Tampilkan postingan dengan label Bisnis Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis Sepakbola. Tampilkan semua postingan

Cengkeraman Kuat Eropa Barat

22 Desember 2008 | Label: | 0 komentar |

DOMINASI klub-klub papan atas (klub asal Eropa Barat) masih menjadi sorotan utama panggung kompetisi akbar Liga Champions UEFA 2008/2009. Belum ada kejutan yang mampu dihadirkan para wakil juara dari sisi timur Benua Biru.

Kalaupun ada, hanya klub Yunani Panathinaikos yang berhak disematkan status tersebut. Panathinaikos sanggup tampil menyeruak ke depan dengan meloloskan diri ke putaran berikut. Hasil akhir pada pertempuran di babak penyisihan grup menjadi acuannya.

Lihat saja betapa kuatnya cengkeraman kuku klub-klub sekelas Manchester United, Barcelona, Internazionale Milano atau Liverpool menancap di putaran gugur Liga Champions (LC) musim ini. Panathinaikos menjadi satu-satunya wakil tersisa asal Eropa Timur yang lolos ke babak 16 besar.

Tim-tim semacam Anorthosis Famagusta (Siprus), FC BATE Borisov (Belarusia), CFR Cluj (Rumania), Dynamo Kyiv (Ukraina), Fenerbahce (Turki), Shaktar Donetsk (Ukraina), Steaua Bucharest (Rumania) dan Zenit St Petersburg (Rusia) sudah tenggelam sebelum sempat menggapai babak knock-out pertama.

Coba bayangkan. Dari total sembilan peserta asal Eropa Timur, yang lolos ujian hanya satu tim. Bandingkan dengan 15 kandidat juara LC lain yang semuanya berasal dari kawasan barat. Bila situasi terus berjalan seperti ini, wacana pemerataan prestasi ke seantero Eropa--seperti yang diharapkan Presiden UEFA Michel Platini--bakal terwujud dalam rentang masa relatif lama.

Meski pekerjaan rumah Platini masih menumpuk, satu solusi penawar dahaga sudah siap digulir UEFA. Rencananya, mulai musim 2009/2010 format kompetisi LC bakal direvisi.

Fokus utama perubahan UEFA adalah membuka akses lebar kepada para juara dari asosiasi sepakbola negara-negara Eropa yang berperingkat koefisien 13 hingga 53, untuk melaju ke babak utama LC melalui jalur kualifikasi terpisah. Keuntungannya, kelompok jawara dari peringkat koefisien 13-53 tidak perlu berhadapan langsung dengan klub non-juara dari asosiasi berperingkat 1-12.

Nantinya akan ada 22 tim yang langsung lolos ke babak penyisihan grup-tidak seperti format sekarang yang hanya dicomot 16 klub. Enam tim tambahan diambil dari juara-juara asosiasi berperingkat 10 sampai 12, serta tim juara ketiga dari induk sepakbola negara-negara yang berperingkat 1-3. Sementara sepuluh tim tersisa yang masih diperlukan guna menggenapi jumlah peserta menjadi 32 klub, akan diambil dari jalur kualifikasi terpisah tadi.

Harapan terciptanya wajah baru sepakbola Eropa tertanam dalam format anyar UEFA ini. Semoga saja misi mulia Platini bisa terwujud dalam waktu dekat. Sudah sekian lama sejak insan sepakbola terakhir kali menyaksikan tim asal Eropa Timur meruntuhkan kesombongan saudara-saudara mereka yang bermukim di Barat. Tim Eropa Timur terakhir yang sanggup mereguk nikmat menjadi juara kompetisi elit antarklub Eropa adalah klub Serbia, Red Star Belgrade pada 1991. (okezone)
Read More...

Kejadian Tewas Mendadak Dalam Sepakbola

11 Desember 2008 | Label: | 0 komentar |

PEMAIN bertahan Spanyol dari Sevilla, Antonio Puerta, tewas pada Selasa (28/8/2008) setelah mengalami serangan jantung, dan ia merupakan pemain terkini yang tewas dalam pertandingan.

Berikut ini sejumlah kejadian singkat kematian mendadak sebelumnya dalam pertandingan sepak bola, selayaknya dicatat Kantor Berita AFP.

11 April 2006: Pemain remaja Kolombia, Victor Alfonso Guerrero (17) tewas ketika sedang mengikut latihan bersama teman-temannya pada klub divisi satu Kolombia, Envigo FC. Ia tumbang tidak sadarkan diri dan tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

25 Juni 2005: Hugo Cunha, pemain tengah berusia 28 tahun yang bergabung dalam klub Portugis, Uniao Leiria, tewas ketika sedang bertanding. Cunha mengalami serangan jantung dan gagal dalam perawatan pelayanan gawat darurat.

27 Oktober 2004: Pemain Brazil, Serginho (30) tumbang dalam pertandingan divisi satu Brazil antara klubnya Sao Caetano dan Sao Paulo, kemudian tidak berapa lama kemudian tewas.

Kematiannya menimbulkan kontroversi hebat setelah hasil otopsi menunjukkan bahwa berat jantungnya 600 gram, dua kali lipt berat jantung normal. Sao Caetano, bersama para petinggi klub itu termasuk dokter, dikenai sanksi oleh badan olahraga Brazil.

25 Januari 2004: Striker internasional Hungaria dalam klub Benfica, Miklos Feher (24) jatuh ketika berlangsung pertandingan liga Portugis dan ia mendukung klub Vitoria Guimaraes. Ia tidak pernah siuman. Hasil otopsi menunjukkan letak jantungnya tidak normal.

26 Juni 2003: Pemain internasional Kamerun, Marc-Vivien Foe, tewas ketika mengikuti pertandingan semifinal Piala Konfederasi melawan Kolumbia.

Pemain Manchester City itu jatuh di tengah lapangan dan semua pertolongan yang diberikan kepada tidak membuahkan hasil. Otopsi menunjukkan sistem elektikal jantungnya tidak beres.

Desember 2002: Pemain bertahan Masedonia, Stefan Toleski, tewas dengan dugaan mendapat serangan jantung. Ia jatuh pada pertengah permainan babak pertama pertandingan liga antara klubnya FK Napredok melawan Kumanovo. Ia tewas di rumah sakit.

Februar 2000: John Ikoroma pemain yunior berusia 17 tahun di Nigeria, mendapat serangan jantung ketika mengikuti tanding persahabatan di Uni Emirat Arab. Ia baru dicoba mengikuti pertandingan bersama Al Wahda saat klub itu melawan klub Astona dari Kazakhstan. Ia jatuh 20 menit menjelang pluit akhir berbunyi dan ia tewas di rumah sakit.

1997: Emmanuel Awanegbo, pemain dari Nigerian yang bergabung dengan klub sepak bola di Jerman, tewas ketika pertandingan baru berlangsung 12 menit. Kematiannya disebutkan karena mengalami masalah dengan jantungnya.

1995: Amir Angwe (29), striker pada klub Nigeria, Julius Berger, jatuh sebelum pertandingan usai, ketika mengikuti laga semi final Piala Winner`s Cup Afrika saat bermain melawan Maxaquene dari Mozambiq. Dokter mengatakan ia terkena serangan jantung.

1989: Pemain internasional Nigeria, Samuel Okwaraji, yang dikontrak secara profesional oleh AS Roma di Italia setelah ia menyelesaikan studinya di Roma, tewas dalam pertandingan babak penyisihan antara tim Super Eagles dan Angola. (antara news)
Read More...

Catenaccio Ala PSSI

| Label: | 0 komentar |

Oleh Prasetyo Utomo

FILOSOFI dasar catenaccio berbunyi,"bertahan adalah format terbaik bagi serangan." Dalam sistem defensif ini pemain hanya ‘krasan’ di daerahnya sendiri. Bertualang di daerah lawan sebisa mungkin diminimalkan.

Dalam episode perjalanan sepak bola, sistem catenaccio atau pertahanan gerendel menjadi salah satu aktor fenomenal yang berperan dalam pembentukan sepak bola modern saat ini. Italia si empunya strategi ini menjadi perbincangan dunia waktu itu ketika berani menampilkan gaya destruktif dengan meninggalkan gaya sepak bola indah.

Adalah Helenio Herrera si ‘bapak catenaccio’ yang mempopulerkan gaya defensif ini. Pada awal enam puluhan, besutan Herrera membawa berkah bagi Inter Milan menjadi Juara Italia tahun 1963, 1965 dan 1966 dan merengkuh gelar Piala Champion pada tahun 1964 dan 1965.

Ide untuk membuat dan menetukan permainan, inisiatif untuk menyerang, memprovokasi agar lawan menunjukkan permainannya, semuanya adalah larangan dalam sistem ‘birokrasi’ ini. Sebaliknya, menanti dan mengharapkan lawan melakukan kesalahan, menanti kesempatan "counter". Itulah diktat sistem pertahan gerendel.
Penonton pun tak lagi bisa menikmati romantisme yang ada di lapangan hijau. Segala cara dilakukan untuk menang walaupun harus mengorbankan hakekat dari sepak bola yaitu sebuah seni.

Bertahan Ala PSSI

Nurdin Halid pun jadi aktor fenomenal di tubuh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kegigihannya bertahan diri dari segala serangan yang menginginkannya mundur dari jabatan ketua umum mengingatkan kekerasan hati seorang Helenio Herrera.

Herrera selalu bergeming dan tak mau mendengar protes dari lawannya. Seorang kolumnis sepakbola kawakan Walter Lutz pernah menyerang pola pertahanan gerendel ini.

Ia berpendapat permainan akan berkembang dengan makin rumit dan menegakkan diri sebagai sistem yang makin kokoh. Jumlah gol semakin sedikit, adegan berbahaya makin jarang dan tembakan ke gawang makin langka.

Herrrera membalasnya. “Dalam permainan, hasil akhir adalah yang terpenting. Kemenanganlah yang dicari. Tidak peduli dengan permainan indah."

Polemik di PSSI bermula ketika Nurdin Halid tidak mau mengundurkan diri dari posisi ketua umum. Padahal pria yang pernah menjabat manager PSM Makassar itu sedang meringkuk di balik jeruji rutan Salemba terkait kasus korupsi pengadaan minyak goreng tahun 2001.

Pria yang lahir di Watampone, Sulawesi Selatan 49 tahun lalu itu dengan tegas menolak mengundurkan diri dengan alasan yang tak masuk akal.

Bahkan Wapres Jusuf Kalla angkat bicara untuk menenangkan teman ‘satu kampungnya’ itu ."‘Saya yakin Nurdin Halid akan berbesar hati untuk mundur, PSSI pasti harus ikut aturan FIFA dan saya yakin PSSI akan ikuti aturan-aturan FIFA," tegas Wapres.

Namun pria lulusan IKIP Ujungpandang tahun 1982 itu balik melakukan serangan balik. Tampaknya Nurdin pandai mengadopsi strategi ‘counter attack’ Cattenaccio. Menunggu lawan lengah untuk menyerang balik dan mencetak gol.

"Saya hanya mematuhi keputusan organisasi. Wapres bahkan Presiden tidak bisa melakukan intervensi kepada PSSI," tegas Nurdin

Bak belut yang licin mantan anggota Fraksi Partai Golkar DPR-RI, 1999-2004 itu tetap menolak lengser. Ia melontarkan alasan lain untuk tetap memegang jabatannya itu. Ia menegaskan hanya akan mematuhi keputusan Komite Eksekutif FIFA.

"Sampai saat ini saya belum menerima dan membaca surat dari FIFA yang memerintahkan saya untuk mundur,"tegasnya.

"Apa yang dikeluarkan FIFA itu adalah rekomendasi dari Komite Asosiasi, bukan Komite Eksekutif FIFA. Komite Eksekutif, yang merupakan badan tertinggi di FIFA, tidak mengeluarkan keputusan mengenai Indonesia," tegasnya.

Komite Asosiasi FIFA mengeluarkan peryataan bahwa berdasarkan prinsip dasar FIFA, seseorang yang pernah dihukum karena melakukan kejahatan dan atau tengah menjalani hukuman penjara tidak diperkenankan ikut dalam pemilihan (ulang) tersebut.

Keputusan tersebut menegaskan kembali isi Artikel 7 Kode Etik FIFA yang antara lain menyatakan orang-orang dengan catatan kriminal dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjadi pengurus.

Awal bulan Februari Komisi Asosiasi bersidang dan memutuskan , meminta PSSI menyelesaikan revisi statuta dalam tiga bulan terhitung sejak 5 Februari 2008 dan menuntaskan pemilihan ketua umum paling lambat tiga bulan sejak statusa PSSI itu disahkan.

Tapi sekali lagi Nurdin berkelit bahwa tidak akan ada musyawarah nasional luar biasa (munaslub) dalam waktu dekat. Komposisi pengurus atau apapun tidak perlu dirubah kecuali pada munaslub 2011.

Kerbau Dicocok Hidungnya

Nurdin Halid patut bangga karena keinginannya untuk tetap bertahan sebagai ketua umum PSSI mendapat dukungan dari anak buahnya di PSSI. Sekjen PSSI Nugraha Besoes dan Komite Eksekutif PSSI mendukung dia untuk tetap memegang tangguk pimpinan.

Sekjen PSSI Nugraha Besoes berusaha untuk melakukan pembelaan terhadap Nurdin dengan dalih untuk mempertahahankan kepengurusan periode 2007-2011 dan tidak menyinggung kemungkinan melakukan Munaslub untuk memilih ketua umum yang baru menggantikan Nurdin Halid.

Nugraha berusaha berlindung dibalik pernyataan Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Mohammed bin Hammam yang menurutnya pada pertemuan di Kuala Lumpur pada 11 September lalu pernah mengatakan bahwa ia mempersilahkan PSSI untuk menerapkan Statuta PSSI pada Munas 2011 dan kepengurusan 2007-2011 tetap terus berjalan.

"Kepengurusan sekarang tetap akan jalan dan pedoman dasar baru yang sesuai dengan aturan FIFA akan diaplikasikan pada 2011," kata Nugraha Besoes. Apabila pernyataan Hammam seperti yang disampaikan Nugraha tersebut benar, berarti tidak ada niat dari para pengurus PSSI untuk "mengatur kembali" pemilihan ketua umum seperti yang ditegaskan oleh FIFA.

Menurut Nugraha, Nurdin hanya bisa di copot melalui mekanisme munaslub, namun demikian Exco (Komite Eksekutif) PSSI tidak akan mengusulkan mekanisme munaslub tersebut (status quo).

Dalam statuta FIFA, pada pasal 32 ayat 4 standart statutes, disebutkan bahwasanya pengurus organisasi sepakbola haruslah orang yang aktif di sepakbola dan tidak tersangkut masalah kriminal.

Dalam kesempatan lain Presiden FIFA Sepp Blatter dalam sebuah acara di FoxSport menyatakan dengan jelas dan tegas agar PSSI tidak menentang keputusan FIFA untuk mencopot Nurdin Halid dari jabatannya. Harusnya pernyataan tersebut menyadarkan PSSI, yang selalu beralasan menunggu surat resmi dari FIFA perihal pencopotan Nurdin Halid.

PSSI tetap bergeming dengan peryataan itu. Mereka tetap bersikeras untuk bertahan dengan segala resiko termasuk mendapat kritikan dan demo dari sejumlah suporter.

Matabat Bangsa

Mengapa PSSI bersikeras mempertahankan hanya satu oang yang jelas-jelas tersangkut masalah hukum? Mengapa tidak berpikir praktis: apakah diantara 200 juta penduduk Indonesia tidak ada yang mampu menjadi ketua umum PSSI.

Apakah berbagai kepentingan dibalik itu harus mengorbankan martabat masyarakat sepak bola dan rakyat Indonesia di mata dunia? Ataukah hanya menunggu!

Berharap ada orang seperti Rinus Mitchell yang mampu mendobrak hegemoni Cattenaccio dengan total footballnya. Membalikkan Filosofi Cattenaccio menjadi pertahanan terbaik adalah menyerang. (antara news)
Read More...

KREDO ARSENAL: JANGAN MENGGADAI HATIMU

27 November 2008 | Label: , | 0 komentar |

Oleh A.A. Ariwibowo

PASCA
kekalahan Arsenal 0-3 atas Manchester City dalam laga Liga Utama Inggris yang digelar pada Sabtu (22/11), arsitek The Gunners Arsene Wenger melafalkan kredo kepada pasukannya bahwa, "Pilihlah kebebasan, jangan mau sejengkal hatimu digadaikan oleh keseragaman."

Pengakuan pelatih asal Prancis itu merevolusi kemapanan karena menggoyang kursi para penggede. Mengapa?

Selain tugas ekstra berat menghadapi laga melawan Dynamo Kyiv di Liga Champions Grup G di Emirates Stadium pada Selasa atau Rabu (26/11), media massa Inggris menurunkan sejumlah kepala berita (headlines) seputar gelandang Spanyol Cesc Fabregas yang mendapat tugas baru sebagai kapten tim, menggantikan William Gallas.

Harian The Mirror menulis, "Saya membutuhkan engkau, Gallas". The Sun menurunkan judul, "Katakan maaf kepada Gallas". "Gobby Gallas telah kembali" (The Star. "Gallas dalam Persimpangan" (The Mail). Sementara The Guardian mengklaim bahwa Gallas tampaknya memiliki masalah ketika menghadapi dinamika para bintang muda. "Gallas sulit memberi maaf secara pribadi kepada rekan-rekannya, utamanya kepada Robin van Persie. Ia keras hati," tulis koran itu lebih lanjut.

Nama Gallas sempat dicoret Wenger dari skuad Arsenal pada pertandingan lawan Manchester City. Berbagai sikap dan tindakan Gallas dianggap tidak mencerminkan diri sebagai sosok kapten. Buntutnya, ban kapten kemudian diberikan kepada Manuel Almunia. Ketika kepercayaan terluka, maka kebebasan angkat suara. Mengapa?

Ini lantaran koran-koran Inggris tampil garang saat merespons perilaku pemain, pelatih atau tim yang kedapatan membalak makna kebebasan. Koran-koran itu satu suara bagaikan koor di serambi katedral laga bola bahwa Arsenal kini sedang didera krisis, meski setiap sudut dari Emirates Stadium mengharapkan kebebasan dalam meraih kemenangan.

Tunggu dulu. Di satu pihak, apa ada alasan mendasar sampai-sampai Gallas merobek kebebasan; di lain pihak, publik pecinta Arsenal menambal optimisme ketika Wenger memperbaiki atmosfer pasukan mudanya.

"Untuk memperoleh tim tangguh, kadangkala anda perlu mengambil langkah terobosan setelah menimbang situasi yang berkembang demi masa depan," kata Wenger.

Langkah itu menunjukkan bahwa Wenger tengah melabrak kegandrungan individu atau kelompok akan bahaya institusionalisme. Orang yang bersikap institusionalistis lebih menekankan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, struktur organisasi, prosedur kerja yang baku dan uraian tugas-wewenang para pejabat dan para punggawanya. Padahal, semuanya itu sebatas alat, sarana dan bukan tujuan.

Pelatih asal Prancis yang menangani Arsenal sejak 1996 itu tidak ingin berperan sebagai "superman". Ia ingin tampil sebagai pelatih yang memperhitungkan keadaan tim dan keutuhan mentalitas setiap pemain. Menurut koran-koran Inggris, saat melawan The Citizens, Arsenal tampil seperti kehilangan kemampuan.

Bayarannya kontan, posisi Arsenal pun turun ke peringkat lima di bawah Chelsea, Liverpool, Manchester United, dan Aston Villa dalam klasemen Liga Utama Inggris.

Wenger yang mengambil kuliah di Universitas Strasbourg dan berhasil menyabet ijasah master di bidang ekonomi memahami bahaya dari institusionalisme.

Dalam praktek kehidupan, institusionalisme membuat orang merasa puas dengan unsur-unsur formalitas belaka, melupakan jiwa dan semangat akan apa yang harus diraih.

Institusionalisme mengorbankan manusia demi tata tertib, tata cara dan peraturan. Virus ini ingin diberangus Wenger dari bawah sadar Arsenal.

Setelah pertandingan lawan Kyiv, Arsenal kembali dicobai dengan dihadapkan kepada partai berat melawan Chelsea di Premier League. Jika kembali keok, Arsenal bisa tertinggal 13 poin dari pimpinan klasemen Premier League. Ini artinya, Arsenal menanggalkan impian untuk menggondol juara. Meski Wenger tetap membulatkan tekad guna berkonsentrasi di Liga Champions.

Caranya? Wenger menurunkan Fabregas, Abou Diaby, Denilson, Samir Nasri dan Theo Walcott untuk mendominasi lapangan tengah, karena ia menghargai kemampuan dari anak asuhannya itu. "Kami lebih baik mempertahankan formasi dengan lima gelandang," katanya. "Formasi itu memungkinkan kami sedikit demi sedikit melakukan tekanan ke lini pertahanan lawan."

Wenger seakan menyitir pendapat filsuf Thomas Aquinas yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menyadari dirinya sendiri guna mengambil tindakan dan menempuh sikap (reditio completa in se ipsum).

Sementara, filsuf John Macquarrie mengatakan, cara bereksistensi yang khas manusiawi muncul dari perilaku negasi bahwa manusia mengambil jarak dari alam dengan menciptakan "terobosan" agar manusia merengkuh kebebasan.

Hasilnya? Cesc Fabregas menyambut positif kepercayaan yang diberikan Wenger. Gelandang asal Spanyol berusia 21 tahun itu menyebutnya sebagai "momen membanggakan". "Ini kehormatan luar biasa karena diberi kepercayaan menjadi kapten di salah satu klub besar di dunia. Ini jelas tanggungjawab yang saya emban bersama dengan rekan satu tim. Kami punya semangat dan berkomitmen memenangi setiap laga," katanya.

Pernyataan Fabregas ini berlawanan dengan sinyalemen Gallas. Pekan lalu, pemain asal Prancis itu melontarkan kritik atas semangat sesama rekan satu timnya.

Arsenal disebutnya kurang tampil sebagai tim yang secara fisik cukup digdaya mewujudkan cita-cita meraih juara. "Kami tidak cukup memiliki keberanian dalam mengarungi setiap pertempuran. Kami harus menjadi petarung. Kami harus mampu memenangi setiap pertempuran dengan memotivasi diri saat menyerang ke kubu lawan," kata Gallas yang kini berusia 30 tahun.

Omongan Gallas masuk kategori jauh panggang dari api. Gallas yang direkrut Arsenal dari Chelsea sejak Agustus 2006 itu kerap menunjukkan perilaku kepemimpinan yang memprihatinkan sejak The Gunners menghadapi Birmingham pada musim lalu.

Saat itu, emosinya begitu menggelegak dan ia menendang papan reklame. Tambahan, ia kerap bersikap "semau gue" dengan tidak mengindahkan sesi latihan pada Minggu. Media Inggris melontarkan pertanyaan, quo vadis Gallas?

Rekan pemain yang juga berasal dari Prancis, Gael Clichy mengomentari perilaku Gallas. "Ia kini diterpa banyak masalah berkaitan dengan keberadaannya di tim ini. Hatinya sudah tidak ada lagi di tim. Moga-moga peristiwa belakangan ini jadi awal dari kebangkitan dirinya. Moga-moga ia tampil lebih punya hati," kata Clichy yang menempati posisi pemain belakang.

Pernyataan Clichy merujuk kepada serangan bertubi-tubi media Inggris terhadap perilaku Gallas sejak laga melawan Birmingham. "Selama tujuh bulan, kami bertengger di puncak klasemen dan William tidak menuai kritik apa pun. Tetapi hanya karena satu peristiwa dalam satu laga, segala sesuatunya kini berubah," katanya.

"Ketika anda menderita kekalahan, maka segera datang hari penghakiman. Kami terus tertantang karena kami punya kemampuan dan kekuatan. Hidup bagaikan perjalanan mengarungi peristiwa menggembirakan dan menyedihkan. Kalau saja kami merasa frustrasi, maka serta merta kami tamat riwayat, padahal kami ingin beroleh harapan bagi masa depan," kata Clichy.

Kalau Clichy sudah berbela rasa dengan apa yang dialami rekannya, maka Wenger lebih tampil sebagai sosok yang menuang inspirasi di tengah paceklik semangat pasukannya.

Kalau kredo Arsenal yakni "jangan menggadai hatimu", maka Wenger ingin memproklamasikan kredo-atas-kredo bahwa, "Aku bisa memahami kepedihan orang lain lebih dari sebelumnya. Dengan begitu aku menjadi orang yang lebih peka atas segala apa yang dialami dan dirasakan orang lain."

Tokoh Renaissance Pico della Mirandola punya pendapat menggugah. Katanya, "Kamu adalah pembentuk dan pencipta diri sendiri. Kamu boleh memahat dirimu menurut bentuk yang kau pilih sendiri." Dan Arsenal memilih untuk tidak menggadai hati demi keseragaman. **
Read More...

Piala Eropa Raih 1,3 Miliar Euro

16 Juni 2008 | Label: , | 0 komentar |

Vienna, Jumat - Piala Eropa merupakan perhelatan sepak bola terbesar kedua setelah Piala Dunia. Dalam waktu tiga minggu penyelenggaraan Piala Eropa 2008, jumlah pendapatan yang diperoleh mencapai 1,3 miliar euro (hampir Rp 19 triliun). Jumlah tersebut meningkat 50 persen dibandingkan Piala Eropa 2004 di Portugal.

Jumlah uang yang besar itu digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk membiayai turnamen sepak bola dan operasional Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) sebagai badan regulasi sepak bola di Eropa.

Sedangkan jumlah keuntungan yang diperoleh sekitar 700 juta euro (lebih dari Rp 10 triliun). Sebanyak 450 juta euro (lebih dari Rp 6,5 triliun) akan digunakan sebagai pengembangan program dari 53 anggota UEFA.

Sisanya sebesar 250 juta euro (lebih dari Rp 3,6 triliun) digunakan untuk mendanai turnamen remaja dan perempuan selama empat tahun, serta menggaji semua tenaga staf UEFA.

Sementara itu, UEFA menyangkal informasi yang menyebutkan badan regulasi sepak bola Eropa tersebut menolak rencana penyelenggaraan Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina.

William Gallard, Penasihat Presiden UEFA Michel Platini, mengatakan, informasi dari kantor berita Jerman tersebut menyebutkan calon lokasi penyelenggara Piala Eropa akan dipindah dari Polandia dan Ukraina.

"Informasi itu tidak berdasar. Informasi itu disampaikan tanpa diskusi dengan kami dan tidak perlu dipercaya. Selain itu, Polandia dan Ukraina masih punya cukup banyak waktu untuk persiapan," kata William Gallard.

Platini akan kembali mengunjungi kedua negara tersebut- yang secara mengejutkan bisa menyingkirkan calon kuat tuan rumah, yaitu Italia-pada bulan Juli untuk melihat perkembangan atau kemunduran yang dialami Polandia dan Ukraina.

Pada bulan Januari, Platini sudah memberikan peringatan karena lambatnya perkembangan pembangunan infrastruktur untuk mendukung pelaksanaan Piala Eropa 2012.

"Kami akan melihat sejauh apa perkembangannya dalam beberapa bulan setelah Juni," ujar Platini.

Janjikan cepat siap

Sementara itu, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menjanjikan kepada UEFA akan mempercepat persiapan. Sedangkan Presiden Federasi Sepak Bola Ukraina Gregory Surkis mengakui bahwa persiapan untuk menyelenggarakan Piala Eropa 2012 di negaranya sedang mengalami kondisi kritis karena sering melanggar jadwal yang ditetapkan UEFA.

"Kami sudah mengetahui bahwa tak satu pun bandara di Ukraina yang layak dengan standar yang diminta oleh UEFA. Kondisi terakhir jalan-jalan di Ukraina, transportasi umum, dan hotel juga belum memenuhi standar," kata Surkis.

Karena masih banyak hal yang perlu dibenahi, Surkis menyadari kemungkinan terburuk adalah Ukraina gagal ditunjuk sebagai tuan rumah. Apalagi jika di Ukraina masih terus terjadi pelanggaran terhadap undang-undang, perintah presiden, dan petunjuk pemerintah.

"Kami menginginkan perubahan sistem kontrak yang membuat investor kabur dan menghentikan korupsi," kata Surkis.

Sementara itu, Platini juga menyatakan menolak rencana untuk menambah jumlah peserta Piala Eropa 2012 menjadi 24 negara. UEFA sudah memutuskan hal itu bulan Januari 2007 atas permintaan dari Skotlandia yang didukung oleh Irlandia, Latvia, dan Swedia. (AFP/Reuters/WAD)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/07/01294344/raih.13.miliar.euro


Read More...