakui nilainya memang memuaskan. (dtc)
Read More...

Ronaldo Terbaik, Gerrard Favorit

13 Desember 2008 | Label: | 0 komentar |

Oleh Zeynita Gibbons

PENGGEMAR sepakbola di Indonesia memilih pemain tengah Liverpool, Inggris, Steven Gerrard, sebagai pemain favorit "Barclays Premier League" dan menganggap Cristiano Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia saat ini.

Orang Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari lima jam per minggu untuk mengikuti pertandingan sepakbola dan stasiun televisi yang merupakan media paling disukai untuk mengikuti pertandingan siaran langsung.

Hal itu diungkapkan Kevin Wall dari Barclays yang mengadakan jajak pendapat mengenai Barclays Global Fans Report yang memperoleh respon cukup fantastis dari lebih 32.000 penggemar di 185 negara atau 90 persen dari seluruh negara di dunia termasuk dari Indonesia.

Pada jajak pendapat yang dilakukan melalui saluran media internasional kepada penggemar sepakbola yang hasilnya dikompilasi TNS Media Intelligence, penggemar di Indonesia memilih klub sepakbola Liverpool sebagai klub favorit meraih juara diikuti Manchester United, Chelsea dan Arsenal.

Berdasarkan laporan Barclays 2008 Global Fans Report, kebiasaan menonton penggemar di Indonesia saat ini sangat menyukai multimedia dalam menyaksikan kejuaraan liga selain imelalui Internet menggunakan PC desktop.

Menurut laporan penggemar di Indonesia umumnya senang tinggal di rumah untuk menyaksikan pertandingan Barclays Premier League bersama teman-teman dan keluarga.

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Inggeris yang lebih senang menyaksikan pertandingan sepakbola di kedai kedai minuman yang banyak tersebar yang menayangkan pertandingan sepakbola secara live.

Penggemar di Indonesia yakin Inggris menjadi juara dalam FIFA World Cup 2010, diikuti Spanyol dan Argentina, selain itu menyebutkan Brazil menghasilkan pemain-pemain sepak bola terbaik, diikuti pemenang Euro 2008, Spanyol.

David Beckham
David Beckham sejak kepindahannya ke Amerika ternyata kurang begitu populer, menurut laporan itu juatru Fernando Torres sebagai pemain favorit, sedangkan Gerrard menjadi pemain favorit sepanjang masa, mengalahkan dua mantan pemain Manchester United legendaris Eric Cantona dan David Beckham.

Barclays, sponsor resmi utama Liga Utama Inggris (Premier League) dalam laporannya mengungkapkan menurut penggemar sepak bola Indonesia pada umumnya, gaya sepak bola dan pemain merupakan dua hal yang paling menarik dari pertandingan liga Inggris tersebut.

Para penggemar di Indonesia memilih Sir Alex Ferguson sebagai pelatih favorit Barclays Premier League, diikuti secara ketat oleh pelatih Liverpool Rafael Benitez .

Sementara Liverpool sebagai klub Barclays Premier League paling populer di Indonesia yang mengalahkan Manchester United. Sedangkan lapangan Anfield menjadi stadion favorit mereka di Barclays Premier League.

Pelatih nasional Rusia, Guus Hiddink, sebagai manajer yang paling mereka harapkan kahadirannya di Barclays Premier League, pemain sayap Barcelona, Lionel Messi, sebagai pemain yang paling diharapkan kehadirannya.

Di seluruh dunia, sepak bola merupakan topik pembicaraan paling populer dibandingkan dengan cabang-cabang olahraga lain secara gabungan, tiga kali lebih populer dari TV dan empat kali lebih populer dari politik.

Sepak bola merupakan kekuatan penyatu yang luar biasa dan hal ini membuktikan bahwa sepak bola memang merupakan olah raga dunia, dan Barclays Premier League adalah kompetisi favoritnya.

Pemain sepak bola dari klub Manchester United dan Korea Selatan, Ji-Sung Park, mengatakan ia bermain di Barclays Premier League selama dua tahun dan memiliki banyak penggemar.

"Senang sekali melihat banyak para penggemar sepak bola dari Asia mengikuti jalannya liga ini dan klub saya tentunya," ujarnya.

Menurut jajak pendapat itu masyakarat Indonesia menilai sepakbola merupakan kegiatan kedua terpenting dalam kehidupan setelah masalah keluarga. Analisis ini dilakukan sebagai bagian dari riset berkelanjutan yang dilakukan oleh Barclays, sponsor utama Barclays Premier League, guna lebih memahami sikap dan gaya hidup penggemar sepak bola di seluruh dunia, ujar Rebecca Drury.

Dikatakannya Barclays Premier League ditonton oleh sekitar 600 juta rumah di 203 negara di seluruh dunia, menjangkau pamirsa global yang mencapai 4,77 milyar. Saat ini terdapat 290 pemain asing yang bermain di Barclays Premier League. Para pemain dari 86 negara ikut serta dalam pertandingan sejak liga ini dimulai.

Barclays Group hingga saat ini mensponsori delapan musim pertandingan Barclays Premier League dan kontrak sponsor terbaru akan berlaku hingga Mei 2010.

Barclays lembaga keuangan global yang memberikan pelayanan perbankan ritel dan komersial dan menajemen kekayaan dan layanan manajemen investasi yang hadir di Eropa, AS, Afrika dan Asia.

Menurut hasil survai penggemar Barclays Premier League di Indonesia juga mengikuti UEFA Champions League Serie A dan La Liga yang sangat digemari adalah gaya sepak bola, pemain, atmosfir / antusiasme penggemar dan kemampuan bersaing.

Sebanyak 99 persen responden Indonesia penggemar Barclays Premier League dan tidak akan mengubah dukungan kepada tim yang mereka gemari dan gaya pemain menjadi pendorong utama dalam memberikan dukungan terhadap tim selain sejarah keberhasilan klub. (antara news)
Read More...

John Terry, Kapten yang Teguh Hati

20 Agustus 2008 | Label: | 0 komentar |


NAMA John Terry selalu akrab dengan jabatan kapten tim. Kapten Chelsea itu dianggap sebagai pemain yang mampu bertahan dalam masa-masa kritis dan itu yang membuatnya terpilih kembali sebagai kapten tetap timnas Inggris.

Bagi Terry, ini merupakan jabatan tetap keduanya sebagai pemimpin The Three Lions. Ia pertama kali mengemban jabatan itu ketika pelatih Steve McClaren memberikan ban kapten kepadanya pada 10 Agustus 2006. Waktu itu, Terry menggantikan David Beckham yang mundur setelah Piala Dunia 2006.
Terpilihnya Terry sebagai kapten tetap Inggris di bawah asuhan pelatih Fabio Capello memang sudah diprediksi oleh berbagai pihak. Mantan pemain Arsenal, Tony Adams pun menyatakan dukungannya terhadap Terry. Capello pun menyebut kepribadian Terry menjadi salah satu faktor mengapa ia bisa terpilih mengalahkan Rio Ferdinand.

"Rio, ketika menjadi kapten, bermain sangat baik, sama seperti John. Tidak mudah bagi saya untuk memilih karena keduanya pemain yang sangat bagus. Kepribadian John menjadi alasan saya memilihnya, tapi Rio sangat penting di dalam tim," ujar Capello usai menunjuk Terry sebagai kapten, Selasa (19/8).

Lahir di London, 27 tahun silam, Terry mengawali debutnya di Liga Inggris bersama Chelsea pada 28 Oktober 1998. Bek tengah tersebut sempat menjalani masa-masa sulit di Stamford Bridge yang pada akhirnya membuatnya terusir dari The Blues dengan status pemain pinjaman untuk Nottingham Forest. Di masa-masa itu, gaya hidup dan sikapnya di luar lapangan memang tidak layak ditiru. Ia pernah menerima hukuman larangan bermain sementara akibat kasus penyerangan di sebuah klub malam di London. Dia juga pernah dikenai denda akibat mabuk-mabukan dan mengganggu turis Amerika yang sedang berduka akibat serangan 11 September 2001.

Namun, Terry sanggup membuktikan bahwa dia bisa bangkit dari masa-masa kelamnya itu. Sekembalinya dari Nottingham, Terry menjadi pilihan utama skuad Chelsea. Pada musim 2001/02, ia menjadi langganan bek Chelsea dan terpilih menjadi kapten The Blues untuk pertama kalinya pada Desember 2001.

Atas kecemerlangan kariernya itu, 3 Juni 2003, ia memulai debutnya di timnas Inggris saat melawan Serbia dan Montenegro meski ia turun sebagai pemain cadangan di babak kedua. Di tahun itu pula, pelatih Claudio Ranieri menetapkannya sebagai kapten Chelsea. Pada musim 2003/04 ini, namanya semakin berkibar menyusul tersingkirnya Marcel Desailly dari skuad utama Ranieri. Permainannya semakin memikat di bawah asuhan pelatih Jose Mourinho. Ia pun sukses membawa The Blues juara Liga Inggris pada 2005 dan 2006.

Di kancah internasional, perannya di timnas Inggris juga patut diacungi jempol. Enam hari setelah ditunjuk sebagai kapten Inggris oleh McClaren, Agustus 2006, Terry memimpin teman-temannya menang 4-0 atas Yunani dalam sebuah laga persahabatan dan mencetak gol pembuka. Sayang, dua bulan berikutnya, Terry mengalami kekalahan pertama sebagai kapten ketika Inggris menyerah 0-2 dari Kroasia dalam kualifikasi Euro 2008.

Setelah itu, permainannya mulai menurun dan ia kembali menghadapi masa sulit bersepak bola. Diawali dari kartu merah yang diterimanya akibat dua kartu kuning dari wasit Graham Poll pada November 2006. Kasus ini akhirnya berkepanjangan karena Terry mengeluarkan komentar kurang terpuji kepada Poll. Asosiasi sepak bola Inggris atau FA akhirnya menetapkan denda sebesar 10.000 poundsterling atas tindakannya itu.

Pada akhir tahun 2006, cedera punggung membuatnya harus absen dalam laga-laga penting bersama Chelsea dan Inggris. Februari 2007, kepalanya bocor setelah mengenai kaki Abou Diaby (Arsenal) dalam turnamen Piala Carling. Meski sempat membela Inggris pada laga lawan Brasil pada musim panas 2007, Terry kembali menghadapi cedera lutut yang membuatnya harus absen hingga akhir tahun termasuk melewatkan kualifikasi Euro 2008 lawan Estonia, Russia and Croatia.

Terry akhirnya baru kembali pada Februari 2008 dan absen dalam pertandingan perdana di bawah asuhan Capello (melawan Swiss). Bulan berikutnya, ia harus merelakan ban kapten setelah Capello menunjuk Rio Ferdinand sebagai kapten saat Inggris melawan Prancis dalam sebuah tarung persahabatan.

Puncak penderitaannya terjadi pada akhir musim 2007/08. Setelah gagal membawa Chelsea merebut gelar Liga Inggris, Terry kembali sial ketika tendangan penaltinya ke gawang Manchester United gagal berbuah gol di final Liga Champions. Ia terpeleset waktu menendang sehingga bola meluncur ke atas. Terry merasa terpukul dengan kejadian itu dan tak henti-hentinya meratapi kesalahan tersebut.

Namun, deraan itu hanya berlangsung beberapa hari sebab, pada akhir Mei, Capello mengembalikan tugas kapten Inggris ke pundaknya. Tugas itu dijalankannya dengan baik dan ia mencetak gol ke gawang Amerika dalam sebuah partai persahabatan. Keberhasilannya ini mendapat pujian setinggi langit dari Capello. Menurutnya, Terry sama sekali tak terpengaruh dengan hasil buruk di Liga Champions. "Gol itu sangat penting baginya. Sekarang, dia bisa pergi berlibur dan merasa lebih gembira," ungkap Capello usai pertandingan tersebut.

Kini tugas-tugas berat menanti Terry. Pemain berusia 27 tahun itu harus bisa membangkitkan semangat timnas yang tengah dihantui perasaan kurang percaya diri usai kegagalan menembus final Piala Eropa 2008. Jika berkaca pada kebangkitan Terry dari masa-masa sulitnya, rasanya keteguhan hati sang kapten dapat membantunya melewati masa-masa buruk itu. Jika itu yang terjadi, tugas membawa Inggris lolos kualifikasi Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan rasanya bukan menjadi halangan besar mereka. (kompas.com)


Read More...

Lakukan Apa Saja Kecuali Membunuh

16 Agustus 2008 | Label: | 0 komentar |


ARSENE Wenger "meralat" filosofi Emmanuel Adebayor tentang cara yang harus dilakukan sebuah tim untuk bisa. Menurut manajer Arsenal itu, apapun bisa dilakukan ... kecuali membunuh.

Adebayor seusai Arsenal mengalahkan Twente Enschede 2-0 di babak kualifikasi Liga Champions hari Rabu lalu mengatakan media Inggris bahwa "terkadang Anda harus berbuat kotor untuk menang".

Karena dilontarkan oleh seorang pemain Arsenal, tak heran kalau Wenger diminta penjelasan tentang pernyataan yang berbau kontroversi tersebut. Dan orang Prancis itu menguraikan pemikirannya. "Apakah kami siap membunuh seseorang untuk memenangi sebuah pertandingan? Tidak. Ini karena Anda harus menghormati aturan-aturan dalam sepakbola," ujarnya seperti dikutip Reuters, Jumat (15/8/2008).

"Keindahan permainan ini adalah untuk menang dengan tetap menghormati aturan. Tapi kami memang akan melakukan apapun yang diperlukan untuk memenangi sebuah pertandingan," sambungnya.

Wenger dan timnya disoroti kekuatannya karena mengendur justru mendekati kompetisi musim lalu berakhir. William Gallas dkk pun harus puas menduduki peringkat tiga.

Mengenai hal itu Wenger, yang belum lagi mempersembahkan tropi juara buat The Gunners sejak 2005, mempunyai pembelaan. Terpaut empat poin dari sang juara Manchester United di klasemen akhir dianggapnya bukan hal memalukan.

"Kami tidak kalah dengan selisih poin yang besar dan kami merasa bisa lebih kuat dibanding tahun lalu," tukasnya. "Dua tahun lalu kami sempat tertinggal 20 poin dari pimpinan klasemen. Tahun lalu kami hanya terpaut empat angka, dan buat saya itu adalah sebuah kemajuan besar." (dtc/eko)
Read More...

Eropa Raih Keuntungan dari Inggris

16 Juni 2008 | Label: , | 0 komentar |

Brussels, Kamis - Pemain terbaik dari negara peserta putaran final Piala Eropa 2008 yang dimulai Sabtu (7/6) sebagian menemukan puncak permainan mereka karena memperkuat klub-klub elite Inggris. Ironisnya, yang mendapatkan keuntungan adalah negara asal, sedangkan Inggris justru tidak bisa melaju ke putaran final Piala Eropa.
”Liga Premier Inggris lebih menguntungkan negara lain sehingga mereka bisa ambil bagian dalam Piala Eropa, tetapi tidak demikian halnya dengan Inggris,” kata Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Sepp Blatter, Kamis, saat menjadi pembicara dalam forum sepak bola di Universitas Zurich.

”Sepak bola tak bisa diprediksi dan terkadang tanpa ada logika, tetapi faktanya pemain terbaik tim-tim kuat Inggris tidak selalu orang Inggris,” ujarnya.Blatter lalu bertanya, dari mana tim nasional Inggris akan mendapatkan pemain? Menjawab pertanyaannya sendiri, Blatter mengatakan, mereka berasal dari tim-tim yang kurang kuat seperti divisi I.

Faktor itulah yang memperlemah tim nasional Inggris. ”Apa yang terjadi di Inggris adalah tim-tim terbaik mempersiapkan pemain tim nasional bagi lawan-lawan Inggris,” katanya.
Inggris gagal melaju ke putaran final dan hanya berada di belakang Kroasia dan Rusia pada babak kualifikasi grup. Tercatat ada 43 pemain, atau sekitar 11,6 persen, dari total pemain yang berlaga di Piala Eropa 2008, merumput dan dibesarkan di Liga Premier Inggris. Sebagian besar justru menempati posisi strategis di tim nasionalnya.

Sebut saja Perancis yang pada putaran final kali ini berlaga di Grup C bersama Italia, Belanda, dan Romania. Perancis memiliki enam pemain yang membela klub-klub elite Inggris, di antaranya Patrice Evra yang menjadi bek Manchester United (MU), serta Claude Makelele dan Nicolas Anelka yang masing-masing mengisi lini tengah dan depan Chelsea.

Belanda juga memiliki enam pemain yang membela klub elite Inggris, di antaranya Edwin van der Sar (MU), Robin van Persie (Arsenal), serta Dirk Kuyt (Liverpool).Sedikit di bawah kedua negara itu, tim kuat Grup D, Spanyol, memiliki lima pemain yang merumput di Liga Inggris. Mereka antara lain pemain depan Fernando Torres di Liverpool dan pemain tengah Cesc Fabregas di Arsenal.

Selain itu, di Grup A ada tim kuat Portugal yang memiliki empat pemain yang membela klub Inggris. Mereka antara lain penyerang Cristiano Ronaldo di MU, serta Paulo Ferreira dan Ricardo Carvalho yang masing-masing menjadi kekuatan pertahanan Chelsea.
Dari 16 negara yang berlaga di Piala Eropa, hanya tiga negara yang pemainnya tidak merumput di Liga Inggris, yakni Italia, Romania, dan Rusia.

Sistem 6+5
Setelah berbicara dalam forum itu, Blatter melanjutkan lawatannya ke markas Uni Eropa (UE) dan bertemu Presiden Parlemen Eropa Hans-Gert Poettering. Pertemuan itu merupakan bagian dari upayanya untuk meyakinkan pembuat undang-undang UE agar menyetujui sistem kuota pemain asing ”6+5”, yang sempat ditentang sebagian besar negara UE, Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA), dan Presiden UEFA Michel Platini.

Sistem 6+5 yang secara resmi disampaikan dalam Kongres FIFA di Sydney, pekan lalu, memberlakukan ketentuan yang mengharuskan klub profesional di semua negara memulai pertandingan dengan maksimal lima pemain asing.

Sistem itu diharapkan mulai diperkenalkan dengan mengharuskan klub bertanding dengan minimal empat pemain lokal pada 2010. Selanjutnya porsi pemain lokal berangsur-angsur ditambah minimal lima pemain pada 2011 dan enam pemain pada 2012.

Sistem ini mendapat dukungan dari sebagian anggota FIFA. Seperti diberitakan Kompas (4/6), tercatat ada 155 anggota yang mendukung, 5 anggota menolak, dan 40 anggota abstain.
UEFA menentang sistem tersebut karena selama ini kompetisi di sana membolehkan satu klub memainkan lebih dari lima pemain asing. Itu terjadi karena sesuai peraturan Uni Eropa, pemain dari negara Eropa tidak dianggap pemain asing. Pemain asing yang sudah menetap lebih dari dua tahun juga bisa dianggap sebagai pemain lokal.”Saya sangat senang diterima berdialog. Selama kita berdiskusi, selalu ada jalan untuk menemukan solusinya,” kata Blatter. (Reuters/AFP/WHY)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/07/01290583/negara.eropa.raih.keuntungan.dari.inggris

Read More...